Sunday, 21 September 2014

Terima Kasih, Nazliah.

Minggu, 21 September 2014. Siang hari ketika gue bingung mau ngapain, sampai akhirnya gue memutuskan untuk menulis artikel ini. Gue ngetik di kamar gue, seperti biasa, ditemenin sama detik dari jam weker Liverpool kesayangan, di kamar yang rencananya akan gue isi dengan banyak marchandise Liverpool FC. Hehe. Pagi tadi gue futsal jam 10.20-11.20, lumayan, olahraga, ngebakar dan mengurangi lemak di perut yang makin menggumpal. Akhirnya gue mandi sekitar pukul 13.40, karena keringetnya bikin badan jadi lengket. Selama gue mandi, entah kenapa gue kepikiran Nazliah. Sebenernya gue kepikiran dia dari seminggu yang lalu, yang gue pikirin itu, "kita ketemu ketika kita sama-sama ngerjain skripsi dan nemuin kesulitan, sampai akhirnya kita saling support dan saling bantu semampu kita, apalagi gue, gue ngerasa banyak dibantu lewat kehadirannya dia. Dia emang spesial". Tuhan memberi gue bantuan lewat perantara Nazliah. Tuhan pun memberi gue motivasi lebih melalui keluarga juga orang di sekitar. Tanpa maksud tidak menghargai yang lain, kali ini yang gue bahas adalah Nazliah.

Gue ngerasa seneng dan bersyukur, Nazliah hadir di waktu yang tepat. Kita sama-sama dari jurusan yang sama, cuma beda angkatan. Dia senior gue di kampus. Dia ada ketika gue butuh motivasi lebih untuk menyelesaikan Tugas Akhir alias skripsi. Gue emang (harus) bisa menyelesaikan skripsi gue sendiri, tapi, dengan adanya Nazliah, gue punya motivasi lebih dan ngerjain skripsi jadi menyenangkan. Gue ga perlu kebingungan cari temen sharing buat skripsi. Udah jadi realita, di saat ngerjain skripsi, temen-temen seperjuangan kita ketika kuliah entah ke mana. Engga, gue ga menyalahkan mereka, karena gue tahu, mereka juga sibuk dengan skripsinya masing-masing. Nazliah yang selalu nemenin dan jadi temen sharing ketika gue membutuhkan hal tersebut. Nazliah selalu nemenin dan ngedukung gue dalam pengerjaan skripsi, sampai akhirnya gue sidang di tanggal 29 Maret 2014. Rasanya berhadapan sama sidang skripsi itu deg-degan campur biasa aja. Ketika pengumuman kelulusan, pun, gue ngerasa biasa aja. Yang luar biasa adalah ketika di jalan pulang sendirian, dan tersadar, gue udah lulus.

Ga berhenti di situ, Nazliah nemenin gue sampai sekarang. Iya, kita "berkomitmen", mengusahakan, dan punya tujuan. Ga perlu diperjelas, kan, apa maksudnya? Hehe. Setelah lulus, kehidupan berasa dimulai dari nol, karena kita masuk ke tahapan awal menjalani kehidupan yang sebenarnya. Begitu kata orang bijak. Saat ini, gue dan Nazliah masih sama-sama berusaha menemukan pekerjaan. Gue amat sangat berharap, 2014 bisa produktif, paling tidak, di sisa 2014 yang tinggal beberapa bulan lagi. Produktif bisa berarti luas, kalau dipersempit, paling tidak mengacu pada berusaha, mengusahakan sesuatu. Dalam hal ini, bisa berusaha menghasilkan uang jajan buat diri sendiri. Sesekali rasanya berat, ketika beberapa teman yang lain sudah bekerja, dan kita masih berusaha. Berat itu bisa jadi ringan, ketika ada seseorang yang menenangkan.

Kalau mengacu sama judul artikel ini, sebenernya kurang berkesinambungan, tapi, kata terima kasih, tetap dan selalu jadi reward buat seseorang, supaya sesuatu yang baik itu bisa selalu dilakukan dan yang menerima (ucapan) akan jadi makin senang untuk melakukan hal tersebut. Terima kasih, Tuhan, Nazliah ada di waktu yang tepat. Terima kasih, Nazliah, kamu selalu ngisi hari aku (karena kadang aku ngerasa, kalau ga ada kamu, beberapa hal akan jadi berat, Di waktu kamu ada, banyak hal yang bisa dicapai).

:)

Wednesday, 10 September 2014

Kicauan Burung

12.58 PM, waktu ketika gue buka notebook ini, pasang modem, dan menyambungnya ke notebook untuk segera menulis di blog ini. Gue bikin tulisan ini di kamar gue, letaknya di lantai 2, ditemani bunyi detik jam weker Liverpool FC kesayangan gue. Sesekali terdengar suara burung yang berkicauan dari luar rumah. Ya, mungkin si burung lagi cari temen ngobrol, karena dia ga mau menikmati cerahnya langit siang ini sendirian. Suasana di rumah siang ini sepi, seperti biasanya, Bokap kerja, Nyokap kerja, Kakak gue sekarang lagi di rumah nenek. Seperti biasa pula, gue enggan untuk nonton acara tv di siang hari, karena itulah tv gue matiin. Hasilnya, di rumah jadi sepi dan hening. Menurut gue itu lebih baik, dibanding gue menyalakan tv, tapi, ga ada satu pun acara yang bikin gue seneng.

10 September 2014, sekitar 5 bulan setelah gue lulus kuliah (gue dinyatakan lulus kuliah setelah mengikuti sidang skripsi pada tanggal 29 Maret 2014), gue masih belum juga bekerja. Di dua-tiga bulan pertama gue memang belum memutuskan untuk mencari pekerjaan, memilih untuk menyelesaikan revisi skripsi dan segala urusan yang menyangkut tentang administrasi perkuliahan terlebih dulu. Hasilnya memang baik, selama sekitar dua bulan revisi skripsi gue dengan tiga dosen penguji selesai, hardcover skripsi selesai, pendaftaran wisuda dan dapet toga pun udah. Gue tinggal mengikuti gladi resik untuk wisuda tanggal 7 Oktober 2014, dan wisuda pada tanggal 19 Oktober 2014. Permasalahan yang harus gue hadapi saat ini (mungkin juga beberapa temen diploma dan sarjana yang lain) adalah tuntutan sosial, di mana setelah lulus dan/atau wisuda, gue mendapat pekerjaan atau bisa menafkahi diri sendiri. Tuntutan sosial (atau lingkungan) menurut gue lebih berat dibanding tuntutan pribadi, karena gue harus siap untuk menghadapi perkataan orang lain, termasuk orang di sekitar gue yang ga terduga. Kalau gue ga siap, gue akan melemah. Gue harus menyiapkan diri untuk itu. Terhitung dari bulan Agustus 2014, gue mulai mencari dan melamar pekerjaan. Sampai saat ini, gue udah tiga kali memenuhi panggilan untuk psikotest dan interview. Belum ada hasil yang memuaskan, memang, tapi, paling tidak, gue bergerak dan ga statis. Mau gimanapun, ini proses, gue sedang menjalani proses sebelum akhirnya gue bekerja kelak dan gue harus menghargai diri gue yang masih dan selalu mau berusaha. Gue memegang kendali atas diri gue, itu kenapa di waktu gue down, melemah dari segi mental, gue ajak ngobrol diri sendiri, maunya apa, harus gimana, dan lain sebagainya. Ya, gue berbicara dengan diri sendiri lewat berpikir dan/atau ngomong sendiri di dalam hati.

Otak gue berasa "gatel", kalau ada temen yang lagi nyinyir tentang temen yang belum dapet pekerjaan, sedangkan mereka sendiri bekerja karena "ditempatkan" oleh orang lain. Ga sepantesnya kita ngejek orang lain yang jelas-jelas sedang berjuang, berusaha buat dapetin apa yang dimau. Kenapa ga didukung? Minimal diajak ngobrol, apa yang dia suka, apa yang dia mau. Itu yang gue lakuin ketika gue belum tau apa permasalahan orang lain. Bukan berarti kepo. Mungkin betul, seseorang emang ga akan ngerti dan ga akan bisa ngerasasin ada di suatu posisi, sampai akhirnya seseorang itu ada di posisi tersebut. Beberapa atau banyak dari temen gue yang masih menganggur sampai sekarang, gue lagi ada di posisi itu. Pertanyaannya, siapa yang mau nganggur dan luntang-lantung? Gue dan banyak temen-temen yang lain yang masih usaha cari pekerjaan dan banyak cara yang ditempuh, lewat internet, datang ke jobfair, cari info ke temen, atau mungkin ada yang sedang merintis usaha pribadi (bisnis, wirausaha). Itu semua pasti menyenangkan. Ga ada yang sia-sia, termasuk usaha kita buat dapetin yang diinginkan.

Lewat tulisan ini, gue menyampaikan keluh, tapi, kita semua harus bikin jaminan sendiri, keluh kita sekarang diganti dengan rezeki yang lebih dimudahkan. Ga apa kita mengeluh, tapi, setelahnya kita harus balik berjuang. Selain itu, gue berharap yang sudah bekerja, bisa mencintai apa yang dikerjakan. Yang belum bekerja, segera menemukan pekerjaan yang diinginkan. :)

Sunday, 27 July 2014

Sentuhan Pertama Di Tanggal 28

Malam ini Takbir berkumandang, bersautan dengan bunyi petasan. Ya, besok lebaran, bertepatan di tanggal 28. Gue duduk sambil menatap notebook ditemani cemilan. Gue ga berniat begadang, tapi, apa sesungguhnya gue belum mengantuk. Di tulisan sebelumnya, udah gue jelaskan, 28 adalah tanggal di mana gue dan Nazliah ketemu untuk pertama kalinya. Walaupun ga melulu dirayakan, tapi, gue selalu ngerasa tanggal ini istimewa di setiap bulannya, sepanjang tahun.

Di tulisan ini, gue berencana mau ngalor-ngidul, nulis tanpa arah, gue cuma mau "melampiaskan" apa yang gue rasain. Curhat. Yang penting ceritain aja. Di mulai dari bulan Juli yang selalu terasa spesial buat gue, karena gue lahir di bulan ini, tanggal 20. Gue boleh sedikit bangga, ga, ketika gue tahu, momen orang yang pertama kali mendarat di bulan itu, terjadi di tanggal 20 Juli? Ya, gue tahu, itu cuma karangan "orang sana" dan masih jadi kontroversi. Lupakan. 20 Juli kemarin gue merayakan ulang tanggal lahir gue. Bahagia? Tentu. Ketika kita merayakan hari jadi dan ada seseorang yang spesial yang menemani, ga ada alasan untuk ga ngerasa bahagia. Di tambah dia mengusahakan sesuatu. Nazliah bawa kue dan kado buat gue. Dia datang ke rumah, masuk ke dalam kamar gue, sambil bawa kue dengan lilin yang menyala, ditambah dia nyanyi "Happy Birthday" buat gue, lagunya memang biasa, tapi, gue suka sama suaranya Nazliah, suaranya bagus, merdu ketika dia menyanyikan "Happy Birthday" buat gue. Gue cuma tersipu malu dibalut bahagia. Di tanggal 20 Juli 2014 pula, dia berani pulang sendiri naik kereta dari Bogor ke Depok. Biasanya dia manja selalu minta ditemenin pulang. Ketika itu gue khawatir, tapi, syukur Nazliah selamat sampai di rumah, walaupun sempat terjebak hujan dan macet. Gue terharu. Berlebihan, tapi, ini sungguhan. Tanggal 21 Juli-nya, kita buka bareng di The Place, Bogor. Pulangnya Nazliah minta dianter, oke, manjanya dia balik lagi, tapi, ga apa. Dia jadi lucu ketika manja. Pulang dari nganter Nazliah, selama jalan ke stasiun Depok Baru, mata gue berkaca-kaca, waktu itu gue ga cerita sama dia, tapi, gue sempat nge-sms bilang terima kasih, gue bahagia dari mulai tanggal 20-21 Juli 2014. Sempurna untuk sebuah perayaan ulang tahun. Bahagia adalah ketika kita tahu kita sedang berjuang untuk seseorang dan seseorang itu sedang dan selalu melakukan usaha dan memperjuangkan hal yang sama.

Balik lagi ke persoalan tanggal 28. Sedikit flashback, gue dan Nazliah dipertemukan ketika kami sedang melakukan kegiatan outbond. Pertama kali gue liat dia, berasa ada yang lain, dada gue seperti tertusuk. Buat orang yang belum pernah merasakan hal ini, akan terasa berlebihan, sampai elo merasakan sendiri apa yang gue rasakan. Ya, diantara keramaian, kebisingan teman-teman, diam-diam gue jatuh cinta sama Nazliah. Di tanggal 28 pula, dengan gerogi yang menggerogoti percaya dirinya gue, gue ditakdirkan untuk satu tim bareng Nazliah ketika itu, dalam satu permainan di outbond tersebut, kami satu tim mau tidak mau harus setengah berpeluk, itu pertama kalinya tangan gue bersentuhan sama pinggulnya Nazliah. Ini bukan soal pornografi, ini soal gue yang makin gerogi ketika itu, karena gue notabenenya sedang jatuh cinta sama Nazliah. Di sentuhan itu, terselip geroginya gue yang gak karuan. Campur aduk, senang dan gak tahu harus gimana dan cerita sama siapa, sampai akhirnya kita mentionan di Twitter sepanjang hari, DM-an, tukeran nomor, Whatsapp-an, kencan pertama, sampai akhirnya kita "Jadian". Dari gue yang selalu seneng dan selalu punya cara bikin lo ketawa juga bahagia.

Selamat tanggal 28, Nazliah.
I love you.

Saturday, 19 July 2014

(PEN)COPET!

Sebelum ngetik artikel yang berjudul (PEN)COPET! ini, gue sampe harus googling dulu, apa arti copet yang sedikit lebih lengkap, walaupun gue yakin, kita semua udah tahu, apa itu copet. Jadi, gini, menurut Wikipedia, Copet adalah bentuk pencurian yang melibatkan mencuri uang atau barang berharga lainnya dari orang korban tanpa membuat mereka mengetahui bahwa barang mereka dicuri pada saat itu. Hal ini membutuhkan ketangkasan yang cukup besar dan bakat. Seorang pencuri yang bekerja dengan cara ini dikenal sebagai pencopet. Begitu lebih kurang pengertiannya.

Kemarin, 18 Juli 2014, bertepatan dengan hari ulang tahun bokap gue, tapi, di hari itu, bertepatan pula sama gue yang nyaris dicopet (ya, walaupun udah beberapa kali berhadapan sama situasi kaya gini, sih), gue pergi ke kampus buat ngambil ijazah, gue berangkat dan pergi naik kereta, seperti biasa. Ketika pulang, gue naik dari stasiun Depok Baru. Setelah sampai dan berdiri di peron (tempat orang menunggu kereta datang), langsung ada pengumuman bahwa kereta yang gue naiki akan segera datang, lalu gue berdiri di dekat garis kuning pembatas, tanda aman untuk berpijak para penumpang yang akan naik kereta. Seperti biasa, kereta penuh sesak di jam pulang kantor, entah yang turun, atau yang naik. Nah, di sini si pencopet beraksi. Di waktu gue mau masuk ke dalam kereta, ada 2 orang yang masuk dengan cara menghimpit gue, awalnya gue biasa aja, karena maklum, namanya juga di kereta, berdesakan itu biasa, tapi, lama-lama gue makin ngerasa aneh, karena sedikit demi sedikit resleting tas gue yang di depan (yang berkantong kecil) terbuka. Keajaiban, gue selalu membiasakan diri untuk menaruh tas di depan ketika di kereta, dan menjaga setiap resleting, dengan tujuan, kalau resleting terbuka, gue masih bisa merasakan dan tahu ada apa. Hal itu akhirya "bekerja", kemarin gue tahu, gue akan dicopet. Sebelumnya, gue main hape ketika berdiri di peron. Modus si pencopet klasik, menghimpit gue dan membuka resleting tas gue secara perlahan, sial bagi si pencopet, karena tangan gue sudah sigap di bagian resleting tas. Awalnya si pencopet masih berusaha membuka resleting tas gue, namun setelah gue tutup lagi si resleting tas dengan tangan gue, dia akhirnya melewati gue dan mengincar penumpang lain. Kenapa gue tahu? Karena gue mencoba mengobservasi modus dan cara mereka. Gue liat dengan mata kepala sendiri, dia beraksi lagi di depan gue, merogok kantong, entah dia dapat sesuatu atau ngga, yang jelas, gue seperti melihat dia mengoper suatu barang hasil dari merogok kantong orang lain ke komplotannya, sayang, gue ga yakin dia dapet atau ngga. Di satu sisi, mungkin gue jahat, membiarkan orang lain jadi korban, gue ga berani berteriak, karena gue merasa kurang bukti, gue butuh bukti untuk menegaskan bahwa mereka pencopet. Gue ga bisa asal teriak "copet", di waktu gue kurang atau ga punya bukti. Sial. Dalam kejadian ini, Alhamdulillah, gue selalu dilindungi Allah, dan seringkali diingatkan untuk mawas dan menjaga diri dari hal demikian.

Bukannya mau sotoy atau sok mau ngasih tips, tapi, karena udah beberapa kali berhadapan sama kejadian macem ini, gue mau ngasih tips berdasarkan apa yang pernah gue alami. Jadi, gini, tips bepergian dan aman dari pencopet versi gue:
1) Ke manapun kita pergi, selalu berdoa. Minta perlindungan sama Tuhan, lindungi kita dari orang (yang berniat) jahat di manapun, kapanpun,
2) Ga boleh pede walaupun tempat atau kendaraan umum yang lo pijak aman dan nyaman, se-aman dan senyaman apapun tempatnya, lo harus tetap mawas dan jaga diri, jaga barang yang lo bawa pastinya,
3) Sigap dengan barang yang lo bawa atau barang yang ada di sekitar lo, termasuk apa yang lo pakai,
4) Ga boleh mencla-mencle ketika berada di tempat umum atau kendaraan umum, fokus jadi pilihan yang lebih baik, liat keadaan sekitar,
5) Latih feeling lo terhadap getaran sekecil apapun ketika berada di tempat umum atau kendaraan umum, karena sesempurna apapun aksi si pencopet, pasti ada celah dan kemungkinan gagalnya, biasanya disebabkan karena aksi mereka kurang mulus, karena getaran itu tadi. Bisa jadi ketika buka resleting tas atau ketika merogok kantong.

Sekian aja info dari gue, gue harap bermanfaat, karena pencopet bisa ada di mana-mana. Pencopet mungkin pintar, tapi, mereka ga boleh lebih pintar dan ga boleh lebih cerdas dari kita (yang bukan pencopet).

Thursday, 26 June 2014

Capture 4PA01-2009

Dear, kenangan, tolong sampaikan ke semua orang yang ada di foto ini, gue rindu mereka semua, dalam benak, ucap, ataupun segala tindakan yang pernah diusahakan untuk menghubungkan satu sama lain diantara sekian banyak orang yang hadir dalam kejadian sederhana di (beberapa) foto ini.

















Sekedar mengingatkan, tanpa maksud riya atau mengingat kebaikan, foto-foto ini diambil waktu kita diskusi soal buka bareng di panti asuhan.

Maaf kalau banyak foto yang blur atau banyak temen-temen yang ga ke-foto, ya. Hai, 4 PA 01-2009.

Thursday, 19 June 2014

Jadi Sampah Karena Sampah

Ketika gue ngetik tulisan di blog ini, alasannya adalah: 1) lagi ga ada kerjaan dan bingung mau ngapain, 2) daripada bosen, ya ngetik aja di blog pribadi, 3) alasan 1 dan 2 dipadu padankan. Untuk pemilihan tentang apa yang dibahas ditulisan gue kali ini, muncul karena kegelisahan gue akan hal sepele yang seharusnya mudah dilakukan oleh banyak orang, bahkan seharusnya oleh semua orang, tapi, malah jadi sulit untuk dilakukan. Fenomena ini sering gue liat sehari-hari, dan tanpa harus sok tahu, gue yakin, kalian semua juga ngeliat fenomena ini, buang sampah sembarangan. Ajaibnya, buang sampah sembarangan ini bisa dilakukan siapapun, dari anak yang usianya di bawah 5 tahun, sampai orang tua atau kakek/nenek, pun, bisa. Tentu kalian paham, "ajaib" yang gue maksud di sini adalah sindirian. Untuk anak yang ber-usia di bawah 5 tahun, dia melakukan hal itu kemungkinan karena orang-orang yang ada di lingkungannya juga melakukan hal yang sama, entah keluarga atau orang lain, dan menganggap hal tersebut (buang sampah sembarangan) adalah hal yang teramat biasa dan bukan masalah (untuk kalangan mereka). Sampai akhirnya, hal tersebut jadi masalah di kemudian hari. Gue ga akan sebut apa permasalahannya, karena akan termasuk kategori retoris. Kalian bisa jawab sendiri.

Kebiasaan buang sampah sembarangan ini akan buruk ketika terbawa hingga usia remaja, dewasa, dan seterusnya. Kita semua tahu, masa remaja identik dengan istilah alay, bahkan orang dewasa pun masih ada yang dengan riangnya ada di posisi alay, walaupun sampai saat ini, gue belum tahu kriteria seseorang bisa dikatakan alay bisa dilihat dari hal apa aja. Emang kalian mau, udah dibilang alay, buang sampah sembarangan pula, kan, jadi jelek banget kalau "dikatain" sama temen, "ciee, udah alay, buang sampah sembarangan pula". Jangan-jangan nanti ada kategori, "alay yang buang sampah pada tempatnya" dan "alay yang buang sampah sembarangan". Paling ngga, sejauh ini gue termasuk dalam kategori yang pertama.

Entah apa yang dipikirkan sama orang yang dengan ekspresi ceria dan begitu gampangnya buang sampah sembarangan. Gue selalu mikir berulang kali kalau mau buang sampah sembarangan, ada rasa ga nyaman dan ga enak, (mirip ketika kita lagi mules dan kepengen pup "si ampas" udah di "ujung tanduk", tapi, kita masih belum nemu toilet di mana. Ga enak dan ga nyaman.) sampai akhirnya gue ga jadi buang sampah sembarangn dan lebih memilih untuk nemuin tempat sampah terdekat atau yang sudah tersedia. Kalau memang belum ada, biasanya gue pegang atau dimasukan ke kantong atau tas dulu.

Gue udah beberapa kali menegur, menyindir, atau memarahi orang yang buang sampah sembarangan, sekalipun orang itu adalah nyokap gue sendiri, bahkan pernah ketika ada orang yang buang sampah sembarangan di depan mata gue, gue buang sampah yang dia buang ke tempat sampah yang ada di dekat dia. Bayangin, deh, tempat sampah tersedia gitu, dia masih aja sembarangan buangnya. Kurang goblok apa coba? Semoga kata "goblok" tidak menjadi kasar buat para pembaca tulisan ini. Bagaimana pun, goblok beda dengan bodoh, dan goblok bisa dihilangkan atau dimusnahkan. Kalimat tersebut kutipan dari Pandji Pragiwaksono mengenai perbedaan antara "bodoh" dan "goblok", yang kalimat utuhnya, "Bodoh itu bisa hilang karena pendidikan, sedangkan goblok itu bisa dilakukan orang terdidik. Goblok itu ga ada urusan dengan pendidikan. Itu bodoh. Bodoh bisa hilang dengan pendidikan. Goblok itu (bisa) dilakukan siapapun". Siapapun, bisa jadi gue salah satu dari kata "siapapun" yang ada di quote-nya Pandji, tapi, gue berusaha untuk ga jadi bagian dari orang yang buang sampah sembarangan. Pernah ketika gue lagi jajan sama beberapa teman, dan ga tau mau buang sampah di mana (karena di sekitar situ ga ada tempat sampah), teman gue menyarankan, "tuh, buang di pinggir situ aja", alias sembarangan, dan menurut gue sarannya jauh dari kata brilian. Gue menolak dan memilih untuk memegang sampah (bekas jajanan) sampai nemuin tempat sampah, dan akhirnya nemu. Pengalaman menarik lainnya di waktu gue makan di Domino's Pizza. Gue makan di tempat, ketika itu gue bareng pasangan duduk dan makan di area luar, katakanlah smoking area, ketika itu lagi banyak orang yang makan di Domino's, dan mayoritas yang makan ya orang Indonesia, di antara mereka yang makan, setelah ngabisin pizzanya, ga ada satu pun yang ngebuang kotak pizza ke tempat sampah, yang ngebuang selalu pegawai Domino's-nya, lalu di meja sebelah ada dua orang wisatawan asing, katakanlah "bule", yang lagi cerita, gue dan pasangan sedikit nguping apa yang dibicarain mereka (hehe), sampai akhirnya kedua orang bule itu beres makan, mereka ngeliat kelakuan beberapa orang Indonesia yang setelah makan pizza, kotak pizzanya ga dibuang ke tempat seharusnya --tempat sampah--, setelah itu bule yang satu ngomong ke temennya sambil ngeliatin kotak pizza yang berserakan (dan ga dibuang ke tempatnya), "I don't do that". Gue ngeliat ekspresi ketika dia ngomong, terlihat senyum "nyinyir" dari wajah si bule. Oh, shit. Malu, bro, malu. Di "kandang" sendiri kita malah nunjukin tindakan yang ga perlu. Terlepas dari si bule memang suka buang sampah pada tempatnya atau memang sedang menghargai karena dia sedang "berkunjung", poin positif layak gue kasih ke wisatawan tersebut.

Jika buang sampah sembarangan sesekali itu adalah suatu kesalahan, gue punya quote yang cukup bagus untuk dicerna, "you can never make the same mistake twice, because the second time you make it, it's not a mistake, it's a choice." -unknown-

Jadi, demi kebersihan lingkungan di sekitar kita, apa kita mau membuat dan menjalani pilihan yang goblok?

Wednesday, 18 June 2014

Aji Purnomo, 23 Tahun.

Setiap mahasiswa baru, ga akan tau nantinya siapa orang yang akan terus bareng dari awal masuk sampe selesai kuliah, entah lulus, atau wisuda. Pun dengan gue. Gue ga tau sama sekali nantinya siapa yang akan gue pilih sebagai orang yg gue percaya ketika gue cerita soal apapun, karena realitanya, kita akan memilih seseorang yang kita percaya untuk berbagi cerita.

Awalnya, selama kuliah, gue pikir gue ga akan punya temen bagi cerita sampe lulus, karena sebelumnya, yang gue denger, mahasiswa itu individualis. Ternyata itu cuma gosip. Gue makin ga percaya gosip itu ketika gue masuk ke kelas pertama kali di waktu kuliah. Semuanya normal, kaya waktu SMA. Masih berkelompok. Gue pikir yg berkelompok ini udah saling kenal sebelumnya, nyatanya belum, mereka juga belum saling kenal. Gue langsung duduk begitu gue tiba di kelas. Diem, karena ga tau siapa temen ngobrol yang seru dan "nyambung". Sampe akhirnya gue ketemu si Aji Purnomo. Jujur, sebenernya gue lupa kapan pertama kali gue ngobrol sama dia dan soal apa. Yang gue inget ketika itu, gue bertiga di kelas lagi ngobrolin bola sambil duduk sama Aji dan 1 orang temen, Charlie Alpian namanya (sampe akhirnya kita tau klub favorit masing-masing, Aji fans MU, Charlie fans Barca, dan gue Liverpool). Kita cuma sesekali ceng-cengan soal tim kesayangan kita, entah karena cari aman, saling menghargai, atau emang dirasa kurang penting aja gitu. Hehe. Kita selalu bertiga di tingkat 1.

Cerita mulai melebar, jadi, gue persempit lagi. Entah kapan gue ngerasa klob sama Aji, entah soal obrolan, sharing, dll. Terkesan homo, memang, dan ga sedikit yg bilang begitu, karena di kampus ke mana-mana kita emang selalu berdua. Dari ngobrol, makan, ngerjain tugas kelompok, dll. (Semoga dll-nya ini ga bikin ambigu). Itu cerita di tingkat 1. Ternyata ga berenti di situ, tingkat 2 kita masih satu kelas, otomatis sampe tingkat 4 pun kita akan sekelas, terhitung dari tingkat 2-4, selalu Aji dan gue yg jadi semacem koordinator kelas, atas kepercayaan temen sekelas. Makin jadi aja kesan homonya. Ada cerita lucu tapi aneh ketika Aji ga masuk kuliah, yang biasanya gue ke mana-mana berdua, di waktu itu gue kelimpungan sendiri ga ada temen. Haha. Masih inget sampe sekarang gimana bingungnya gue ketika itu.

Sekarang, kita udah sama-sama lulus. Komunikasi (ga boleh) terputus. Walaupun nyatanya sampe saat ini, kita mulai jarang sms atau whatsapp-an. Wajar, karena kita punya kesibukan saat ini, Aji sibuk bekerja, gue masih sibuk ngincer satu tanda tangan lagi untuk memenuhi revisi skripsi gue. Hehe (Harus terwujud di 27 Juni 2014 ini, karena dosennya sendiri yg menjanjikan hal itu ke gue).

Aji ini orang yg konsisten sama omongannya. Gue masih inget, dia pernah bilang (di tingkat 1), "gue ga akan pacaran dulu sampe gue lulus, terus kerja". Sekarang lo udah kerja, Ji, di samping ada nyokap yang membahagiakan lo, harus segera ada wanita yang selalu ngedukung lo. :D

Gue ga mau mendoakan yang terbaik buat lo, Ji, gue punya beberapa doa yang lebih spesifik:
1) lebih bisa ngejaga dan bahagia-in nyokap,
2) lebih berguna buat orang dan lingkungan sekitar,
3) lebih dilancarkan rezekinya,
4) selalu diberi kemudahan ditiap urusan dan permasalahan, juga pekerjaan,
5) diberi kesehatan untuk segala kegiatan,
6) ketemu sama pasangan hidup yang menyenangkan
7) selalu diberi perlindungan sama Allah,
8) mimpi, rencana, juga goal bikin cafe terlaksana (untuk target, buat target sendiri, ya, Ji. Hehe)

Selamat ulang tanggal lahir, Ji.

Catatan Seorang Perekrut #17 Recruiter yang Insecure dengan Perjalanan Karirnya

Jumat, 14 Juli 2017. Hari yang nggak akan pernah saya lupakan dalam perjalanan karir yang, usianya masih seumur jagung ini. Hari di mana akh...