Monday, 23 July 2012

Selamat Berpuasa bagi yang melaksanakan! :D

Di bulan Ramadhan: Baru sahur » (҂˘̀^˘́)9 | siang hari » (҂'̀⌣'́)9 | jam 5 sore » -____-9

Saturday, 10 March 2012

Impian Gue....

Perjalanan Impian Gue

Semua orang di dunia ini pasti punya impian. Dan gue adalah salah satunya. Ada orang yang berani mewujudkan mimpi mereka, ada yang membatasi mimpi mereka dengan cara mengekang pikiran mereka sendiri, dan ada yang menjadikan ketidak mampuan sebagai alasan untuk tidak mewujudkan impian mereka. Ketidak mampuan bisa dijabarkan dalam beberapa hal, diantaranya ketidak mampuan dalam segi materi, fisik (karena cacat, dsb.), dan karena tidak adanya dukungan eksternal. Karena beberapa alasan itulah seseorang bisa kehilangan percaya diri dalam mengejar impian. Sangat diguengkan, tentunya.

Hidup adalah pilihan. Menurut gue, begitu pula dengan impian. Pasti ada banyak orang yang memiliki banyak impian, pun dengan gue. Impian gue sewaktu gue masih duduk di Sekolah Dasar adalah menjadi pemain sepak bola, dan bermain untuk Tim Nasional Indonesia kelak. Usaha dalam mewujudkan impian itu adalah dengan bermain bola tentunya, mengikuti kegiatan ekstrakurikuler sepak bola di SD, dan ikut berlatih bersama tim kecil yang ada di lingkungan tempat gue tinggal. Tim itu bernama SPY (Satria Putra Yunior), ketika itu, posisi gue adalah sebagai penjaga gawang. J beberapa pertandingan pun sempat gue ikuti, meskipun beberapa kali menderita kekalahan.

Beranjak menjadi murid SMP, atau di waktu itu lebih di kenal dengan sebutan SLTP (Sekolah Lanjut Tingkat Pertama), impian gue pun berganti dengan tidak menghilangkan impian sebelumnya. Menjadi Musisi. Ya, itulah impian gue, sewaktu gue duduk di SMP. Sewaktu gue duduk di SD, gue pernah belajar memainkan alat musik, yaitu suling. Gue rasa itu adalah alat musik yang anak SD pasti mainkan di beberapa Sekolah Dasar. Di SMP, gue belajar memainkan gitar. Gue minta diajari Om ketika itu, ya sekedar kunci dasar, dan setelah itu gue coba belajar otodidak, dengan membeli buku musik. Setelah hampir satu tahun belajar gitar, bisa dibilang gue tidak mengalami kemajuan yang berarti. Gue mulai mencoba alat musik lain, dan gue mencoba untuk bermain drum. Awal mula gue bermain drum adalah suatu hal yang tidak disengaja. Ketika gue SMP, gue dan teman-teman membentuk sebuah grup band, band asal-asalan tentunya, karena waktu itu hanya iseng, sekedar mengisi waktu luang. Ketika itu gue masih bermain gitar, sampai pada akhirnya, ketika kita latihan di suatu studio, tidak ada yang ingin bermain drum. Secara spontan, teman gue menunjuk gue untuk bermain drum. Gue tidak bisa mneolak, dan segera duduk di kursi drum. Jelas gue belum bisa apa-apa, dan bermain drum sebisanya. Tapi, dari situ ketertarikan gue akan drum bertambah. Setiap kali latihan di studio, gue terus mencoba bermain drum, sampai akhirnya bisa karena terbiasa, tidak jago tentunya, hanya dengan skill yang biasa saja. Dari situ, impian gue adalah menjadi seorang Drummer terkenal mulai terbentuk. J

Untuk mewujudkan impian sebagai Drummer, gue minta kepada Ibu untuk dibelikan drum. Gue senang, karena ketika itu, Ibu segera membelikan gue drum-set. Gue semakin semangat dalam bermain drum, tapi belum puas. Segera setelah itu, gue meminta kepada Orang Tua gue, agar gue bisa mengikuti drum-course, agar skill gue dalam bermain drum bertambah. Dan hal itu segera diwujudkan oleh Orang Tua gue. Gue semakin semangat menjadi seorang Drummer. J

Sebagai seorang Drummer, tentu harus memiliki “jam terbang manggung”. Diwaktu itu, Om gue selalu mengajak gue untuk mengikuti beberapa festival band. Gue setuju, dan akhirnya kami berada dalam satu panggung, memainkan lagu yang sudah kami pilih, atau yang sudah ditentukan oleh panitia. Itu adalah pengalaman yang mengasyikan, dan masih terekam dalam ingatan. J

SMA, gue masih nge-band dengan teman-teman yang lain, sampai akhirnya, entah ini ide, wejangan, wangsit, atau apapun namanya, datang darimana, entah kenapa, gue bercita-cita ingin kuliah di jurusan Psikologi. Ya, kuliah di jurusan Psikologi. Waktu itu, gue sendiri masih duduk di kelas 1 SMA. Entah apa yang gue pikirkan ketika itu, karena gue sendiri belum tahu, apa saja yang di pelajari dalam Psikologi. Walaupun belum tahu apa saja yang dipelajari dalam Psikologi, tapi gue selalu bangga ketika siapapun yang bertanya, “nanti kuliah mau masuk jurusan apa?” dan dengan rasa percaya diri, dan senyum yang cukup lebar, gue menjawab, “Psikologi” J Karena ketika itu gue masih SMA, gue simpan impian untuk belajar Psikologi, sampai nanti waktunya tiba, ketika gue kuliah nanti. Lambat laun, karena jadwal sekolah yang semakin padat, gue semakin jarang nge-band dan bermain drum tentunya, kursus drum pun terhenti, setelah setahun lebih gue kursus. Impian gue sebagai Drummer, gue rasa tertunda, tapi gue belum mengubur impian itu.

Lulus SMA, gue pun bersiap memilih jurusan dalam perkuliahan yang sesuai dengan minat gue, dan minat gue adalah belajar Psikologi J sebelumnya, gue sudah mencoba ikut PMDK (Penelusuran Minat dan Kemampuan) di suatu Institut yang berada di Bogor. Ketika itu gue diterima, dan tidak bisa dipungkiri, gue merasa senang, orang tua gue pun ikut senang. Dari sini, permasalahan mulai nampak. Ayah gue sebenarnya bingung, mengapa gue memilih jurusan Psikologi, dan jelas tidak setuju jika gue memilih jurusan Psikologi. Mungkin pada waktu itu, adalah kali pertama gue dalam belajar “memilih dan menentukan masa depan”. Ketika gue diterima PMDK di suatu Institut di Bogor, dengan segera gue sms orang tua gue, Ibu membebaskan gue dalam memilih jurusan perkuliahan, tapi tidak dengan Ayah, karena beliau tetap menginginkan gue memilih Institut yang bertempat di Bogor. Gue memikirkan jurusan yang gue pilih dengan hati-hati, dan tidak “sembrono”. Akhirnya, gue memutuskan untuk memilih apa yang gue minati, apa yang gue impikan sedari 1 SMA, untuk belajar Psikologi. Menolak permintaan Ayah, untuk masa depan kita, tidak durhaka, kan? =p

Kini, gue sedang menjalani apa yang gue impikan, ya, belajar Psikologi, dengan teman-teman, dosen, dan lingkungan belajar yang cukup menyenangkan, di Universitas Gunadarma J perjalanan gue belum berakhir, karena gue ingin terus membuktikan kepada Ayah, yang gue pilih, bukanlah hal yang sia-sia, yang gue pilih, adalah hal yang gue yakini untuk masa depan gue, passion gue dalam bidang akademik, bukan berarti gue “mengecilkan” jurusan atau ilmu lain. Itu adalah beberapa alasan gue, mengapa gue memilih dan belajar Psikologi. Masih banyak yang belum gue tahu tentang Psikologi, karena itu, gue masih merasa, mempelajari Psikologi hingga saat ini adalah suatu impian, sekaligus usaha dalam mendapatkan impian gue. J

Ada impian baru, ketika gue belajar Psikologi Pendidikan di semester 2, yakni, member kontribusi di dunia pendidikan, terutama dalam hal pembelajaran dan gaya belajar murid. J gue ingin tiap sekolah memberi kebebasan kepada siswanya, untuk menentukan dan menjalani gaya belajar yang mereka suka, ya, gue rasa, selama ini sekolah seringkali memaksakan gaya belajar yang sama pada semua murid, padahal, kecerdasan dan minat setiap siswa kan berbeda, ditambah lagi, tidak ada siswa yang bodoh, karena gue yakin, setiap siswa memiliki kecerdasan di bidang masing-masing J mungkin di beberapa sekolah sudah diterapkan hal seperti itu, gue berharap tidak di “beberapa” saja, kalau bisa, menyeluruh. Gue tahu itu adalah hal yang cukup sulit, tapi gue yakin, pasti bisa J usaha yang gue lakukan saat ini adalah berharap, berdoa, dan berusaha tentunya, belajar, dan sedikit memperhatikan gaya belajar teman-teman gue di kelas. Gue tahu itu hanya usaha kecil, tapi gue tidak akan berhenti bermimpi, berharap, berdoa, dan berusaha untuk hasil yang tidak kecil. J

Ada banyak impian gue saat ini, seperti bergerak di bidang/kegiatan sosial, mendirikan panti asuhan/jompo, mendirikan rumah makan dengan teman (berbisnis), menjadi penulis, berguna untuk lingkungan sekitar. Itu yang ada dalam pikiran gue saat ini, selebihnya, belum terpikirkan, atau tidak gue cantumkan. =p

Di awal cerita, gue sempat berkata, “Hidup adalah pilihan. Menurut gue, begitu pula dengan impian”. Ya, itulah yang gue rasakan, dan gue jalani. Gue telah memilih impian gue, dengan tidak menghilangkan impian gue sebelumnya, dan dengan tidak mengabaikan impian gue di masa depan, impian yang mungkin belum terpikirkan. Gue telah menentukan impian gue. Bermain bola dan drum, saat ini menjadi hobi, dan menjadi aktivitas di waktu senggang gue, karena gue tidak ingin melupakan, juga menghilangkan impian gue di masa lalu, karena impian itulah yang membawa gue kepada impian dan hal baru J

Friday, 13 January 2012

8:20



DELAPAN. Yak! Angka yang gue suka, sedari gue kecil, dari gue SD tepatnya. Gak tau kenapa, yang jelas gue suka banget sama angka 8 ini. Bahkan, waktu gue SD, kalau dapet nilai, gue lebih suka dapet nilai 8 dibanding 9, atau 10. Memang aneh, tapi itu faktanya. :) sama kaya phobia, tapi ini bukan phobia, irasional. Banayak orang yang ngira, tanggal lahir gue itu 8, makanya gue suka banget sama angka 8. Maaf, tapi itu salah, banget. :) Tanggal lahir gue itu 20, dan bulan lahir gue adalah Juli. Gak ada sangkut pautnya sama angka kelahiran gue pokoknya. Gue pun gak tau dan gak bisa jelasin, kenapa gue tergila-gila sama angka 8..

Gue salah satu fans kapten Liverpool saat ini, ya, Steven Gerrard. Nomor Punggung dia 8, banyak orang yang ngira juga, mungkin karena gue suka Steven Gerrad, makanya gue suka nomor 8. Gini, dulu Gerrard muda itu nomor punggungnya 28, terus dia sempet pake kostum nomor 17 di Liverpool, sampe akhirnya dia pake nomor 8, nomor yang paling Gerrard suka. Memang ada hubungannya, tapi itu gak menjelaskan secara keseluruhan, kenapa gue suka banget sama angka 8.

Entah ini simptom atau sindrom apa, yang jelas, 8 itu angka yang paling gue suka! :D

Saturday, 31 December 2011

Katanya Sih Resolusi..

Hari ini tanggal 31 Desember, kebetulan bertepatan dengan hari sabtu, ya malem minggu untuk mereka yang punya pacar, dan sabtu malam untuk mereka yang masih aja jomblo, alias sendiri, alias belum punya pacar. Begitu katanya. Tapi ga perlu bahas tentang pacar atau jomblo, itu sensitif banget, karena gue yang ngetik postingan ini pun sampe saat ini masih menyebut hari sabtu dengan "sabtu malam".. Suram.

Hari ini tanggal 31 Desember 2011, yang artinya, besok tanggal 1 Januari 2012, besoknya lagi tanggal 2 Januari, lusanya tanggal 4 Januari, dan seminggu kemudian tanggal 11 Januari. Oke, itu semua ga ada hubungannya sama apa yang gue posting, gue cuma mau ngetes kemampuan nalar gue, gue khawatir kemampuan nalar gue berkurang akibat istilah "sabtu malam" yang tetep gue pake sampe sekarang.. Lagi-lagi suram.

31 Desember atau akhir tahun itu identik sama kata RESOLUSI, ejaannya R-E-S-O-L-U-S-I. Yang kalo diterjemahkan itu, kurang lebih artinya gini: RE: KEMBALI, SOL: SERVICE SEPATU, USI: REMAJA BERUSIA 15 TAHUN. Jadi, RESOLUSI adalah USI YANG KEMBALI MENYERVICE SEPATU-NYA DI AKHIR TAHUN. Entahlah.. Itu garing banget, gue aja sampe kesel waktu gue nemuin ide apa arti resolusi itu. Tapi karena terlanjur gue ketik, dan cukup panjang, mubazir juga kalo harus didelete lagi..

Oke, sekarang kita serius.. Jujur, gue adalah orang yang bisa dibilang gak pernah nyiapin resolusi di akhir tahun, atau di tiap tahun. Karena gue beranggapan, itu bakalan jadi sesuatu yang gak berguna, ketika gue ngumbar resolusi gue ke orang-orang, apalagi di jejaring sosial, atau status bbm, facebook, dan semacemnya, tapi gue sendiri gak niat buat ngejalanin beberapa resolusi yang gue sebut. Gue lebih milih pikirin apa yang harus dilakuin, dan lakuin yang terbaik buat beberapa tujuan yang udah gue pilih. Ini standard banget sih, tapi itulah jalan yang gue pilih, dibanding harus "banyak omong". Ada pengecualian ketika resolusi itu dibuat "celetukan" atau "komedi", karena itu menghibur. :)

Diatmbah lagi, gue bukan orang yang "menghebohkan" tahun baru.. Karena gue ngerasa, percuma ngerayain tahun baru, tapi pemikiran gak baru, percuma ngerayain tahun baru, tapi tindakan gak ikut baru, percuma ngerayain tahun baru, tapi pacar masih yang lama.. Oke, sebaiknya itu ga usah dianggap serius.

Inilah postingan saya pada hari ini, jika kurang, mohon ditambahkan, jika lebih, tolong dikembaliin kembaliannya. Ada pertanyaan?

Friday, 30 December 2011

MENUNGGU

Gue tau, nunggu itu buat sebagian, beberapa, atau mungkin banyak orang, salah satu hal yang bikin bete, kesel, bikin orang galau sambil kayang setengah jongkok, dan mules. Gue juga ngerasain hal yang sama, ketika gue lagi nunggu sesuatu, atau bahkan seseorang. Berarti gue sebagian, beberapa, atau mungkin banyak orang yang dimaksud di kalimat gue yang pertama.

Nunggu15-30 menit aja udah bikin bete dan mules, gimana kalo nunggu sampe 1 jam, 3 jam, 24 jam, 74 jam, 56,3 jam, atau 97,55 jam coba? Kalo elo ga lagi males berimajinasi, coba bayangin deh, gimana rasanya nunggu sesuatu atau seseorang segitu lamanya.. Bakalan berapa lama coba mereka bete? Bakalan berapa lama coba mereka nahan mules?

Tapi elo ga usah khawatir, cemas, apalagi panik. Kalo kata orang yang bijak kaya Ultraman atau Power Rangers.. Eh, ngga deng, mereka ga bijak, soalnya kalo nyelametin orang, datengnya telat mulu, suka banyak gedung-gedung yang ancur duluan, baru deh mereka dateng. Bayangin deh, berapa banyak duit yang harus negara/pemerintah keluarin, buat bangun gedung-gedung yang ancur itu, cuma karena Ultraman dan Power Rangers telat dateng. Huh, ternyata mereka ga disiplin.. Waktu masih SD, mereka pasti sering di suruh diri di depan kelas, atau lari muterin tiang bendera sampe 100x, bangunnya pasti siang terus, ngga solat subuh pula, gimana mau bantuin ibu mereka pergi ke pasar atau paling ngga nyapu halaman coba? Huh..

Oke, balik lagi ke kata bijak, jadi gini, sebenernya gue gatau kata bijak apa yang harus gue posting.. Belum kepikiran. Ga apa-apa deh ya.. Sebenernya inti ceritanya itu yang Ultraman sama Power Rangers, tapi biar keren, gue ceritain juga soal nunggu, bete, dan mules.. Biar up-to-date gitu.. *mendadak hening*

Tuesday, 29 November 2011

REPORT TUGAS SOFTSKILL

Report Tugas Softskill: Psikologi Lintas Budaya

Nama : Seto Wicaksono

NPM : 11509204

Kelas : 3 PA 01

Tema: Kebudayaan Aceh

Untuk tugas softskill yang kedua ini, saya bersama kelompok, sepakat untuk mengambil tema Kebudayaan Aceh. Dalam makalah—laporan yang kami susun, kami juga menyertakan pengenalan wilayah Aceh, sejarah Aceh, kependudukan Aceh, serta sistem pemerintahan Aceh sebagai pelengkap.

Sejauh ini saya bersama kelompok telah mengerjakan makalah—laporan yang bertemakan Kebudayaan Aceh, sampai dengan bab II, itupun belum selesai, karena kami masih perlu mewawancara dan menanyakan beberapa kebudayaan Aceh beserta perkembangannya, minimal ke 2 orang yang berasal dari Aceh. Secara keseluruhan kami masih memiliki kekurangan dalam komunikasi internal, karena diskusi tentang penyusunan makalah kurang begitu intensif. Meskipun kami kurang berdiskusi secara intens, ketika mengumpulkan data, kami semua bekerja sama. Dalam mendapatkan data, kami menggunakan teknik sekunder, yakni melalui internet. Saya sendiri tidak pergi ke TMII (Taman Mini Indonesia Indah), dan lebih memilih untuk mencari data di alamat web TMII (http://www.tamanmini.com), dan berbagai sumber dari internet, karena saya merasa data di web pun cukup lengkap mengenai Kebudayaan Aceh.

Tugas saya dalam kelompok, sejauh ini mengumpulkan data dari internet, menerima email yang berisikan data tentang Aceh dari teman satu kelompok, menyusun makalah, dan memberi feedback kepada teman-teman dengan cara mengirim makalah yang saya susun sampai dengan bab II, untuk di cek ulang, apakah masih ada data yang perlu di tambahkan.

Saturday, 5 November 2011

KEMALUAN Itu AMBIGU

GENGSI. Kata yang paling males gw bahas, sekaligus bikin semangat kalo gw lagi ngebahas soal gengsi sama temen-temen gw, entah temen kuliah, temen rumah, temen SMA, temen main futsal, temen main bola, temen main sepeda, temen main congklak, temen main hujan-hujanan, temen kalo lagi belanja, temen main kelereng, temen mandi bareng, temen pipis bareng.. Oke cukup, gw mau bahas tentang gengsi, sekaligus "rasa malu" tentang sesuatu yang bisa Alhamdulillah, bisa juga engga.

Kenapa sih kita harus punya gengsi dalam hal yang ga penting menurut gw, buat orang lain ya gw belum tau juga. Tapi, berhubung ini blog gw, ya jadi sesuka gw lah, gw mau bahas dari sisi mana, depan, belakang, atas atau samping kanan, kiri, SETERAH UE LAH! Begitulah kata orang yang sampe sekarang masih sulit buat mengeja kata "T-E-R-S-E-R-A-H". Dan kata "UE" ditunjukkan teruntuk seseorang yang masih berpatokan sama EYTD (Ejaan Yang Tidak Disempurnakan). Entahlah, skip. Yang jelas, blog gw itu subjektif, karena gw mencoba untuk berpendapat dari sudut pandang gw, pemikiran gw.

Gw Seto Wicaksono, mahasiswa Fakultas Psikologi, Universitas Gunadarma. Kebetulan gw berkelamin laki-laki. Nomor absen gw di kelas 35, karena nama depan gw "S", ya jadi pasrah aja gw, nama gw ada di nomor 35 dari 37 mahasiswa yang ada di kelas gw. Bisa bayangin waktu gw SD, SMP, sampe SMA, gw nunggu pembagian raport selama apa? Ga usah dibayangin sih, soalnya kebetulan waktu kelas 1 SD, gw dapet rangking 3 diantara banyaknya temen gw yang ingusan dan sering mencret di kelas waktu itu. Jadi, kalo dibagi raport pas SD, kebetulan dari yang dapet rangking 1-10, makanya ga lama nunggunya walaupun nama depan gw "S", sisanya baru yang dapet rangking harapan 1, harapan 2, harapan 3, sampe harapan 38. Kelas 1 SD itu gw pinter, sampe dapet rangking 3 gitu kan, ya walaupun masih SD, mayan lah, buat dipamerin ke seragam polisi gw waktu TK, yang waktu itu sering dipake di hari sabtu. Waktu kelas 1 SD juga gw dikenal sama guru, beuh.. Sebagai anak kelas 1 SD yang masih ingusan, gw merasa paling lucu waktu itu. Gw dikenal guru, karena waktu itu sempet mencret di kelas.

Kalian udah tau lah pasti, kampus itu kampus swasta, yang namanya (mungkin) kurang tenar, dibanding kampus lain, apalagi kampus negeri, dan favorit. Tapi gw ga pernah malu, kuliah/belajar di kampus yg labelnya swasta. Kenapa gw harus malu? Kenapa gw harus malu sama kemaluan gw? Oke, ini ambigu. Dan yang mau gw bilang adalah, seterah. Seterah kalian deh. Seterah mau ngomong apa, seterah!

Kenapa gw harus malu kuliah di kampus yang labelnya swasta? Apa cuma karena swasta? Ngga, itu bukan alesan kenapa gw harus malu. Gw bangga ko, dan yang jelas, gw seneng-seneng aja kuliah/belajar dimana aja, selama kelamin gw ga dirubah siapapun. Gausah denger apa kata orang lain yang asal ceplas-ceplos, apalagi yang filter mulutnya udah diganti ama mulut racing/sport yang bunyinya berisik banget.

Oke, tadi soal kampus. Sekarang, soal diri kita sendiri. Kenapa kita harus malu kalo bercermin? Apa cuma karena muka kita lebih mirip sapu tangan mandor? Apa muka kita lebih mirip helm cetok dibanding helm SNI? Apa cuma karena muka kita lebih mirip nyamuk demam berdarah yang punya corak hitam-putih? Ngga kan? Kita harus yakin, kita itu lebih dari sekedar itu. Biar deh muka kita kaya sapu tangan mandor, atau jentik nyamuk, yang penting kita sabar aja kalo ada temen kita yang ngatain kita. Ya mau pegimana lagi kalo muka kita emang mirip sapu tangan mandor? Cari solusi? Yah.. Gw juga cuma bisa sabar ko, kalo lagi dikatain muka gw kaya selangkangan ikan lele.

Gw bingung sama gengsi remaja sekarang. Temennya punya hape BB (BlackBerry), pengen beli BB juga. Temennya ganti Adroid, pengen ganti juga jadi android. Temennya punya pacar, dia juga sok-sok-an cari pacar, walaupun carinya di tempat gilingan tempe. Temennya bawa mobil ke kampus, dia juga bawa mobil ke kampus. Temennya main di got, dia ikut main di comberan. Temennya kayang pas lagi di kelas, dia ikut kayang di kelas. Oke, ini garing. Jadi gausah dibaca. Yang udah terlanjur baca, silahkan menyesal.

Sampe di paragraf ini, gw masih bingung, apa hubungannya "KEMALUAN Itu AMBIGU", sama tulisan yang gw ketik ini. Gw bingung. Mungkin ini satu-satunya pemahaman yang ga bisa disearching di googling. Yang bisa gw pahami dari tulisan ini, yang penting cinta, sayang, tulus, dan ikhlas. Gw juga pengen ngingetin, cinta itu ga selamanya benar, tapi inilah cinta, disaat salah pun, masih tetep aja suka cari-cari alesan, inilah cinta, dari awal sampe akhir paragraf, tetap aja ga nyambung sama judul tulisan. Mau benci juga gimana, tulisannya udah sepanjang ini, masa mau di hapus gitu aja? Ya kali.. Kata remaja masa kini, yang sehari-harinya begaul ama adonan rengginang.

Catatan Seorang Perekrut #17 Recruiter yang Insecure dengan Perjalanan Karirnya

Jumat, 14 Juli 2017. Hari yang nggak akan pernah saya lupakan dalam perjalanan karir yang, usianya masih seumur jagung ini. Hari di mana akh...