Thursday, 25 December 2014

Kerjaan Utama, Berwirausaha

Kali ketiga gue udah nerima gaji sebagai karyawan. Ada perubahan yang gue rasa, dan ada asa yang gue jaga. Perubahan da asa yang lebih baik pastinya. Dari segi penyesuaian dan pembelajaran khususnya dan ada beberapa bagian yang engga disebutkan. Dari penyesuaian, akhirnya, perlahan tapi pasti, badan gue menyesuaikan sama situasi dan kondisi kerja. Capek, tapi, menyenangkan. Hal ini yang selalu gue rasakan ketika gue kuliah. Perubahan yang baik, lebih baik, buat diri gue pribadi yang masih awal mencicipi dunia kerja. Sesederhana itu. Satu bulan pertama kerja, harus diakui kalau gue belum bisa adaptasi, masih "nemuin celah" gimana gue harus bersikap dan memposisikan diri di lingkungan kerja. Sampai akhirnya, gue bisa membiasakan. Menyenangkan adalah ketika aktivitas yang gue lakuin bikin capek, tapi, menyenangkan. Disamping "menghasilkan", pastinya.

Awalnya, bekerja itu semacam beban buat gue. Berat. Lambat, tapi, pasti, karena penyesuaian yang gue lakukan, bekerja itu seakan belajar buat gue. Belajar hal baru, lingkungan baru, ilmu baru. Ya, gue anggap bekerja adalah belajar, sama halnya ketika belajar di SD, SMP, SMA, sampai kuliah. Itu yang gue lakukan agar bisa menyesuaikan.

Ketika kuliah, gue suka sama alat tes Pauli, berhubungan soal angka, butuh konsentrasi dan ketelitian. Gue berharap, di dunia kerja gue dipertemukan dengan alat tes tersebut. Sampai akhirnya, gue bekerja di salah satu bank, dan berpikir, "ah, bukan rejeki dan jodoh gue ketemu sama (alat tes) Pauli". Gue berpikir, apa yang gue kerjakan itu bukan passion gue, gue sempet gak fokus sama apa yang gue kerjakan di satu bulan pertama. Semacem merengek, karena sebelumnya, gue kuliah di jurusan yang gue amat sangat suka. Gue suka ketika berpikir tentang apa yang gue jalani, "berinteraksi" dengan diri sendiri. Gue menemukan hal yang lebih baik, menurut gue, dibanding "rengekan" yang gue lakuin di satu bulan pertama bekerja. Gue tersadar, antara alat tes Pauli dengan kerja di bank itu ada korelasinya. Sama-sama berhubungan dengan angka. Selain butuh ketelitian, ya, karena semua pekerjaan butuh ketelitian, pastinya. Gue tersenyum.

Selain belajar Psikologi, hal yang ingin gue wujudkan adalah berwirausaha. Jadi, gini, ketika baru masuk SMP, gue berpikir untuk masuk SMAN 6 Bogor. Terlalu dini, memang, untuk mikirin akan masuk SMA mana nantinya, sewaktu gue baru aja memakai seragam putih-biru, tapi, hasilnya? Gue masuk dan sekolah di SMAN 6 Bogor, setelah lulus SMP. Kelas 1 SMA, gue mulai berpikir, akan kuliah di jurusan apa nantinya. Hal yang sama, masih terlalu dini untuk anak 1 SMA untuk berpikir tentang itu, tapi, ga ada salahnya. Gue emang sukanya begitu, dipikirkan bagaimana ke depannya, setelah berhadapan dengan "depannya", baru gue jalani dan ada targetan pastinya. Harus. Ketika ditanya akan kuliah di jurusan apa, gue jawab, Psikologi. Kejadian terulang, benar adanya gue kuliah di jurusan tersebut. Setelah kuliah, awal kuliah, yang gue pikirkan dan yang ingin gue wujudkan adalah, lulus kuliah gue menjadi karyawan, setelahnya, gue berwirausaha, punya bisnis sendiri di bidang kuliner (makanan) dan clothingan dan bisa mempekerjakan orang lain, memberi mereka gaji yang sesuai, agar mereka bisa hidup layak. Kejadian terulang? Harus. Gue harus ngotot untuk hal itu. Gue harus mengusahakan agar hal itu terwujud (note: saat ini gue sedang merintis bisnis clothingan bareng 2 orang temen di kantor. Deri dan Indra. Terima kasih buat mama juga Nazliah, yang support apa yang gue "ngotot"-in).

Gue bertanya sama diri sendiri, "apa passion dalam hidup itu cuma dan harus satu?", kesimpulan gue mengkerucut, sederhananya, passion itu hasrat, sesuatu yang kita senangi, ketika kita menjalani. Jadi, mana mungkin kesenangan dalam hidup itu harus di-"kotak"-an jadi satu, sedangkan kesenangan dalam hidup itu amat sangat banyak. Psikologi dan berbisnis jadi hal yang gue senangi. Berbisnis untuk sesuatu yang menghasilkan di masa sekarang dan mendatang, tentunya. Gue gak mau selamanya jadi karyawan. Kalaupun selamanya jadi karyawan, itu jadi kerjaan sampingan gue. Kerjaan utama, berwirausaha.

Saturday, 25 October 2014

Menjalani Proses

Udah sekitar sebulan gue ga update blog. Berasa ada yang kurang. Walaupun sebenernya tiap gue posting, isinya biasa aja. Paling engga, ketika gue posting sesuatu di blog, gue udah menuangkan apa yang gue pikirkan dan ga ketahan gitu aja di kepala gue. Hehe.

Genap satu bulan gue bekerja, syukur, gue pun udah nerima gaji pertama. Awal yang cukup baik. Gue mulai masuk kerja tanggal 25 September. Sampe sekarang, gue masih suka "kikuk", bingung, kerja itu ngapain aja, sistematikanya gimana, mau gimanapun, ini pekerjaan pertama gue setelah akhirnya gue menyelesaikan studi di perkuliahan. Gue masih butuh bimbingan dari orang di kantor. Selalu butuh bimbingan dan arahan. Gue menjalani masa kerja pertama gue dengan lesu dan kurang semangat, tanpa mengurangi rasa syukur, udah dapet pekerjaan. Gue kurang semangat, karena sedih di waktu itu. Gue kepikiran Nazliah. Dia masih cari pekerjaan ketika itu, gue udah dapet. Gue sedih, karena sebelumnya, kita cari kerjaan bareng-bareng, kalau dia lagi interview atau psikotes, gue yang nemenin, begitu juga sebaliknya. Dia selalu nemenin gue, di mana dan kapanpun gue di psikotes dan interview. Sebelum gue dapet pekerjaan yang sekarang, Nazliah sempet nemenin gue psikotes sekaligus interview di kawasan Karet, Jakarta. Gue pikir psikotesnya cuma sampe sekitar jam 12an, setelah itu, gue dan Nazliah langsung main. Ternyata engga gitu. Gue balik jam 5 sore. Nazliah udah nemenin gue dari sekitar jam 5.30 pagi. Gue sedih, terharu, karena ketika nunggu gue, dia ga ngeluh sama sekali. Dia tulus nungguin gue yang lagi psikotes dan interview. Kalau inget momen ini, mata gue selalu "berkaca-kaca", karena terharu.

Sedihnya ga berenti di situ. Gue udah dapet kerjaan lebih dulu dibanding Nazliah, itu berarti, Nazliah harus berjuang sendiri ketika dia ada panggilan interview atau psikotes. Sedih rasanya, ketika gue ga bisa bales ketulusannya dia. Akhirnya ketika ada beberapa kali panggilan psioktes, yang nemenin itu Papa-nya. (Maaf, ya, Nazliah, di waktu kamu psikotes, aku ga ada di sana, aku malah ngomel-ngomel dan egois.) Nazliah akhirnya dapet pekerjaan pertamanya, dia mulai bekerja di tanggal 9 Oktober, ga lama setelah gue bekerja.

Sekarang kita udah sama-sama kerja, kita masih sering ngeluh soal kerjaan kita. Sama-sama ngeluh. Kita belum terbiasa sama kesibukan ketika bekerja. Gue sedikit lebih beruntung, karena ketika kerja, gue bawa kendaraan menuju kantor, jadi, bisa meminimalisir macet, ditambah antara rumah dan kantor gue bisa ditempuh hanya dengan waktu 20-30 menit. Sedangkan Nazliah, dia harus bangun sekitar jam 4.40, mandi, bersiap, dan berangkat jam 6. Lewat dari jam itu, dia akan kejebak macet, kerjaan di kantor ga ada abisnya, waktu istirahat juga minim, pulang paling cepet dari kantor jam 5 sore dan masih harus duduk berlama-lama di angkutan umum karena jalanan yang tersendat. Kemaren banget, Nazliah nangis dan bilang, dia cape, dia ga mau kerja. Pengen peluk rasanya ketika gue denger dengan jelas dia bilang gitu dan sambil nangis dengan nada manjanya dia. Ditambah, dari awal kerja sampai sekarang, kesehatan dia lagi drop.

Kita udah sama-sama kerja, Naz. Tanpa maksud menggurui, kita lewatin bareng-bareng prosesnya, ya. Tujuan kita, kan, nantinya berwirausaha. Sekarang, salah satu hal yang penting, kita harus adaptasi sama kerjaan kita. Fisik kita juga lagi adaptasi, kok. Maaf kalau aku masih suka egois, ya. Inget, tujuan, target kita berwirausaha. Untuk sekarang, kita masih jadi "pembantu". :)

Gue kerja di bank. Gue lulusan Psikologi. Tanpa maksud merasa hebat dalam Psikologi, gue amat sangat rindu sama yang namanya alat tes (Psikologi). Di kerjaan gue yang sekarang, gue ga akan ketemu sama yang namanya alat tes. Hari-hari bekerja gue, selalu terisi dengan rasa kangen alat tes atau obrolan yang berhubungan tentang Psikologi. Itu kenapa begitu orang kantor sedikit nanya atau pengen tau tentang alat tes atau ngobrolin yang berhubungan soal Psikologi, gue selalu excited. Mereka ga akan tau, gue nahan haru, karena rasa kangen gue. Walaupun ga sampai tergila-gila, mungkin Psikologi udah jadi semacem passion.

Sumpah demi apapun, gue rindu sama alat tes, rindu jadi tutor buat junior yang ngajarin beberapa alat tes. Ada 11 bulan lagi untuk ngabisin kontrak kerja gue (yang berdurasi satu tahun). Semoga gue masih inget, gimana cara mengerjakan alat tes dan "cara kerja" dari alat tes itu sendiri. Nazliah, yang semangat, ya. I love you.

Sunday, 21 September 2014

Terima Kasih, Nazliah.

Minggu, 21 September 2014. Siang hari ketika gue bingung mau ngapain, sampai akhirnya gue memutuskan untuk menulis artikel ini. Gue ngetik di kamar gue, seperti biasa, ditemenin sama detik dari jam weker Liverpool kesayangan, di kamar yang rencananya akan gue isi dengan banyak marchandise Liverpool FC. Hehe. Pagi tadi gue futsal jam 10.20-11.20, lumayan, olahraga, ngebakar dan mengurangi lemak di perut yang makin menggumpal. Akhirnya gue mandi sekitar pukul 13.40, karena keringetnya bikin badan jadi lengket. Selama gue mandi, entah kenapa gue kepikiran Nazliah. Sebenernya gue kepikiran dia dari seminggu yang lalu, yang gue pikirin itu, "kita ketemu ketika kita sama-sama ngerjain skripsi dan nemuin kesulitan, sampai akhirnya kita saling support dan saling bantu semampu kita, apalagi gue, gue ngerasa banyak dibantu lewat kehadirannya dia. Dia emang spesial". Tuhan memberi gue bantuan lewat perantara Nazliah. Tuhan pun memberi gue motivasi lebih melalui keluarga juga orang di sekitar. Tanpa maksud tidak menghargai yang lain, kali ini yang gue bahas adalah Nazliah.

Gue ngerasa seneng dan bersyukur, Nazliah hadir di waktu yang tepat. Kita sama-sama dari jurusan yang sama, cuma beda angkatan. Dia senior gue di kampus. Dia ada ketika gue butuh motivasi lebih untuk menyelesaikan Tugas Akhir alias skripsi. Gue emang (harus) bisa menyelesaikan skripsi gue sendiri, tapi, dengan adanya Nazliah, gue punya motivasi lebih dan ngerjain skripsi jadi menyenangkan. Gue ga perlu kebingungan cari temen sharing buat skripsi. Udah jadi realita, di saat ngerjain skripsi, temen-temen seperjuangan kita ketika kuliah entah ke mana. Engga, gue ga menyalahkan mereka, karena gue tahu, mereka juga sibuk dengan skripsinya masing-masing. Nazliah yang selalu nemenin dan jadi temen sharing ketika gue membutuhkan hal tersebut. Nazliah selalu nemenin dan ngedukung gue dalam pengerjaan skripsi, sampai akhirnya gue sidang di tanggal 29 Maret 2014. Rasanya berhadapan sama sidang skripsi itu deg-degan campur biasa aja. Ketika pengumuman kelulusan, pun, gue ngerasa biasa aja. Yang luar biasa adalah ketika di jalan pulang sendirian, dan tersadar, gue udah lulus.

Ga berhenti di situ, Nazliah nemenin gue sampai sekarang. Iya, kita "berkomitmen", mengusahakan, dan punya tujuan. Ga perlu diperjelas, kan, apa maksudnya? Hehe. Setelah lulus, kehidupan berasa dimulai dari nol, karena kita masuk ke tahapan awal menjalani kehidupan yang sebenarnya. Begitu kata orang bijak. Saat ini, gue dan Nazliah masih sama-sama berusaha menemukan pekerjaan. Gue amat sangat berharap, 2014 bisa produktif, paling tidak, di sisa 2014 yang tinggal beberapa bulan lagi. Produktif bisa berarti luas, kalau dipersempit, paling tidak mengacu pada berusaha, mengusahakan sesuatu. Dalam hal ini, bisa berusaha menghasilkan uang jajan buat diri sendiri. Sesekali rasanya berat, ketika beberapa teman yang lain sudah bekerja, dan kita masih berusaha. Berat itu bisa jadi ringan, ketika ada seseorang yang menenangkan.

Kalau mengacu sama judul artikel ini, sebenernya kurang berkesinambungan, tapi, kata terima kasih, tetap dan selalu jadi reward buat seseorang, supaya sesuatu yang baik itu bisa selalu dilakukan dan yang menerima (ucapan) akan jadi makin senang untuk melakukan hal tersebut. Terima kasih, Tuhan, Nazliah ada di waktu yang tepat. Terima kasih, Nazliah, kamu selalu ngisi hari aku (karena kadang aku ngerasa, kalau ga ada kamu, beberapa hal akan jadi berat, Di waktu kamu ada, banyak hal yang bisa dicapai).

:)

Wednesday, 10 September 2014

Kicauan Burung

12.58 PM, waktu ketika gue buka notebook ini, pasang modem, dan menyambungnya ke notebook untuk segera menulis di blog ini. Gue bikin tulisan ini di kamar gue, letaknya di lantai 2, ditemani bunyi detik jam weker Liverpool FC kesayangan gue. Sesekali terdengar suara burung yang berkicauan dari luar rumah. Ya, mungkin si burung lagi cari temen ngobrol, karena dia ga mau menikmati cerahnya langit siang ini sendirian. Suasana di rumah siang ini sepi, seperti biasanya, Bokap kerja, Nyokap kerja, Kakak gue sekarang lagi di rumah nenek. Seperti biasa pula, gue enggan untuk nonton acara tv di siang hari, karena itulah tv gue matiin. Hasilnya, di rumah jadi sepi dan hening. Menurut gue itu lebih baik, dibanding gue menyalakan tv, tapi, ga ada satu pun acara yang bikin gue seneng.

10 September 2014, sekitar 5 bulan setelah gue lulus kuliah (gue dinyatakan lulus kuliah setelah mengikuti sidang skripsi pada tanggal 29 Maret 2014), gue masih belum juga bekerja. Di dua-tiga bulan pertama gue memang belum memutuskan untuk mencari pekerjaan, memilih untuk menyelesaikan revisi skripsi dan segala urusan yang menyangkut tentang administrasi perkuliahan terlebih dulu. Hasilnya memang baik, selama sekitar dua bulan revisi skripsi gue dengan tiga dosen penguji selesai, hardcover skripsi selesai, pendaftaran wisuda dan dapet toga pun udah. Gue tinggal mengikuti gladi resik untuk wisuda tanggal 7 Oktober 2014, dan wisuda pada tanggal 19 Oktober 2014. Permasalahan yang harus gue hadapi saat ini (mungkin juga beberapa temen diploma dan sarjana yang lain) adalah tuntutan sosial, di mana setelah lulus dan/atau wisuda, gue mendapat pekerjaan atau bisa menafkahi diri sendiri. Tuntutan sosial (atau lingkungan) menurut gue lebih berat dibanding tuntutan pribadi, karena gue harus siap untuk menghadapi perkataan orang lain, termasuk orang di sekitar gue yang ga terduga. Kalau gue ga siap, gue akan melemah. Gue harus menyiapkan diri untuk itu. Terhitung dari bulan Agustus 2014, gue mulai mencari dan melamar pekerjaan. Sampai saat ini, gue udah tiga kali memenuhi panggilan untuk psikotest dan interview. Belum ada hasil yang memuaskan, memang, tapi, paling tidak, gue bergerak dan ga statis. Mau gimanapun, ini proses, gue sedang menjalani proses sebelum akhirnya gue bekerja kelak dan gue harus menghargai diri gue yang masih dan selalu mau berusaha. Gue memegang kendali atas diri gue, itu kenapa di waktu gue down, melemah dari segi mental, gue ajak ngobrol diri sendiri, maunya apa, harus gimana, dan lain sebagainya. Ya, gue berbicara dengan diri sendiri lewat berpikir dan/atau ngomong sendiri di dalam hati.

Otak gue berasa "gatel", kalau ada temen yang lagi nyinyir tentang temen yang belum dapet pekerjaan, sedangkan mereka sendiri bekerja karena "ditempatkan" oleh orang lain. Ga sepantesnya kita ngejek orang lain yang jelas-jelas sedang berjuang, berusaha buat dapetin apa yang dimau. Kenapa ga didukung? Minimal diajak ngobrol, apa yang dia suka, apa yang dia mau. Itu yang gue lakuin ketika gue belum tau apa permasalahan orang lain. Bukan berarti kepo. Mungkin betul, seseorang emang ga akan ngerti dan ga akan bisa ngerasasin ada di suatu posisi, sampai akhirnya seseorang itu ada di posisi tersebut. Beberapa atau banyak dari temen gue yang masih menganggur sampai sekarang, gue lagi ada di posisi itu. Pertanyaannya, siapa yang mau nganggur dan luntang-lantung? Gue dan banyak temen-temen yang lain yang masih usaha cari pekerjaan dan banyak cara yang ditempuh, lewat internet, datang ke jobfair, cari info ke temen, atau mungkin ada yang sedang merintis usaha pribadi (bisnis, wirausaha). Itu semua pasti menyenangkan. Ga ada yang sia-sia, termasuk usaha kita buat dapetin yang diinginkan.

Lewat tulisan ini, gue menyampaikan keluh, tapi, kita semua harus bikin jaminan sendiri, keluh kita sekarang diganti dengan rezeki yang lebih dimudahkan. Ga apa kita mengeluh, tapi, setelahnya kita harus balik berjuang. Selain itu, gue berharap yang sudah bekerja, bisa mencintai apa yang dikerjakan. Yang belum bekerja, segera menemukan pekerjaan yang diinginkan. :)

Sunday, 27 July 2014

Sentuhan Pertama Di Tanggal 28

Malam ini Takbir berkumandang, bersautan dengan bunyi petasan. Ya, besok lebaran, bertepatan di tanggal 28. Gue duduk sambil menatap notebook ditemani cemilan. Gue ga berniat begadang, tapi, apa sesungguhnya gue belum mengantuk. Di tulisan sebelumnya, udah gue jelaskan, 28 adalah tanggal di mana gue dan Nazliah ketemu untuk pertama kalinya. Walaupun ga melulu dirayakan, tapi, gue selalu ngerasa tanggal ini istimewa di setiap bulannya, sepanjang tahun.

Di tulisan ini, gue berencana mau ngalor-ngidul, nulis tanpa arah, gue cuma mau "melampiaskan" apa yang gue rasain. Curhat. Yang penting ceritain aja. Di mulai dari bulan Juli yang selalu terasa spesial buat gue, karena gue lahir di bulan ini, tanggal 20. Gue boleh sedikit bangga, ga, ketika gue tahu, momen orang yang pertama kali mendarat di bulan itu, terjadi di tanggal 20 Juli? Ya, gue tahu, itu cuma karangan "orang sana" dan masih jadi kontroversi. Lupakan. 20 Juli kemarin gue merayakan ulang tanggal lahir gue. Bahagia? Tentu. Ketika kita merayakan hari jadi dan ada seseorang yang spesial yang menemani, ga ada alasan untuk ga ngerasa bahagia. Di tambah dia mengusahakan sesuatu. Nazliah bawa kue dan kado buat gue. Dia datang ke rumah, masuk ke dalam kamar gue, sambil bawa kue dengan lilin yang menyala, ditambah dia nyanyi "Happy Birthday" buat gue, lagunya memang biasa, tapi, gue suka sama suaranya Nazliah, suaranya bagus, merdu ketika dia menyanyikan "Happy Birthday" buat gue. Gue cuma tersipu malu dibalut bahagia. Di tanggal 20 Juli 2014 pula, dia berani pulang sendiri naik kereta dari Bogor ke Depok. Biasanya dia manja selalu minta ditemenin pulang. Ketika itu gue khawatir, tapi, syukur Nazliah selamat sampai di rumah, walaupun sempat terjebak hujan dan macet. Gue terharu. Berlebihan, tapi, ini sungguhan. Tanggal 21 Juli-nya, kita buka bareng di The Place, Bogor. Pulangnya Nazliah minta dianter, oke, manjanya dia balik lagi, tapi, ga apa. Dia jadi lucu ketika manja. Pulang dari nganter Nazliah, selama jalan ke stasiun Depok Baru, mata gue berkaca-kaca, waktu itu gue ga cerita sama dia, tapi, gue sempat nge-sms bilang terima kasih, gue bahagia dari mulai tanggal 20-21 Juli 2014. Sempurna untuk sebuah perayaan ulang tahun. Bahagia adalah ketika kita tahu kita sedang berjuang untuk seseorang dan seseorang itu sedang dan selalu melakukan usaha dan memperjuangkan hal yang sama.

Balik lagi ke persoalan tanggal 28. Sedikit flashback, gue dan Nazliah dipertemukan ketika kami sedang melakukan kegiatan outbond. Pertama kali gue liat dia, berasa ada yang lain, dada gue seperti tertusuk. Buat orang yang belum pernah merasakan hal ini, akan terasa berlebihan, sampai elo merasakan sendiri apa yang gue rasakan. Ya, diantara keramaian, kebisingan teman-teman, diam-diam gue jatuh cinta sama Nazliah. Di tanggal 28 pula, dengan gerogi yang menggerogoti percaya dirinya gue, gue ditakdirkan untuk satu tim bareng Nazliah ketika itu, dalam satu permainan di outbond tersebut, kami satu tim mau tidak mau harus setengah berpeluk, itu pertama kalinya tangan gue bersentuhan sama pinggulnya Nazliah. Ini bukan soal pornografi, ini soal gue yang makin gerogi ketika itu, karena gue notabenenya sedang jatuh cinta sama Nazliah. Di sentuhan itu, terselip geroginya gue yang gak karuan. Campur aduk, senang dan gak tahu harus gimana dan cerita sama siapa, sampai akhirnya kita mentionan di Twitter sepanjang hari, DM-an, tukeran nomor, Whatsapp-an, kencan pertama, sampai akhirnya kita "Jadian". Dari gue yang selalu seneng dan selalu punya cara bikin lo ketawa juga bahagia.

Selamat tanggal 28, Nazliah.
I love you.

Saturday, 19 July 2014

(PEN)COPET!

Sebelum ngetik artikel yang berjudul (PEN)COPET! ini, gue sampe harus googling dulu, apa arti copet yang sedikit lebih lengkap, walaupun gue yakin, kita semua udah tahu, apa itu copet. Jadi, gini, menurut Wikipedia, Copet adalah bentuk pencurian yang melibatkan mencuri uang atau barang berharga lainnya dari orang korban tanpa membuat mereka mengetahui bahwa barang mereka dicuri pada saat itu. Hal ini membutuhkan ketangkasan yang cukup besar dan bakat. Seorang pencuri yang bekerja dengan cara ini dikenal sebagai pencopet. Begitu lebih kurang pengertiannya.

Kemarin, 18 Juli 2014, bertepatan dengan hari ulang tahun bokap gue, tapi, di hari itu, bertepatan pula sama gue yang nyaris dicopet (ya, walaupun udah beberapa kali berhadapan sama situasi kaya gini, sih), gue pergi ke kampus buat ngambil ijazah, gue berangkat dan pergi naik kereta, seperti biasa. Ketika pulang, gue naik dari stasiun Depok Baru. Setelah sampai dan berdiri di peron (tempat orang menunggu kereta datang), langsung ada pengumuman bahwa kereta yang gue naiki akan segera datang, lalu gue berdiri di dekat garis kuning pembatas, tanda aman untuk berpijak para penumpang yang akan naik kereta. Seperti biasa, kereta penuh sesak di jam pulang kantor, entah yang turun, atau yang naik. Nah, di sini si pencopet beraksi. Di waktu gue mau masuk ke dalam kereta, ada 2 orang yang masuk dengan cara menghimpit gue, awalnya gue biasa aja, karena maklum, namanya juga di kereta, berdesakan itu biasa, tapi, lama-lama gue makin ngerasa aneh, karena sedikit demi sedikit resleting tas gue yang di depan (yang berkantong kecil) terbuka. Keajaiban, gue selalu membiasakan diri untuk menaruh tas di depan ketika di kereta, dan menjaga setiap resleting, dengan tujuan, kalau resleting terbuka, gue masih bisa merasakan dan tahu ada apa. Hal itu akhirya "bekerja", kemarin gue tahu, gue akan dicopet. Sebelumnya, gue main hape ketika berdiri di peron. Modus si pencopet klasik, menghimpit gue dan membuka resleting tas gue secara perlahan, sial bagi si pencopet, karena tangan gue sudah sigap di bagian resleting tas. Awalnya si pencopet masih berusaha membuka resleting tas gue, namun setelah gue tutup lagi si resleting tas dengan tangan gue, dia akhirnya melewati gue dan mengincar penumpang lain. Kenapa gue tahu? Karena gue mencoba mengobservasi modus dan cara mereka. Gue liat dengan mata kepala sendiri, dia beraksi lagi di depan gue, merogok kantong, entah dia dapat sesuatu atau ngga, yang jelas, gue seperti melihat dia mengoper suatu barang hasil dari merogok kantong orang lain ke komplotannya, sayang, gue ga yakin dia dapet atau ngga. Di satu sisi, mungkin gue jahat, membiarkan orang lain jadi korban, gue ga berani berteriak, karena gue merasa kurang bukti, gue butuh bukti untuk menegaskan bahwa mereka pencopet. Gue ga bisa asal teriak "copet", di waktu gue kurang atau ga punya bukti. Sial. Dalam kejadian ini, Alhamdulillah, gue selalu dilindungi Allah, dan seringkali diingatkan untuk mawas dan menjaga diri dari hal demikian.

Bukannya mau sotoy atau sok mau ngasih tips, tapi, karena udah beberapa kali berhadapan sama kejadian macem ini, gue mau ngasih tips berdasarkan apa yang pernah gue alami. Jadi, gini, tips bepergian dan aman dari pencopet versi gue:
1) Ke manapun kita pergi, selalu berdoa. Minta perlindungan sama Tuhan, lindungi kita dari orang (yang berniat) jahat di manapun, kapanpun,
2) Ga boleh pede walaupun tempat atau kendaraan umum yang lo pijak aman dan nyaman, se-aman dan senyaman apapun tempatnya, lo harus tetap mawas dan jaga diri, jaga barang yang lo bawa pastinya,
3) Sigap dengan barang yang lo bawa atau barang yang ada di sekitar lo, termasuk apa yang lo pakai,
4) Ga boleh mencla-mencle ketika berada di tempat umum atau kendaraan umum, fokus jadi pilihan yang lebih baik, liat keadaan sekitar,
5) Latih feeling lo terhadap getaran sekecil apapun ketika berada di tempat umum atau kendaraan umum, karena sesempurna apapun aksi si pencopet, pasti ada celah dan kemungkinan gagalnya, biasanya disebabkan karena aksi mereka kurang mulus, karena getaran itu tadi. Bisa jadi ketika buka resleting tas atau ketika merogok kantong.

Sekian aja info dari gue, gue harap bermanfaat, karena pencopet bisa ada di mana-mana. Pencopet mungkin pintar, tapi, mereka ga boleh lebih pintar dan ga boleh lebih cerdas dari kita (yang bukan pencopet).

Thursday, 26 June 2014

Capture 4PA01-2009

Dear, kenangan, tolong sampaikan ke semua orang yang ada di foto ini, gue rindu mereka semua, dalam benak, ucap, ataupun segala tindakan yang pernah diusahakan untuk menghubungkan satu sama lain diantara sekian banyak orang yang hadir dalam kejadian sederhana di (beberapa) foto ini.

















Sekedar mengingatkan, tanpa maksud riya atau mengingat kebaikan, foto-foto ini diambil waktu kita diskusi soal buka bareng di panti asuhan.

Maaf kalau banyak foto yang blur atau banyak temen-temen yang ga ke-foto, ya. Hai, 4 PA 01-2009.

Catatan Seorang Perekrut #17 Recruiter yang Insecure dengan Perjalanan Karirnya

Jumat, 14 Juli 2017. Hari yang nggak akan pernah saya lupakan dalam perjalanan karir yang, usianya masih seumur jagung ini. Hari di mana akh...