Thursday, 26 June 2014

Capture 4PA01-2009

Dear, kenangan, tolong sampaikan ke semua orang yang ada di foto ini, gue rindu mereka semua, dalam benak, ucap, ataupun segala tindakan yang pernah diusahakan untuk menghubungkan satu sama lain diantara sekian banyak orang yang hadir dalam kejadian sederhana di (beberapa) foto ini.

















Sekedar mengingatkan, tanpa maksud riya atau mengingat kebaikan, foto-foto ini diambil waktu kita diskusi soal buka bareng di panti asuhan.

Maaf kalau banyak foto yang blur atau banyak temen-temen yang ga ke-foto, ya. Hai, 4 PA 01-2009.

Thursday, 19 June 2014

Jadi Sampah Karena Sampah

Ketika gue ngetik tulisan di blog ini, alasannya adalah: 1) lagi ga ada kerjaan dan bingung mau ngapain, 2) daripada bosen, ya ngetik aja di blog pribadi, 3) alasan 1 dan 2 dipadu padankan. Untuk pemilihan tentang apa yang dibahas ditulisan gue kali ini, muncul karena kegelisahan gue akan hal sepele yang seharusnya mudah dilakukan oleh banyak orang, bahkan seharusnya oleh semua orang, tapi, malah jadi sulit untuk dilakukan. Fenomena ini sering gue liat sehari-hari, dan tanpa harus sok tahu, gue yakin, kalian semua juga ngeliat fenomena ini, buang sampah sembarangan. Ajaibnya, buang sampah sembarangan ini bisa dilakukan siapapun, dari anak yang usianya di bawah 5 tahun, sampai orang tua atau kakek/nenek, pun, bisa. Tentu kalian paham, "ajaib" yang gue maksud di sini adalah sindirian. Untuk anak yang ber-usia di bawah 5 tahun, dia melakukan hal itu kemungkinan karena orang-orang yang ada di lingkungannya juga melakukan hal yang sama, entah keluarga atau orang lain, dan menganggap hal tersebut (buang sampah sembarangan) adalah hal yang teramat biasa dan bukan masalah (untuk kalangan mereka). Sampai akhirnya, hal tersebut jadi masalah di kemudian hari. Gue ga akan sebut apa permasalahannya, karena akan termasuk kategori retoris. Kalian bisa jawab sendiri.

Kebiasaan buang sampah sembarangan ini akan buruk ketika terbawa hingga usia remaja, dewasa, dan seterusnya. Kita semua tahu, masa remaja identik dengan istilah alay, bahkan orang dewasa pun masih ada yang dengan riangnya ada di posisi alay, walaupun sampai saat ini, gue belum tahu kriteria seseorang bisa dikatakan alay bisa dilihat dari hal apa aja. Emang kalian mau, udah dibilang alay, buang sampah sembarangan pula, kan, jadi jelek banget kalau "dikatain" sama temen, "ciee, udah alay, buang sampah sembarangan pula". Jangan-jangan nanti ada kategori, "alay yang buang sampah pada tempatnya" dan "alay yang buang sampah sembarangan". Paling ngga, sejauh ini gue termasuk dalam kategori yang pertama.

Entah apa yang dipikirkan sama orang yang dengan ekspresi ceria dan begitu gampangnya buang sampah sembarangan. Gue selalu mikir berulang kali kalau mau buang sampah sembarangan, ada rasa ga nyaman dan ga enak, (mirip ketika kita lagi mules dan kepengen pup "si ampas" udah di "ujung tanduk", tapi, kita masih belum nemu toilet di mana. Ga enak dan ga nyaman.) sampai akhirnya gue ga jadi buang sampah sembarangn dan lebih memilih untuk nemuin tempat sampah terdekat atau yang sudah tersedia. Kalau memang belum ada, biasanya gue pegang atau dimasukan ke kantong atau tas dulu.

Gue udah beberapa kali menegur, menyindir, atau memarahi orang yang buang sampah sembarangan, sekalipun orang itu adalah nyokap gue sendiri, bahkan pernah ketika ada orang yang buang sampah sembarangan di depan mata gue, gue buang sampah yang dia buang ke tempat sampah yang ada di dekat dia. Bayangin, deh, tempat sampah tersedia gitu, dia masih aja sembarangan buangnya. Kurang goblok apa coba? Semoga kata "goblok" tidak menjadi kasar buat para pembaca tulisan ini. Bagaimana pun, goblok beda dengan bodoh, dan goblok bisa dihilangkan atau dimusnahkan. Kalimat tersebut kutipan dari Pandji Pragiwaksono mengenai perbedaan antara "bodoh" dan "goblok", yang kalimat utuhnya, "Bodoh itu bisa hilang karena pendidikan, sedangkan goblok itu bisa dilakukan orang terdidik. Goblok itu ga ada urusan dengan pendidikan. Itu bodoh. Bodoh bisa hilang dengan pendidikan. Goblok itu (bisa) dilakukan siapapun". Siapapun, bisa jadi gue salah satu dari kata "siapapun" yang ada di quote-nya Pandji, tapi, gue berusaha untuk ga jadi bagian dari orang yang buang sampah sembarangan. Pernah ketika gue lagi jajan sama beberapa teman, dan ga tau mau buang sampah di mana (karena di sekitar situ ga ada tempat sampah), teman gue menyarankan, "tuh, buang di pinggir situ aja", alias sembarangan, dan menurut gue sarannya jauh dari kata brilian. Gue menolak dan memilih untuk memegang sampah (bekas jajanan) sampai nemuin tempat sampah, dan akhirnya nemu. Pengalaman menarik lainnya di waktu gue makan di Domino's Pizza. Gue makan di tempat, ketika itu gue bareng pasangan duduk dan makan di area luar, katakanlah smoking area, ketika itu lagi banyak orang yang makan di Domino's, dan mayoritas yang makan ya orang Indonesia, di antara mereka yang makan, setelah ngabisin pizzanya, ga ada satu pun yang ngebuang kotak pizza ke tempat sampah, yang ngebuang selalu pegawai Domino's-nya, lalu di meja sebelah ada dua orang wisatawan asing, katakanlah "bule", yang lagi cerita, gue dan pasangan sedikit nguping apa yang dibicarain mereka (hehe), sampai akhirnya kedua orang bule itu beres makan, mereka ngeliat kelakuan beberapa orang Indonesia yang setelah makan pizza, kotak pizzanya ga dibuang ke tempat seharusnya --tempat sampah--, setelah itu bule yang satu ngomong ke temennya sambil ngeliatin kotak pizza yang berserakan (dan ga dibuang ke tempatnya), "I don't do that". Gue ngeliat ekspresi ketika dia ngomong, terlihat senyum "nyinyir" dari wajah si bule. Oh, shit. Malu, bro, malu. Di "kandang" sendiri kita malah nunjukin tindakan yang ga perlu. Terlepas dari si bule memang suka buang sampah pada tempatnya atau memang sedang menghargai karena dia sedang "berkunjung", poin positif layak gue kasih ke wisatawan tersebut.

Jika buang sampah sembarangan sesekali itu adalah suatu kesalahan, gue punya quote yang cukup bagus untuk dicerna, "you can never make the same mistake twice, because the second time you make it, it's not a mistake, it's a choice." -unknown-

Jadi, demi kebersihan lingkungan di sekitar kita, apa kita mau membuat dan menjalani pilihan yang goblok?

Wednesday, 18 June 2014

Aji Purnomo, 23 Tahun.

Setiap mahasiswa baru, ga akan tau nantinya siapa orang yang akan terus bareng dari awal masuk sampe selesai kuliah, entah lulus, atau wisuda. Pun dengan gue. Gue ga tau sama sekali nantinya siapa yang akan gue pilih sebagai orang yg gue percaya ketika gue cerita soal apapun, karena realitanya, kita akan memilih seseorang yang kita percaya untuk berbagi cerita.

Awalnya, selama kuliah, gue pikir gue ga akan punya temen bagi cerita sampe lulus, karena sebelumnya, yang gue denger, mahasiswa itu individualis. Ternyata itu cuma gosip. Gue makin ga percaya gosip itu ketika gue masuk ke kelas pertama kali di waktu kuliah. Semuanya normal, kaya waktu SMA. Masih berkelompok. Gue pikir yg berkelompok ini udah saling kenal sebelumnya, nyatanya belum, mereka juga belum saling kenal. Gue langsung duduk begitu gue tiba di kelas. Diem, karena ga tau siapa temen ngobrol yang seru dan "nyambung". Sampe akhirnya gue ketemu si Aji Purnomo. Jujur, sebenernya gue lupa kapan pertama kali gue ngobrol sama dia dan soal apa. Yang gue inget ketika itu, gue bertiga di kelas lagi ngobrolin bola sambil duduk sama Aji dan 1 orang temen, Charlie Alpian namanya (sampe akhirnya kita tau klub favorit masing-masing, Aji fans MU, Charlie fans Barca, dan gue Liverpool). Kita cuma sesekali ceng-cengan soal tim kesayangan kita, entah karena cari aman, saling menghargai, atau emang dirasa kurang penting aja gitu. Hehe. Kita selalu bertiga di tingkat 1.

Cerita mulai melebar, jadi, gue persempit lagi. Entah kapan gue ngerasa klob sama Aji, entah soal obrolan, sharing, dll. Terkesan homo, memang, dan ga sedikit yg bilang begitu, karena di kampus ke mana-mana kita emang selalu berdua. Dari ngobrol, makan, ngerjain tugas kelompok, dll. (Semoga dll-nya ini ga bikin ambigu). Itu cerita di tingkat 1. Ternyata ga berenti di situ, tingkat 2 kita masih satu kelas, otomatis sampe tingkat 4 pun kita akan sekelas, terhitung dari tingkat 2-4, selalu Aji dan gue yg jadi semacem koordinator kelas, atas kepercayaan temen sekelas. Makin jadi aja kesan homonya. Ada cerita lucu tapi aneh ketika Aji ga masuk kuliah, yang biasanya gue ke mana-mana berdua, di waktu itu gue kelimpungan sendiri ga ada temen. Haha. Masih inget sampe sekarang gimana bingungnya gue ketika itu.

Sekarang, kita udah sama-sama lulus. Komunikasi (ga boleh) terputus. Walaupun nyatanya sampe saat ini, kita mulai jarang sms atau whatsapp-an. Wajar, karena kita punya kesibukan saat ini, Aji sibuk bekerja, gue masih sibuk ngincer satu tanda tangan lagi untuk memenuhi revisi skripsi gue. Hehe (Harus terwujud di 27 Juni 2014 ini, karena dosennya sendiri yg menjanjikan hal itu ke gue).

Aji ini orang yg konsisten sama omongannya. Gue masih inget, dia pernah bilang (di tingkat 1), "gue ga akan pacaran dulu sampe gue lulus, terus kerja". Sekarang lo udah kerja, Ji, di samping ada nyokap yang membahagiakan lo, harus segera ada wanita yang selalu ngedukung lo. :D

Gue ga mau mendoakan yang terbaik buat lo, Ji, gue punya beberapa doa yang lebih spesifik:
1) lebih bisa ngejaga dan bahagia-in nyokap,
2) lebih berguna buat orang dan lingkungan sekitar,
3) lebih dilancarkan rezekinya,
4) selalu diberi kemudahan ditiap urusan dan permasalahan, juga pekerjaan,
5) diberi kesehatan untuk segala kegiatan,
6) ketemu sama pasangan hidup yang menyenangkan
7) selalu diberi perlindungan sama Allah,
8) mimpi, rencana, juga goal bikin cafe terlaksana (untuk target, buat target sendiri, ya, Ji. Hehe)

Selamat ulang tanggal lahir, Ji.

Saturday, 12 April 2014

Akhirnya, Menyusul.

Kalimat yang sering diucapkan seseorang atau mungkin banyak orang ketika berhasil melewati sesuatu menurut gue adalah, "akhirnya, ga berasa, ya. Ternyata cepet juga waktu berlalu.", itu ga berlaku buat gue dalam melewati masa kuliah sampai akhirnya gue sidang skripsi. 4,5 tahun itu ga sebentar menurut gue, ditambah lagi, masa kuliah itu berasa banget, bukannya ga berasa. Gue masih inget ketika ospek harus bangun jam 4 subuh dan berangkat dianter sama Bokap juga Nyokap, ketika itu beres ospek sekitar jam 4, di samping itu, gue masih inget gimana Bejong joget-joget gak jelas ketika ospek, sampai akhirnya kelompok kita menang jadi kelompok terheboh, dan dia dikenal sebagai Mahasiswa Baru yang "enerjik", apapun itu, dan gue nyampe rumah sekitar jam 9 malam, karena kereta yang selalu penuh, disamping itu, gue belum terbiasa naik kereta. Gue inget ketika hari pertama kuliah, hari Jumat dan masuk jam 13.30, mata kuliah pertama Kewarganegaraan, mata kuliah kedua Filsafat Umum, pulang jam 17.30. Ga ada satu orang pun yang gue kenal ketika masuk kelas, dan mau ga mau gue harus memberanikan diri untuk berkenalan.

Masuk semester 3, pembagian kelas, di mana kita digabung dengan teman kelas yang baru, dan bertahan sampai semester 8 nanti. Banyak teman yang menyenangkan di sini, ada teman dari kelas sebelumnya juga. Awal masuk kelas, cukup lumrah menurut gue, ketika kita masih dan hanya berteman juga bergabung dengan teman satu permainan yang sama dengan temen sekelas sebelumnya, asal ga keterusan. Ternyata benar, kita semua akhirnya melebur, cuma butuh waktu dan penyesuaian.

Semester 5 gue inget banget waktu kerja kelompok Psikodiagnostik Wawancara dan Observasi, kala itu gue sekelompok sama Aji, Bejong, Danu, Imron, Walid, dan lebih banyak nginep di rumah Bejong juga main PS-nya dibanding kerja kelompoknya. Ada moment bodoh yang selalu gue inget, waktu Imron ngerjain verbatim (mendengarkan hasil wawancara dan mengetik ulang percakapan wawancara), dan dia malah ketiduran di depan laptop sambil dengerin hasil wawancara. Orang macam apa dia. Biasanya orang ketiduran karena musik slow, melow, dia denger percakapan orang aja ketiduran. Semester 6, akhirnya cita-cita gue dari semester 2 kesampaian, jadi Asisten Lab. Gue masih inget waktu gue nunggu interview, dipanggil urutan kedua dari akhir. Gue jadi Asisten Lab sampai semester 9, karena gue ngerasa ketika itu adalah waktu yang tepat buat resign dan memulai kehidupan baru. Ya, walaupun sejujurnya gue masih ingin jadi As-Lab, karena menyenangkan bisa terus berbincang dengan mahasiswa juga dosen yang menyenangkan. Kenangan.

Semester 7-8, gue akui, motivasi gue mulai menurun dalam perkuliahan. Syukurnya, IPK gue tetap terus naik. Motivasi akhirnya bertambah ketika gue 'menemukan seseorang'. Pertengahan semester 8, akhirnya gue mulai ngerjain skripsi. Sempat ada kendala yang ga bisa gue ceritakan di sini, kendala yang menurut gue semua mahasiswa pun ga akan mau berhadapan, tapi, tetap harus dihadapi. Kendala yang gue hadapi akhirnya bisa terlewati, dan diawal tahun 2014, gue memulai perjuangan baru, dan menyelesaikan target yang udah terucap sebelumnya (dan dengan sotoynya) di depan Danu, gue bisa menyelesaikan skripsi dalam waktu tiga bulan, dan akhirnya benar tercapai. Akhirnya gue sidang skripsi tanggal 29 Maret 2014. Artinya, gue berhasil menyusul sahabat-sahabat gue yang lain, termasuk pacar, untuk segera wisuda. Akhirnya, gue berhasil menyusul.

Tanggal 8 April 2014, ada banyak sahabat gue yang mengikuti wisuda, termasuk pacar pastinya. Ga ada kesedihan ketika itu, yang ada cuma canda tawa, karena wisuda terasa seperti pesta setelah sidang skripsi, ya, memang begitu adanya dan rasanya.

Gue berhasil menyusul. Buat teman, sahabat, juga yang baca tulisan ini (khususnya mahasiswa tingkat akhir), segera menyusul, ya.

Temen satu kelas yang sidang skrispi bareng gue, ada Fani (kiri) dan Resya/Echa (kanan).

Sahabat yang dukung gue ketika sidang skripsi, Bejong (kiri), Imron (polo bergaris, gendud), Aji (paling kanan).

Kalau ini, sih, jelas. Ada lovenya gitu. Iya, betul, ini pembantu gue (Ampun, Naz. Peace, love, and gaul). Aku sayang kalian.

Dan Akhirnya, memasuki foto ketika acara wisuda 8 April 2014.
Aji dan Mamanya.

Seto dan para Hidung Besar.

Beberapa temen satu kelas yang wisuda.

Abangnya Naz yang ganteng (kiri), kembarannya abangnya Naz yang sama gantengnya walaupun beda Ibu-Bapak, Pacarnya kembarannya abangnya Naz yang ganteng, temennya kembarannya abangnya Naz yang ganteng.

Seto Wicaksono dan Nazliah Gusmuharti.

Apapun perasaan kalian, gue cuma pengen kalian inget, dan memahami, bagaimana arti sebuah rasa, khususnya rasa di waktu nahan berak ketika ngetik tulisan ini.

Saturday, 8 February 2014

Prakata Sebelum Sidang Skripsi

Gue ngetik dan buat posting ini di jam 08.04, di ruang mushola di kampus Kenari. Hari ini, Sabtu, tanggal 8 Februari 2014. Dengan suatu alasan, di hari sebelumnya (Jumat, 7 Februari 2014), gue nginep di kosan Usber, salah satu sahabat ketika kuliah, yang kelakuannya biadab, dia juga pernah ngekost bareng gue ketika kuliah. Alasan gue numpang nginep sederhana, cuma pengen nemenin seseorang yang akan sidang skripsi keesokan harinya, hari ini. Gue pernah bilang sama seseorang tersebut sebelumnya, dan dari jauh-jauh hari, "kalau kamu bisa sidang di tanggal 8 Februari, keren, ya.. Bisa jadi kado buat aku yang suka sama angka 8". Kejadian. Jadi nyata.

Tanggal 8 Februari 2014, gue bangun jam 4.06, lagi-lagi karena suatu alasan. Gue bukan tipe orang yang rajin bangun pagi, tapi, kali ini harus. Sebelum tidur, gue udah nyalain alarm beruntun, gimana ngga? Gue pasang alarm 3 set, yang pertama 3.50, kedua 3.55, ketiga 4.00. 3 set alarm itu ternyata gue matiin tanpa sadar, keajaiban, gue kebangun jam 4.06. Malemnya gue sempet kebangun sekitar jam 12 dan jam 2 dini hari, itupun karena alasan, gue sedikit gak tenang karena alasan yang positif, menurut gue. Balik lagi ke aktivitas di waktu 4.06. Gue kebangun, panik, dan langsung ke kamar mandi, berak-mandi-gosok gigi. Keluar kamar mandi sekitar 4.25, gue langsung bersiap, bergegas, dan bangunin Usber yang masih tidur. Sekitar 4.45 gue keluar kosan, begitu sampe di teras, pagar masih digembok, ibu kosan masih tidur, mau bangunin, khawatir mengganggu, akhirnya, gue putuskan untuk lompatin pagar. Sekitar 4.57 gue sampe di suatu tempat, di mana gue nunggu seseorang yang akan gue temenin ketika sidang skripsi.

Kita ketemu sekitar 5.09. Dia yang akan sidang keliatan biasa aja, biasanya orang yang akan sidang terlihat gugup, takut, cemas. Ngga dengan dia. Paling ngga, dia bisa press perasaan itu. Kita ke Kenari (Cikini) naik kereta. Selama di perjalan, gue genggam tangannya, berharap makna dari gesture/yang gue lakukan, tersampaikan, "tenang, semua baik-baik aja, kok. Kamu bisa.".

Jam 7.20, akhirnya peserta sidang briefing (sebelum sidang). Di mushola, gue duduk sendiri, denger mp3, sempat twitteran, sambil minum kopi dalam kemasan. Ga masalah, karena dalam beberapa jam ke-depan, gue akan denger kabar baik, dan terharu. Alasannya, karena Nazliah Gusmuharti akan mengikuti wisuda tahun ini, punya gelar sarjana. Lulus. Gue akan menyusul berikutnya. Salah satu alasannya, karena orang yang sama.

Nazliah Gusmuharti, (salah satu) alasan kenapa gue harus segera lulus dengan baik, kenapa hari ini gue nunggu di sini, dan posting moment ini. Gue ingin moment ini terekam dengan baik.

Saturday, 25 January 2014

Untuk Sahabat

Sabtu, 25 Januari 2014. Sekitar jam 4.30, mungkin beberapa temen kampus gue udah bangun, ketika gue masih tertidur. Mereka bersiap, sambil berucap penuh harap dan doa. Mungkin sambil deg-degan juga. Mereka berencana akan meninggalkan kampus lebih dulu, mau 'cuekin' kampus, setelah 4 tahun barter uang dengan ilmu. Selain meninggalkan kampus, entah ini hal buruk atau baik, mereka juga akan meninggalkan sahabat seperjuangan mereka setelah selama kurang lebih 4 tahun berkomplot. Ini bukan suatu tindakan jahat, karena kelak, mahasiswa manapun akan melakukan hal yang sama. Termasuk gue.

Kelak, gue pun akan melakukan hal yang sama, meninggalkan kampus, sahabat, juga segala kenangan yang pernah dijalani selama perkuliahan, cepat, tepat, atau malah sedikit terlambat. 4 taun bareng atau saling kenal itu bukan hal sepele. Di tanggal/hari ini, gue ga merasa iri sedikit pun, yang ada malah haru, liat sahabat meninggalkan sahabatnya lebih dulu. Tunggu, karena gue pun akan melakukan hal itu, kita akan bertemu di suatu waktu tertentu, untuk bercerita tentang masa lalu, juga, untuk maju.

Selamat, sahabat.

Sunday, 19 January 2014

(Belajar) Berpikir Positif

"We make our own luck, we shape our own destiny".
"When it's hard, don't give up, keep fighting".
"Miracles are possible, change tears to courage".

3 quote itu gue dapet dari pemain sepak bola favorit gue, Steven George Gerrard. Ngga, kali ini gue ga akan bercerita tentang dia, paling ngga, gue harap quote itu bisa menginspirasi juga memotivasi kita, khususnya temen-temen kuliah gue yang lagi berhadapan sama suatu tugas akhir. Skripsi. Bukan hal yang menyeramkan, menurut gue, harusnya skripsi jadi bagian yang menyenangkan di agenda akhir perkuliahan. Harusnya. Semoga harapan gue ini akan jadi doa buat semua mahasiswa (bahwa skripsi itu menyenangkan). Bahkan temen gue pernah bilang, "skripsi ga usah diseriusin, entar dia minta kawin". Minta kawin gigi lu. Gue ga akan bercerita permasalahan ketika kita berhadapan dengan skrispi, itu intermezzo aja, biar tulisan gue di blog panjang. Kesel, ga?

Di suatu khutbah jumat, dan kebetulan waktu itu gue lagi dengerin ceramah sang khotib, beliau bilang, "apa yang kita jalani sekarang, apa yg kita impikan, inginkan, berawal dari hati (yakin), dari pemikiran kita, dan dari ucapan". Ah, minta kawin gigi lu. Eh, ini bukan soal kawin, deng. Setelah gue telusuri, ternyata emang benar. Begitu runtutannya. Percaya atau ngga. Gue lebih milih percaya, karena gue beberapa kali mengalami hal ini di hidup gue. Beberapa kali.

Minggu, 19 Januari 2014. Danu, salah satu sahabat di perkuliahan nanyain kabar soal Dosen Pembimbing, dan konsul via whatsapp. Kita sedikit ngobrol, dan akhirnya sampai pada suatu pertanyaan, "udah berak belum, bro?". Ga, deng, itu candaan doang. Setelah ngobrol panjang, Danu ngingetin gue soal berpikir positif dan yakin, betapa hebatnya 2 hal itu. Gue sempet bengong dan mikir, selama ini udah banyak banget hal yang jadi nyata di kehidupan gue, yang berawal dari sekedar ucapan, candaan, yakin, bahkan walaupun cuma sekedar kepikiran. Ya, kepikiran, bukan dipikirin. Hal ini jelas sama ceramah khotib yang ga sengaja gue denger ketika gue ga sengaja solat jumat.

Dari tulisan ini, gue mau coba nginget, apa aja keinginan gue yang jadi nyata, yang asalnya dari ucapan, meyakini dalam hati, juga kepikiran. Ini:
1. Waktu kecil, gue tinggal di suatu perkampungan, lalu dalem hati gue bilang (maaf sebelumnya, tanpa maksud mengecilkan orang-orang (dan/atau) temen-temen yang tinggal di suatu perkampungan), pengen tinggal di perumahan, deh, di komplek. Gue bilang dalem hati ketika gue kelas 2 SD, kelas 4 SD akhirnya gue pindah rumah ke kawasan perumahan.

2. Ketika SMP, gue sekolah di salah satu sekolah swasta di Bogor, dari kelas 1 SMP, baru aja gue masuk SMP, gue langsung bilang dan meyakini dalam hati, "ketika SMA, gue harus masuk SMA 6 Bogor". Percaya atau ngga, akhirnya gue masuk SMA 6 Bogor.

3. Ketika SMA, baru kelas 1 SMA, dan baru aja belajar di SMA, gue punya pemikiran lagi, dan bilang ke temen-temen, "gue mau kuliah di jurusan Psikologi aja, ah". Hal itu terulang, jadi nyata, akhirnya gue masuk jurusan Psikologi, walaupun gue udah diterima di jurusan Manajemen Agribisnis, Diploma IPB, Bogor.

4. Ga bohong, sebagai pria yang cukup tampan, gue ga mau menyia-nyiakan ketampanan gue, gue pengen punya pacar, wanita cantik yang gue sayang. Untuk pacar (pasangan hidup), dari dulu gue selalu ingin nemuin yang lebih tua, bisa manjain gue, bisa diajak kompromi, kalau ngobrol nyambung, asik diajak bercanda juga ngobrol. Selama SMA gue pengen wanita seperti itu (walaupun pada nyatanya, mantan gue sebelumnya, kalau ga seumuran, ya usianya 1 tahun dibawah gue), sampai lulus SMA, gue belum nemu, sampe kuliah semester 7 juga belum nemu, AKHIRNYA, ketika semester 8 gue bertemu dengan wanita yang sesuai dengan apa yang gue mau, yang gue sebut sebelumnya. Nazliah Gusmuharti. Dia cantik. Mungkin ini yg dimaksud Law of Attraction. Orang yang bersih akan mencintai kebersihan. Nazliah cantik, makanya dia pilih gue, pria tampan, sebagai pendampingnya.

5. Di kampus gue, ada praktikum. Setiap praktikum dilakukan di lab, oleh karena itu, ada mahasiswa yang bekerja sebagai AsLab (Asisten Lab), semacem Asisten Dosen. Ketika gue pertama kali ikut praktikum di Lab Psikologi, tepatnya semester 2, gue langsung punya keinginan untuk jadi aslab, gue pikirkan, gue ucap, gue yakini. Yak, semester 6 akhirnya gue diterima jadi aslab.

6. Ketika skripsi, gue sempat menemui hambatan. Lalu gue berucap, juga meyakini (Danu saksinya), "kalau gue bisa konsul 2 minggu sekali, atau 1 minggu sekali, skripsi gue bisa beres dalam waktu 3 bulan". Akhirnya, saat ini, gue diberi jalan untuk membuat hal itu jadi nyata.

7. Dari semester 1 perkuliahan, gue meyakini, ipk akhir gue harus 3,5. Gue diberi kesempatan untuk bikin hal itu jadi nyata, ipk gue sementara 3,4.. tinggal menyelesaikan skripsi, dan semoga gue dapet ipk 3,5. Aamiin.

8. Gue seneng ketika berbisnis. Wirausaha. Gue sempet mikir, gue pengen coba wirausaha, akhirnya jadi nyata, gue sama Nazliah punya wirausaha, kecil-kecilan, kita jualan waffle, pizza-mie, sama kentang saus tomat basil. Semoga jualan ini bisa berlanjut sampe seterusnya. Aamiin.

9. Di awal 2013 kemarin, gue berharap, ketika gue ber-ulang tahun, gue akan dapet kado spesial, yang bikin gue bahagia. Lalu, di bulan April 2013, Liverpool FC mengumumkan soal tournya, salah satu negara yang akan dikunjungi adalah Indonesia. Mereka akan bertanding lawan TimNas tanggal 20 Juli. Waw. Itu tanggal ulang tahun gue, dan Liverpool FC adalah klub favorit gue. Jelas gue bahagia ketika itu, dan gue pun dateng ke GBK untuk nonton pertandingan Indonesia vs Liverpool FC.

Makanya gue bilang ke temen-temen kuliah gue di 01-2009, supaya hubungan kita tetep terjaga, kita akan ketemu terus, bikin sesuatu yang bisa bikin kita kumpul terus. Bikin yayasan sendiri. Bukan mengada-ada, gue cuma ingin hal itu jadi nyata.

Itu yang sejauh ini gue inget, yang asalnya dari sekedar ucapan, yakin, sama kepikiran, akhirnya jadi nyata, dan ada jalan untuk dijadikan nyata. Ga perlu bingung, di sini unik dan serunya. Semoga tulisan dan beberapa cerita gue ini bisa jadi inspirasi buat kita semua, untuk terus berpikir positif dan yakin sama apa yang diinginkan, apa yang dimau. Menurut gue, Tuhan bukan cuma mengabulkan apa yang kita butuhkan, tapi, juga apa yang kita inginkan, selama kita yakin. Ga perlu takut punya keinginan apapun selama hal itu baik. Walaupun baru sekedar ucapan, guyonan, kepikiran, atau apapun itu. Itu semua (Insya Allah) akan jadi doa. Kelak akan terkabul.

NB: sejauh ini, gue sering ngatain Usber (temen kuliah gue yang bedebah) dengan sebutan "Berak", dan Bejong (samanya juga kaya Usber, temen kuliah yang bedebah kelakuannya) sering ngatain gue dengan sebutan "Sempak". Pertanyaannya, apakah Usber akan jadi berak, dan gue akan jadi sempak, karena sering dibilang begitu? :(

Catatan Seorang Perekrut #17 Recruiter yang Insecure dengan Perjalanan Karirnya

Jumat, 14 Juli 2017. Hari yang nggak akan pernah saya lupakan dalam perjalanan karir yang, usianya masih seumur jagung ini. Hari di mana akh...