Sunday, 2 October 2016

Asisten Laboratorium

Agustus 2009, gue resmi jadi Mahasiswa di salah satu Universitas ternama berinisial UG. Universitas Gunadarma kepanjangannya. Fokus cerita kali ini bukan tentang kegiatan kuliah gue selama hampir 4,5 tahun, bukan. Kali ini lebih spesifik, gue mau mengenang pengalaman selama menjadi asisten laboratorium atau yang lebih dikenal dengan sebutan aslab.

Pertama kali gue tertarik jadi aslab adalah ketika gue jadi praktikan (mahasiswa yang menjalani praktikum) di semester dua. Gue langsung yakin dengan sotoynya, gue harus jadi aslab di semester 6 nanti (karena salah satu syarat jadi aslab di kampus gue ketika itu adalah sudah memasuki semester 6) dan gue langsung cerita ke mama, gue pengen jadi aslab. Setelah kurang lebih tiga tahun kuliah, akhirnya gue segera mendaftar jadi calon aslab begitu ada informasi mengenai penerimaan aslab. Setelah melalui beberapa proses dan mama yang mendoakan, akhirnya gue diterima, Cerita selesai. Engga, deng, engga sesingkat ini juga.

Sampai dengan saat ini, gue masih ingat, pertama kali gue berdiri di depan lab, jadi tutor buat para adik kelas adalah menjelaskan tentang pengerjaan tes pauli. Banyak diantara kalian pasti pernah dengar kalimat, "selalu ada pengalaman pertama dan pengalaman pertama seringkali bikin deg-degan", gue pun merasakan hal itu ketika pertama kali jadi tutor. Deg-degan, bicara gak karuan, gue belum bisa kontrol keadaan saat itu. Lucu kalau diinget. Sampai akhirnya, gue bisa membiasakan diri dengan rutinitas itu.

Kontrak aslab itu kurang lebih enam bulan, ketika kontrak berakhir, pilihan ada di aslab itu sendiri, jika ingin lanjut, tanda tangan perpanjangan kontrak, jika tidak, tidak perlu tanda tangan. Di lab sendiri memang ada peraturan seperti itu, pernah dapat penjelasan dari dosen, agar mahasiswa yang menjadi aslab terbiasa dengan lingkungan kerja nantinya, khususnya tentang kontrak kerja. Itu ilmu sekaligus bekal nantinya, dan gue memilih untuk perpanjangan kontrak, hal itu berlangsung selama kurang lebih dua tahun.

Selama menjadi aslab, tentu gaya dalam memberi materi kepada adik kelas berbeda antara aslab satu dengan aslab lainnya. Terlalu panjang kalau gue bercerita bagaimana gaya teman-teman gue yang jadi aslab satu per satu. Gue sendiri lebih menyukai memberi materi sambil bercanda, adik kelas bebas melakukan yang mereka mau, ngobrol, bercanda bareng gue, sambil main hape, kayang, jualan, etapi gak sampai segitunya juga, sih. Mungkin gue satu-satunya aslab yang pakai kata "gue-elo" dalam menyampaikan materi, karena gue sempat tanya ke teman-teman aslab yang lain, mereka kalau menyampaikan materi biasanya pake kata sapaan "aku-kamu" atau "saya-kamu". Bebas, menurut nyamannya masing-masing. Selama jadi tutor, biasanya kelompok gue paling rame, ketawa berisik dan dikenal suka ngobrol. Gue gak risih, karena memang nyamannya seperti itu, yang penting praktikan mengerti dan paham materi yang disampaikan. Disamping itu, gue pun seringkali tanya terlebih dulu ke praktikan, mereka lebih suka cara belajar seperti apa. Setiap praktikan yang ditanya, selalu mengeluarkan jawaban yang sama, intinya gak kaku dan sambil bercanda. Sederhana. Itu yang jadi alasan gue kenapa ketika jadi aslab selalu bikin rame kelompok. Diajak bercanda dulu, setelah mereka puas bercanda dan ngobrol, baru gue akan menyampaikan materi parktikum. Pengalaman berharga, karena dari situ gue sedikit belajar beradaptasi soal gaya belajar. Selain itu, sesekali gue suka kasih reward buat praktikan yang bisa jawab ketika diberi pertanyaan. Seringnya cokelat. Mereka suka kalau ada reward. Memang, reward lebih efektif dibanding punishment.

Gue seringkali menggebu-gebu kalau cerita soal pengalaman jadi aslab, secara langsung atau tulisan. Excited. Mungkin, ini berkaitan sama apa yang gue suka dan gue mau di masa lalu. Gue tau ini ga akan pernah terulang, setidaknya, gue selalu bisa mengenang. Ruangan lab pun jadi salah satu ruangan yang selalu punya kenangan sendiri ketika gue bisa berkunjung ke sana. Sampai dengan detik ini, gue belum pernah berkunjung ke lab lagi. Terakhir kali gue ke lab, sewaktu gue sebar undangan pernikahan. Emosional.

Gue ngerasa tulisan ini kurang terstruktur dan kurang menceritakan banyak detail dari apa yang gue jalani selama jadi aslab, tapi, gue pastikan kenangan dan detailnya terekam dengan baik di ingatan jangka panjang gue.




Orang Baik

Sabtu dan minggu, waktu yang pas buat bermanja-manja bareng istri, menurut gue, termasuk bercanda, cerita tentang hal apapun, juga kumpul bareng keluarga. Tiduran, denger istri nyanyi, masuk dalam agenda sederhana di sabtu dan/atau minggu. Ketika streaming beberapa channel di youtube sambil tiduran, gue ngeliat beberapa video eksperimen sosial, yang paling menarik perhatian gue, ekseprimen sosial tentang wanita yang berhijab dan digoda oleh beberapa orang (beberapa orang ini tentu rekan-rekan dari si wanita --settingan--, namanya eksperimen sosial, pastinya ingin melihat bagaimana orang di sekitar akan bertindak ketika melihat kejadian seperti itu), yang kedua, tentang seseorang yang beragama Islam dan melaksanakan solat di jalanan tempat orang berlalu-lalang dan diganggu oleh seseorang (yang pastinya juga kerabatnya, karena sedang melakukan eksperimen sosial dan ingin melihat bagaimana orang disekitar bertindak, ketika ada seseorang yang beribadah, lalu diganggu oleh seseorang yang tidak dikenal), yang ketiga tentang seseorang yang ingin menggunakan jasa transportasi ojek online, dia sudah memesan ojek online, driver ojek online sudah datang, dan dia menjelaskan, sedang terburu-buru ingin menjenguk ibunya yang sedang sakit, namun karena uang dia sudah habis untuk beli obat, dia tidak bisa membayar tarif yang sudah ditentukan, di sini eksperimenter ingin mengetahui, apakah driver ojek online akan tetap mengantar dengan sukarela, walaupun tanpa dibayar sepeserpun.

Hasil dari ketiga sosial eksperimen itu positif, dalam tiga kasus yang berbeda, selalu ada orang baik yang menolong. Ketika menonton video sosial eksperimen itu, gue teringat mengenai persoalan yang pernah gue share ke sahabat gue semasa kuliah, tentang orang baik. Tanpa maksud menggurui, gue punya pemikiran, "ketika kita percaya di dunia ini masih banyak orang baik dan fokusnya adalah orang itu baik, maka kita akan dikelilingi oleh orang baik", dan gue percaya akan hal itu. Salah satu dosen pernah menjelaskan, "apa yang ada di sekitar, itu cerminan dari diri kita. Kalau kita mau mendapatkan hal lain yang lebih baik, dimulai dari mengubah diri sendiri, karena tanpa disadari, kita selalu berkumpul, berteman, berkelompok dengan orang yang memiliki kesamaan dengan kita". Orang baik akan selalu ada dan pasti akan selalu ditemukan, karena mau berada di manapun, orang baik akan selalu menjadi orang baik, ditambah lagi, orang baik tidak perlu menjelaskan bahwa dirinya baik.

Masih banyak orang baik dan hal positif yang bisa dilakukan, kok. Yakin dan temukan.

Saturday, 27 August 2016

Rainbow Tahu Bulat

Ada instruksi untuk bekerja di hari libur bekerja alias lembur itu jelas ga menyenangkan. Pekerja yang melakukan lembur kerja bisa aja bercanda dan ketawa satu sama lain di waktu tersebut, tapi, sebahagia apapun tawa dan canda yang dilakukan diwaktu lembur, ga akan menggantikan waktu kebersamaan waktu di mana kita bisa kumpul dengan keluarga. Itu diluar uang lembur dan passion dalam bekerja pastinya. Itu cuma intermezzo aja, sih, "intro" di tulisan gue kali ini. Kali ini gue mau bercerita tentang pengalaman gue yang berkaitan dengan betapa usilnya pertanyaan atau pernyataan yang dilontarkan seseorang, sederhananya, sih, ga penting.

Pagi tadi ketika gue berangkat ke kantor untuk lembur, di kereta gue liat beberapa Turis (yang biasa kita sebut "Bule") memakai pakaian batik. Entah itu Turis dari mana, karena gue ga iseng ajak ngobrol, yang jelas sebelum berangkat lembur gue sempetin sarapan dan sebelum naik kereta gue tap-in dulu pake kartu multitrip. Kemudian hening.

Lanjut ke cerita batik yang dipakai oleh si Turis. Kalian pasti pernah ditanya atau dengar celetukan ketika seseorang atau bahkan elo yang sedang memakai batik, "wih, pake batik, mau kondangan?", sejujurnya, gue risih sama pertanyaan usil macem ini. Kalaupun dia bercanda, di mana lucunya? Aneh. Memangnya batik cuma buat kondangan? Begitu Turis yang pake, kok ga ada yang tanya. "Mister, ada acara kondangan di mana? Ada receh buat "saweran", ga? Gebetannya mana? Kok cuma sendiri? Kapan nikah?", begitu seterusnya, sampai akhirnya ada tahu bulat dengan varian green tea, red velvet, bahkan ada rainbow tahu bulat. Entahlah, tidak ada yang tahu.

Siapa yang mulai mengorelasikan antara batik dan pergi kondangan, itu masih jadi misteri, dan yang lebih membingungkan adalah kenapa gue sok serius menceritakan hal tersebut. Happy weekend!

Saturday, 13 August 2016

Bukan, Bukan Itu!

Gue menikah ketika berusia 24 tahun. Pasangan gue lebih tua satu tahun. Gue memang punya keinginan menikah di usia muda, sampai akhirnya keinginan itu terwujud. Di tulisan ini gue bukan mau bercerita soal cerita usia pernikahan gue, yang kalau masuk dalam tingkat kesulitan suatu permainan, mungkin bisa dianggap pemula. Bukan. Bukan itu.

Ketika masih pacaran -gue dan istri sebelum menikah sempat pacaran kurang lebih tiga tahun- dan gue ber-ulang tahun, pasangan gue selalu bilang, "sekarang kamu ga bisa ngatain aku, soalnya kita sekarang seumuran. Walaupun cuma sementara, sih" dan selalu gue jawab, "biar aja, toh, sebulan lagi juga kamu lebih tua dibanding aku". Dari percakapan tadi, timbul pertanyaan, "di bulan apakah gue ber-ulang tahun?". Salah fokus. Bukan itu.

Kalau dihitung dan diingat (ingatan gue tajam, lho, kalian ga boleh ngeraguin ingatan gue, gue amat sangat mengandalkan kemampuan gue dalam mengingat), gue udah dua kali merayakan ulang tahun pasangan gue. Pertama di tanggal 14 Agustus 2013, kedua 14 Agustus 2014, ketiga 14 Agustus 2015. Ternyata udah tiga kali, hmm. Ulang tahun pertama, gue cuma bisa kasih jam tangan, kedua cuma bisa kasih tas, ketiga cuma bisa kasih kacamata dan hoody, ke-empat cuma bisa kasih ucapan "selamat ulang tahun, sayang" aja, udah Alhamdulillah. Soalnya masih bisa dipakai buat hari raya, ga punya juga ga apa-apa, kan, masih ada ucapan yang lama. Bukan, bukan itu.

Tulisan ini terlalu sederhana, sih, buat dikasih ke Nazliah yang di tanggal 14 Agustus bertambah usia. Itu ga masalah, walaupun sederhana, paling ga tulisan ini bisa dibaca sama Nazliah dan anak gue kelak. Gue mau anak gue kelak tau, gue amat sangat sayang sama mamanya. Dengan catatan, ada jaringan internet, biar bisa baca tulisan ini. Nanti punya hapenya yang bisa internetan, ya, nak! Kalau ga punya, pinjem aja hape tetangga, kalau paket internet di handphone tetangga abis, ajak aja ke restoran atau cafe yang ada free wifi-nya. Ribet, ya, nak. Hidup emang begitu, kalau ga makan, ya, lapar (note: saat ini, Nazliah lagi hamil, usia kehamilannya ketika gue buat tulisan ini sekitar 7 minggu 4 hari, yeaay! :]).

Gue bukan pria yang romantis atau selalu ngerti sama apa yang dimau pasangan, tapi, paling ga, di tahun 2014 gue udah coba berangkat dari Bogor ke Depok (rumahnya Nazliah) di waktu Nazliah ber-ulang tahun, tepat di jam 00.00 WIB, cuma buat ngucapin selamat ulang tahun secara langsung, bawa bunga, juga bawa kue. Iya, gue bukan pria yang romantis, kok.





Foto 2014, sekali lagi, gue bukan pria romantis.

Itu udah dua tahun lalu, ya, sayang. Kita masih pacaran, sekarang kita udah nikah, kamu juga lagi "hamil muda". Happy Wife. Itu bio baru kamu di instagram, setelah kita resmi jadi pasangan suami-istri. Itu harus jadi doa yang terwujud dan selalu aku usahakan.

Jadi istri yang selalu bahagia dan sehat, ya, Nazliah.
Jadi pasangan yang selalu mendengar dan memahami keluh kesah aku.
Bukan cuma dicukupkan, rezeki selalu diberi lebih dan disyukuri.
Selalu diberi kemudahan di setiap kegiatan.
Menyayangi-peduli orang sekitar dan disayang orang sekitar.
Kamu dan dedek sehat selalu sampe dedek kita yang lucu lahir, juga seterusnya.
Selalu dilindungi Allah S.W.T.

Aku selalu berdoa buat kamu, In Shaa Allah.

Peluk aku diwaktu kamu baca tulisan ini, ya.

From your Happy Husband, Seto Wicaksono.

As I said before, I love you, not for a while.
I do love you for a whole of my life.

Thursday, 25 December 2014

Kerjaan Utama, Berwirausaha

Kali ketiga gue udah nerima gaji sebagai karyawan. Ada perubahan yang gue rasa, dan ada asa yang gue jaga. Perubahan da asa yang lebih baik pastinya. Dari segi penyesuaian dan pembelajaran khususnya dan ada beberapa bagian yang engga disebutkan. Dari penyesuaian, akhirnya, perlahan tapi pasti, badan gue menyesuaikan sama situasi dan kondisi kerja. Capek, tapi, menyenangkan. Hal ini yang selalu gue rasakan ketika gue kuliah. Perubahan yang baik, lebih baik, buat diri gue pribadi yang masih awal mencicipi dunia kerja. Sesederhana itu. Satu bulan pertama kerja, harus diakui kalau gue belum bisa adaptasi, masih "nemuin celah" gimana gue harus bersikap dan memposisikan diri di lingkungan kerja. Sampai akhirnya, gue bisa membiasakan. Menyenangkan adalah ketika aktivitas yang gue lakuin bikin capek, tapi, menyenangkan. Disamping "menghasilkan", pastinya.

Awalnya, bekerja itu semacam beban buat gue. Berat. Lambat, tapi, pasti, karena penyesuaian yang gue lakukan, bekerja itu seakan belajar buat gue. Belajar hal baru, lingkungan baru, ilmu baru. Ya, gue anggap bekerja adalah belajar, sama halnya ketika belajar di SD, SMP, SMA, sampai kuliah. Itu yang gue lakukan agar bisa menyesuaikan.

Ketika kuliah, gue suka sama alat tes Pauli, berhubungan soal angka, butuh konsentrasi dan ketelitian. Gue berharap, di dunia kerja gue dipertemukan dengan alat tes tersebut. Sampai akhirnya, gue bekerja di salah satu bank, dan berpikir, "ah, bukan rejeki dan jodoh gue ketemu sama (alat tes) Pauli". Gue berpikir, apa yang gue kerjakan itu bukan passion gue, gue sempet gak fokus sama apa yang gue kerjakan di satu bulan pertama. Semacem merengek, karena sebelumnya, gue kuliah di jurusan yang gue amat sangat suka. Gue suka ketika berpikir tentang apa yang gue jalani, "berinteraksi" dengan diri sendiri. Gue menemukan hal yang lebih baik, menurut gue, dibanding "rengekan" yang gue lakuin di satu bulan pertama bekerja. Gue tersadar, antara alat tes Pauli dengan kerja di bank itu ada korelasinya. Sama-sama berhubungan dengan angka. Selain butuh ketelitian, ya, karena semua pekerjaan butuh ketelitian, pastinya. Gue tersenyum.

Selain belajar Psikologi, hal yang ingin gue wujudkan adalah berwirausaha. Jadi, gini, ketika baru masuk SMP, gue berpikir untuk masuk SMAN 6 Bogor. Terlalu dini, memang, untuk mikirin akan masuk SMA mana nantinya, sewaktu gue baru aja memakai seragam putih-biru, tapi, hasilnya? Gue masuk dan sekolah di SMAN 6 Bogor, setelah lulus SMP. Kelas 1 SMA, gue mulai berpikir, akan kuliah di jurusan apa nantinya. Hal yang sama, masih terlalu dini untuk anak 1 SMA untuk berpikir tentang itu, tapi, ga ada salahnya. Gue emang sukanya begitu, dipikirkan bagaimana ke depannya, setelah berhadapan dengan "depannya", baru gue jalani dan ada targetan pastinya. Harus. Ketika ditanya akan kuliah di jurusan apa, gue jawab, Psikologi. Kejadian terulang, benar adanya gue kuliah di jurusan tersebut. Setelah kuliah, awal kuliah, yang gue pikirkan dan yang ingin gue wujudkan adalah, lulus kuliah gue menjadi karyawan, setelahnya, gue berwirausaha, punya bisnis sendiri di bidang kuliner (makanan) dan clothingan dan bisa mempekerjakan orang lain, memberi mereka gaji yang sesuai, agar mereka bisa hidup layak. Kejadian terulang? Harus. Gue harus ngotot untuk hal itu. Gue harus mengusahakan agar hal itu terwujud (note: saat ini gue sedang merintis bisnis clothingan bareng 2 orang temen di kantor. Deri dan Indra. Terima kasih buat mama juga Nazliah, yang support apa yang gue "ngotot"-in).

Gue bertanya sama diri sendiri, "apa passion dalam hidup itu cuma dan harus satu?", kesimpulan gue mengkerucut, sederhananya, passion itu hasrat, sesuatu yang kita senangi, ketika kita menjalani. Jadi, mana mungkin kesenangan dalam hidup itu harus di-"kotak"-an jadi satu, sedangkan kesenangan dalam hidup itu amat sangat banyak. Psikologi dan berbisnis jadi hal yang gue senangi. Berbisnis untuk sesuatu yang menghasilkan di masa sekarang dan mendatang, tentunya. Gue gak mau selamanya jadi karyawan. Kalaupun selamanya jadi karyawan, itu jadi kerjaan sampingan gue. Kerjaan utama, berwirausaha.

Saturday, 25 October 2014

Menjalani Proses

Udah sekitar sebulan gue ga update blog. Berasa ada yang kurang. Walaupun sebenernya tiap gue posting, isinya biasa aja. Paling engga, ketika gue posting sesuatu di blog, gue udah menuangkan apa yang gue pikirkan dan ga ketahan gitu aja di kepala gue. Hehe.

Genap satu bulan gue bekerja, syukur, gue pun udah nerima gaji pertama. Awal yang cukup baik. Gue mulai masuk kerja tanggal 25 September. Sampe sekarang, gue masih suka "kikuk", bingung, kerja itu ngapain aja, sistematikanya gimana, mau gimanapun, ini pekerjaan pertama gue setelah akhirnya gue menyelesaikan studi di perkuliahan. Gue masih butuh bimbingan dari orang di kantor. Selalu butuh bimbingan dan arahan. Gue menjalani masa kerja pertama gue dengan lesu dan kurang semangat, tanpa mengurangi rasa syukur, udah dapet pekerjaan. Gue kurang semangat, karena sedih di waktu itu. Gue kepikiran Nazliah. Dia masih cari pekerjaan ketika itu, gue udah dapet. Gue sedih, karena sebelumnya, kita cari kerjaan bareng-bareng, kalau dia lagi interview atau psikotes, gue yang nemenin, begitu juga sebaliknya. Dia selalu nemenin gue, di mana dan kapanpun gue di psikotes dan interview. Sebelum gue dapet pekerjaan yang sekarang, Nazliah sempet nemenin gue psikotes sekaligus interview di kawasan Karet, Jakarta. Gue pikir psikotesnya cuma sampe sekitar jam 12an, setelah itu, gue dan Nazliah langsung main. Ternyata engga gitu. Gue balik jam 5 sore. Nazliah udah nemenin gue dari sekitar jam 5.30 pagi. Gue sedih, terharu, karena ketika nunggu gue, dia ga ngeluh sama sekali. Dia tulus nungguin gue yang lagi psikotes dan interview. Kalau inget momen ini, mata gue selalu "berkaca-kaca", karena terharu.

Sedihnya ga berenti di situ. Gue udah dapet kerjaan lebih dulu dibanding Nazliah, itu berarti, Nazliah harus berjuang sendiri ketika dia ada panggilan interview atau psikotes. Sedih rasanya, ketika gue ga bisa bales ketulusannya dia. Akhirnya ketika ada beberapa kali panggilan psioktes, yang nemenin itu Papa-nya. (Maaf, ya, Nazliah, di waktu kamu psikotes, aku ga ada di sana, aku malah ngomel-ngomel dan egois.) Nazliah akhirnya dapet pekerjaan pertamanya, dia mulai bekerja di tanggal 9 Oktober, ga lama setelah gue bekerja.

Sekarang kita udah sama-sama kerja, kita masih sering ngeluh soal kerjaan kita. Sama-sama ngeluh. Kita belum terbiasa sama kesibukan ketika bekerja. Gue sedikit lebih beruntung, karena ketika kerja, gue bawa kendaraan menuju kantor, jadi, bisa meminimalisir macet, ditambah antara rumah dan kantor gue bisa ditempuh hanya dengan waktu 20-30 menit. Sedangkan Nazliah, dia harus bangun sekitar jam 4.40, mandi, bersiap, dan berangkat jam 6. Lewat dari jam itu, dia akan kejebak macet, kerjaan di kantor ga ada abisnya, waktu istirahat juga minim, pulang paling cepet dari kantor jam 5 sore dan masih harus duduk berlama-lama di angkutan umum karena jalanan yang tersendat. Kemaren banget, Nazliah nangis dan bilang, dia cape, dia ga mau kerja. Pengen peluk rasanya ketika gue denger dengan jelas dia bilang gitu dan sambil nangis dengan nada manjanya dia. Ditambah, dari awal kerja sampai sekarang, kesehatan dia lagi drop.

Kita udah sama-sama kerja, Naz. Tanpa maksud menggurui, kita lewatin bareng-bareng prosesnya, ya. Tujuan kita, kan, nantinya berwirausaha. Sekarang, salah satu hal yang penting, kita harus adaptasi sama kerjaan kita. Fisik kita juga lagi adaptasi, kok. Maaf kalau aku masih suka egois, ya. Inget, tujuan, target kita berwirausaha. Untuk sekarang, kita masih jadi "pembantu". :)

Gue kerja di bank. Gue lulusan Psikologi. Tanpa maksud merasa hebat dalam Psikologi, gue amat sangat rindu sama yang namanya alat tes (Psikologi). Di kerjaan gue yang sekarang, gue ga akan ketemu sama yang namanya alat tes. Hari-hari bekerja gue, selalu terisi dengan rasa kangen alat tes atau obrolan yang berhubungan tentang Psikologi. Itu kenapa begitu orang kantor sedikit nanya atau pengen tau tentang alat tes atau ngobrolin yang berhubungan soal Psikologi, gue selalu excited. Mereka ga akan tau, gue nahan haru, karena rasa kangen gue. Walaupun ga sampai tergila-gila, mungkin Psikologi udah jadi semacem passion.

Sumpah demi apapun, gue rindu sama alat tes, rindu jadi tutor buat junior yang ngajarin beberapa alat tes. Ada 11 bulan lagi untuk ngabisin kontrak kerja gue (yang berdurasi satu tahun). Semoga gue masih inget, gimana cara mengerjakan alat tes dan "cara kerja" dari alat tes itu sendiri. Nazliah, yang semangat, ya. I love you.

Sunday, 21 September 2014

Terima Kasih, Nazliah.

Minggu, 21 September 2014. Siang hari ketika gue bingung mau ngapain, sampai akhirnya gue memutuskan untuk menulis artikel ini. Gue ngetik di kamar gue, seperti biasa, ditemenin sama detik dari jam weker Liverpool kesayangan, di kamar yang rencananya akan gue isi dengan banyak marchandise Liverpool FC. Hehe. Pagi tadi gue futsal jam 10.20-11.20, lumayan, olahraga, ngebakar dan mengurangi lemak di perut yang makin menggumpal. Akhirnya gue mandi sekitar pukul 13.40, karena keringetnya bikin badan jadi lengket. Selama gue mandi, entah kenapa gue kepikiran Nazliah. Sebenernya gue kepikiran dia dari seminggu yang lalu, yang gue pikirin itu, "kita ketemu ketika kita sama-sama ngerjain skripsi dan nemuin kesulitan, sampai akhirnya kita saling support dan saling bantu semampu kita, apalagi gue, gue ngerasa banyak dibantu lewat kehadirannya dia. Dia emang spesial". Tuhan memberi gue bantuan lewat perantara Nazliah. Tuhan pun memberi gue motivasi lebih melalui keluarga juga orang di sekitar. Tanpa maksud tidak menghargai yang lain, kali ini yang gue bahas adalah Nazliah.

Gue ngerasa seneng dan bersyukur, Nazliah hadir di waktu yang tepat. Kita sama-sama dari jurusan yang sama, cuma beda angkatan. Dia senior gue di kampus. Dia ada ketika gue butuh motivasi lebih untuk menyelesaikan Tugas Akhir alias skripsi. Gue emang (harus) bisa menyelesaikan skripsi gue sendiri, tapi, dengan adanya Nazliah, gue punya motivasi lebih dan ngerjain skripsi jadi menyenangkan. Gue ga perlu kebingungan cari temen sharing buat skripsi. Udah jadi realita, di saat ngerjain skripsi, temen-temen seperjuangan kita ketika kuliah entah ke mana. Engga, gue ga menyalahkan mereka, karena gue tahu, mereka juga sibuk dengan skripsinya masing-masing. Nazliah yang selalu nemenin dan jadi temen sharing ketika gue membutuhkan hal tersebut. Nazliah selalu nemenin dan ngedukung gue dalam pengerjaan skripsi, sampai akhirnya gue sidang di tanggal 29 Maret 2014. Rasanya berhadapan sama sidang skripsi itu deg-degan campur biasa aja. Ketika pengumuman kelulusan, pun, gue ngerasa biasa aja. Yang luar biasa adalah ketika di jalan pulang sendirian, dan tersadar, gue udah lulus.

Ga berhenti di situ, Nazliah nemenin gue sampai sekarang. Iya, kita "berkomitmen", mengusahakan, dan punya tujuan. Ga perlu diperjelas, kan, apa maksudnya? Hehe. Setelah lulus, kehidupan berasa dimulai dari nol, karena kita masuk ke tahapan awal menjalani kehidupan yang sebenarnya. Begitu kata orang bijak. Saat ini, gue dan Nazliah masih sama-sama berusaha menemukan pekerjaan. Gue amat sangat berharap, 2014 bisa produktif, paling tidak, di sisa 2014 yang tinggal beberapa bulan lagi. Produktif bisa berarti luas, kalau dipersempit, paling tidak mengacu pada berusaha, mengusahakan sesuatu. Dalam hal ini, bisa berusaha menghasilkan uang jajan buat diri sendiri. Sesekali rasanya berat, ketika beberapa teman yang lain sudah bekerja, dan kita masih berusaha. Berat itu bisa jadi ringan, ketika ada seseorang yang menenangkan.

Kalau mengacu sama judul artikel ini, sebenernya kurang berkesinambungan, tapi, kata terima kasih, tetap dan selalu jadi reward buat seseorang, supaya sesuatu yang baik itu bisa selalu dilakukan dan yang menerima (ucapan) akan jadi makin senang untuk melakukan hal tersebut. Terima kasih, Tuhan, Nazliah ada di waktu yang tepat. Terima kasih, Nazliah, kamu selalu ngisi hari aku (karena kadang aku ngerasa, kalau ga ada kamu, beberapa hal akan jadi berat, Di waktu kamu ada, banyak hal yang bisa dicapai).

:)

Catatan Seorang Perekrut #17 Recruiter yang Insecure dengan Perjalanan Karirnya

Jumat, 14 Juli 2017. Hari yang nggak akan pernah saya lupakan dalam perjalanan karir yang, usianya masih seumur jagung ini. Hari di mana akh...