Saturday, 25 May 2013
Kebetulan? Gue Pikir, Ngga.
Thursday, 28 March 2013
Kepengennya Gini, Dapetnya Gitu
Saturday, 15 December 2012
Kenapa Masuk atau Pilih Jurusan Psikologi?
Cerita selengkapnya bisa dicek di link ini: Alasan Memilih Psikologi
Di link yang baru, ceritanya lebih lengkap dan detail. Terima kasih! 😁
Sunday, 14 October 2012
Word!
Wednesday, 5 September 2012
[TER]BAKAR! 24 Maret 2012!
Waktu (setelah) maghrib, gue pake buat ngobrol-ngobrol sama temen-temen rumah, juga temen-temen SMA gue yang ketika itu bisa "menengok" gue. Sama kaya gue, mereka pun keliatan kaget dan gak percaya. Tapi, dibalik itu semua, gue tau, mereka berusaha menghibur gue sebisa mereka, ngelakuin apa yang mereka bisa.
Gue baru pertama kali ngerasain hal ini, ketika gue tau rumah gue kebakaran. Hampa. Percaya atau ngga. Kata "hampa", untuk yang baca mungkin dirasa lebay atau sedikit berlebihan. Tapi, itu yang gue rasain. Gue ga bisa nangis, ketika gue tau dan liat, orang tua, juga kakak gue nangis. Baju gue habis, lenyap. Drum kesayangan gue pun (otomatis) terbakar. Malemnya, (setelah isya), gue coba naik ke lantai atas, tempat dimana kamar gue ada. Gue inget, disitu ada laptop dan beberapa barang kesayangan gue. Gue masih belum percaya waktu liat kamar gue lenyap, hangus, habis terbakar (fotonya ada dibawah paragraf ini). Dan baru pertama kali juga, gue tidur di rumah tanpa atap. Kalian harus tau, rasanya dingin! :D
Itu gambaran rumah gue yang terbakar di tanggal 24 Maret 2012. Setelah kejadian itu, banyak banget sodara, temen (gue, kakak, nyokap, ataupun bokap, yang tentunya banyak banget kalau disebut satu per satu) yang dateng untuk menjenguk sekaligus kasih bantuan (terimakasih! :D).
Senin, tepatnya tanggal 26 Maret 2012, gue ada jadwal kuliah, gue harus masuk, karena gue paling ngga betah kalau harus ketinggalan materi perkuliahan. Jadwal masuk gue 7.30am, dan gue telat, gue baru nyampe kels sekitar jam9am, beruntung, dosennya baik dan mempersilahkan gue masuk. Sesampainya di kelas, temen-temen sekelas ngeliatin gue, dan setelah jam mata kuliah abis, mereka langsung datengin gue dan tanya gimana kabar gue, juga rumah gue yang kebakaran. Haru. Dari situ gue tau dan bisa ngerasain, gue ngga sendirian..
Haru berlanjut ketika gue masuk lab, gue disapa sama banyak aslab (asisten lab). Yang paling gue inget adalah sapaan Kak Fidia (atasan dan senior), ketika gue buka pintu, dia langsung nyapa, "hai Seto, apa kabar?", dengan senyumannya yang khas. Setelah itu, ada beberapa dosen juga yang nyemangatin gue. Ah, gue ga ngerasa sendirian ketika itu, dan ga bisa dipungkiri, itu yang bikin gue tetep bertahan ketika gue merasa kehilangan.
Monday, 23 July 2012
Selamat Berpuasa bagi yang melaksanakan! :D
Saturday, 10 March 2012
Impian Gue....
Perjalanan Impian Gue
Semua orang di dunia ini pasti punya impian. Dan gue adalah salah satunya. Ada orang yang berani mewujudkan mimpi mereka, ada yang membatasi mimpi mereka dengan cara mengekang pikiran mereka sendiri, dan ada yang menjadikan ketidak mampuan sebagai alasan untuk tidak mewujudkan impian mereka. Ketidak mampuan bisa dijabarkan dalam beberapa hal, diantaranya ketidak mampuan dalam segi materi, fisik (karena cacat, dsb.), dan karena tidak adanya dukungan eksternal. Karena beberapa alasan itulah seseorang bisa kehilangan percaya diri dalam mengejar impian. Sangat diguengkan, tentunya.
Hidup adalah pilihan. Menurut gue, begitu pula dengan impian. Pasti ada banyak orang yang memiliki banyak impian, pun dengan gue. Impian gue sewaktu gue masih duduk di Sekolah Dasar adalah menjadi pemain sepak bola, dan bermain untuk Tim Nasional Indonesia kelak. Usaha dalam mewujudkan impian itu adalah dengan bermain bola tentunya, mengikuti kegiatan ekstrakurikuler sepak bola di SD, dan ikut berlatih bersama tim kecil yang ada di lingkungan tempat gue tinggal. Tim itu bernama SPY (Satria Putra Yunior), ketika itu, posisi gue adalah sebagai penjaga gawang. J beberapa pertandingan pun sempat gue ikuti, meskipun beberapa kali menderita kekalahan.
Beranjak menjadi murid SMP, atau di waktu itu lebih di kenal dengan sebutan SLTP (Sekolah Lanjut Tingkat Pertama), impian gue pun berganti dengan tidak menghilangkan impian sebelumnya. Menjadi Musisi. Ya, itulah impian gue, sewaktu gue duduk di SMP. Sewaktu gue duduk di SD, gue pernah belajar memainkan alat musik, yaitu suling. Gue rasa itu adalah alat musik yang anak SD pasti mainkan di beberapa Sekolah Dasar. Di SMP, gue belajar memainkan gitar. Gue minta diajari Om ketika itu, ya sekedar kunci dasar, dan setelah itu gue coba belajar otodidak, dengan membeli buku musik. Setelah hampir satu tahun belajar gitar, bisa dibilang gue tidak mengalami kemajuan yang berarti. Gue mulai mencoba alat musik lain, dan gue mencoba untuk bermain drum. Awal mula gue bermain drum adalah suatu hal yang tidak disengaja. Ketika gue SMP, gue dan teman-teman membentuk sebuah grup band, band asal-asalan tentunya, karena waktu itu hanya iseng, sekedar mengisi waktu luang. Ketika itu gue masih bermain gitar, sampai pada akhirnya, ketika kita latihan di suatu studio, tidak ada yang ingin bermain drum. Secara spontan, teman gue menunjuk gue untuk bermain drum. Gue tidak bisa mneolak, dan segera duduk di kursi drum. Jelas gue belum bisa apa-apa, dan bermain drum sebisanya. Tapi, dari situ ketertarikan gue akan drum bertambah. Setiap kali latihan di studio, gue terus mencoba bermain drum, sampai akhirnya bisa karena terbiasa, tidak jago tentunya, hanya dengan skill yang biasa saja. Dari situ, impian gue adalah menjadi seorang Drummer terkenal mulai terbentuk. J
Untuk mewujudkan impian sebagai Drummer, gue minta kepada Ibu untuk dibelikan drum. Gue senang, karena ketika itu, Ibu segera membelikan gue drum-set. Gue semakin semangat dalam bermain drum, tapi belum puas. Segera setelah itu, gue meminta kepada Orang Tua gue, agar gue bisa mengikuti drum-course, agar skill gue dalam bermain drum bertambah. Dan hal itu segera diwujudkan oleh Orang Tua gue. Gue semakin semangat menjadi seorang Drummer. J
Sebagai seorang Drummer, tentu harus memiliki “jam terbang manggung”. Diwaktu itu, Om gue selalu mengajak gue untuk mengikuti beberapa festival band. Gue setuju, dan akhirnya kami berada dalam satu panggung, memainkan lagu yang sudah kami pilih, atau yang sudah ditentukan oleh panitia. Itu adalah pengalaman yang mengasyikan, dan masih terekam dalam ingatan. J
SMA, gue masih nge-band dengan teman-teman yang lain, sampai akhirnya, entah ini ide, wejangan, wangsit, atau apapun namanya, datang darimana, entah kenapa, gue bercita-cita ingin kuliah di jurusan Psikologi. Ya, kuliah di jurusan Psikologi. Waktu itu, gue sendiri masih duduk di kelas 1 SMA. Entah apa yang gue pikirkan ketika itu, karena gue sendiri belum tahu, apa saja yang di pelajari dalam Psikologi. Walaupun belum tahu apa saja yang dipelajari dalam Psikologi, tapi gue selalu bangga ketika siapapun yang bertanya, “nanti kuliah mau masuk jurusan apa?” dan dengan rasa percaya diri, dan senyum yang cukup lebar, gue menjawab, “Psikologi” J Karena ketika itu gue masih SMA, gue simpan impian untuk belajar Psikologi, sampai nanti waktunya tiba, ketika gue kuliah nanti. Lambat laun, karena jadwal sekolah yang semakin padat, gue semakin jarang nge-band dan bermain drum tentunya, kursus drum pun terhenti, setelah setahun lebih gue kursus. Impian gue sebagai Drummer, gue rasa tertunda, tapi gue belum mengubur impian itu.
Lulus SMA, gue pun bersiap memilih jurusan dalam perkuliahan yang sesuai dengan minat gue, dan minat gue adalah belajar Psikologi J sebelumnya, gue sudah mencoba ikut PMDK (Penelusuran Minat dan Kemampuan) di suatu Institut yang berada di Bogor. Ketika itu gue diterima, dan tidak bisa dipungkiri, gue merasa senang, orang tua gue pun ikut senang. Dari sini, permasalahan mulai nampak. Ayah gue sebenarnya bingung, mengapa gue memilih jurusan Psikologi, dan jelas tidak setuju jika gue memilih jurusan Psikologi. Mungkin pada waktu itu, adalah kali pertama gue dalam belajar “memilih dan menentukan masa depan”. Ketika gue diterima PMDK di suatu Institut di Bogor, dengan segera gue sms orang tua gue, Ibu membebaskan gue dalam memilih jurusan perkuliahan, tapi tidak dengan Ayah, karena beliau tetap menginginkan gue memilih Institut yang bertempat di Bogor. Gue memikirkan jurusan yang gue pilih dengan hati-hati, dan tidak “sembrono”. Akhirnya, gue memutuskan untuk memilih apa yang gue minati, apa yang gue impikan sedari 1 SMA, untuk belajar Psikologi. Menolak permintaan Ayah, untuk masa depan kita, tidak durhaka, kan? =p
Kini, gue sedang menjalani apa yang gue impikan, ya, belajar Psikologi, dengan teman-teman, dosen, dan lingkungan belajar yang cukup menyenangkan, di Universitas Gunadarma J perjalanan gue belum berakhir, karena gue ingin terus membuktikan kepada Ayah, yang gue pilih, bukanlah hal yang sia-sia, yang gue pilih, adalah hal yang gue yakini untuk masa depan gue, passion gue dalam bidang akademik, bukan berarti gue “mengecilkan” jurusan atau ilmu lain. Itu adalah beberapa alasan gue, mengapa gue memilih dan belajar Psikologi. Masih banyak yang belum gue tahu tentang Psikologi, karena itu, gue masih merasa, mempelajari Psikologi hingga saat ini adalah suatu impian, sekaligus usaha dalam mendapatkan impian gue. J
Ada impian baru, ketika gue belajar Psikologi Pendidikan di semester 2, yakni, member kontribusi di dunia pendidikan, terutama dalam hal pembelajaran dan gaya belajar murid. J gue ingin tiap sekolah memberi kebebasan kepada siswanya, untuk menentukan dan menjalani gaya belajar yang mereka suka, ya, gue rasa, selama ini sekolah seringkali memaksakan gaya belajar yang sama pada semua murid, padahal, kecerdasan dan minat setiap siswa kan berbeda, ditambah lagi, tidak ada siswa yang bodoh, karena gue yakin, setiap siswa memiliki kecerdasan di bidang masing-masing J mungkin di beberapa sekolah sudah diterapkan hal seperti itu, gue berharap tidak di “beberapa” saja, kalau bisa, menyeluruh. Gue tahu itu adalah hal yang cukup sulit, tapi gue yakin, pasti bisa J usaha yang gue lakukan saat ini adalah berharap, berdoa, dan berusaha tentunya, belajar, dan sedikit memperhatikan gaya belajar teman-teman gue di kelas. Gue tahu itu hanya usaha kecil, tapi gue tidak akan berhenti bermimpi, berharap, berdoa, dan berusaha untuk hasil yang tidak kecil. J
Ada banyak impian gue saat ini, seperti bergerak di bidang/kegiatan sosial, mendirikan panti asuhan/jompo, mendirikan rumah makan dengan teman (berbisnis), menjadi penulis, berguna untuk lingkungan sekitar. Itu yang ada dalam pikiran gue saat ini, selebihnya, belum terpikirkan, atau tidak gue cantumkan. =p
Di awal cerita, gue sempat berkata, “Hidup adalah pilihan. Menurut gue, begitu pula dengan impian”. Ya, itulah yang gue rasakan, dan gue jalani. Gue telah memilih impian gue, dengan tidak menghilangkan impian gue sebelumnya, dan dengan tidak mengabaikan impian gue di masa depan, impian yang mungkin belum terpikirkan. Gue telah menentukan impian gue. Bermain bola dan drum, saat ini menjadi hobi, dan menjadi aktivitas di waktu senggang gue, karena gue tidak ingin melupakan, juga menghilangkan impian gue di masa lalu, karena impian itulah yang membawa gue kepada impian dan hal baru J
Catatan Seorang Perekrut #17 Recruiter yang Insecure dengan Perjalanan Karirnya
Jumat, 14 Juli 2017. Hari yang nggak akan pernah saya lupakan dalam perjalanan karir yang, usianya masih seumur jagung ini. Hari di mana akh...
-
Halo, saat ini catatan seorang perekrut masuk ke bagian 14. Dukung terus, ya, dan terima kasih untuk para silent reader yang selalu membac...
-
Gue Seto Wicaksono, mahasiswa jurusan Psikologi Universitas Gunadarma, angkatan 2009 tepatnya. Ya, sekarang gue udah tingkat 4, semester 7....
-
Sebagai rekruter, sudah sewajarnya selalu berkomunikasi secara langsung atau tidak langsung dengan para kandidat, pencari kerja. Banyak ora...

.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)

.jpg)