Monday, 25 March 2019

Catatan Seorang Perekrut - Terima Kasih, Pengalaman. #9

17 Juli 2017, hari kedua gue masuk bekerja sebagai perekrut bertepatan dengan hari Senin. Ketika itu, gue masih terbayang dengan suasana kerja di bank, yang mana tiap Senin pasti rame, penerimaan warkat untuk kliring pun jauh lebih banyak dibanding hari lain. Untuk transaksi lain? Sama banyaknya. Nasabah yang datang? Ga perlu ditanya. Di kantor gue yang baru ini ternyata sama juga, lagi banyak banget kandidat yang datang karena memang lagi ada kebutuhan banyak, entah yang datang walk in interview atau pun yang sebelumnya diundang. Lobi di ruang depan seketika bising dan rame. Makin teringat sama suasana di bank. Gue nyampe kantor bisa dikatakan siang, sekitar jam 08.15 karena belum nemu waktu yang tepat jam berapa harus berangkat dari rumah dan jam berapa amannya naik kereta dari Stasiun Bogor.

Ga lama gue nyampe dan merapikan CV yang dibawa para kandidat, gue disapa oleh dua perempuan, "hai, Kak, aku Citra", lalu yang satunya, "hai, Kak, aku Eva". Gue baru sadar, mereka ini dua anak magang yang gue ceritakan di bagian sebelumnya. Kenapa gue baru sadar? Karena Sabtu mereka ga masuk, jadi gue baru liat wujudnya mereka. "Kakak baru masuk hari ini, ya?" tanya Eva. "Iya, sebetulnya Sabtu udah masuk, tapi kalian belum ada, ya?". Citra jawab, "iya, Kak, soalnya Sabtu buat kita ga wajib datang". Setelah itu, kami langsung menyusun CV dengan rapi agar setelahnya kandidat yang datang bisa segera diwawancara. Oh, ya, Eva dan Citra ini masih aktif sebagai mahasiswa, mereka magang sambil kuliah.

Entah kenapa makin siang, kandidat yang datang makin banyak. CV pun makin menumpuk di atas meja. Gue sempet mikir, "ini beres jam berapa kalau kandidat yang datang sebanyak ini?". Beruntung, karena sudah terbiasa kerja di bank yang menuntut karyawannya harus bisa kerja cepat dalam melayani nasabah, gue jadi bisa segera adaptasi sama hiruk-pikuk juga keramaian ini. Dari mulai beresin CV, mengarahkan kandidat, dan lain sebagainya. Bahkan ada salah satu trainer yang bilang dan gue masih inget apa yang dibilang sampai sekarang, "wuih, Seto udah cepet aja ini kerjanya, udah nyetting banget kayaknya". Ya, harus diakui gue terbiasa sama apa yang gue kerjakan sebelumnya yang memang menuntut kecepatan sekaligus kepuasan nasabah. Bukan maksud sombong atau membanggakan diri, justru gue bersyukur soalnya ada "bekal" yang bisa gue aplikasikan. Hal yang berbeda adalah, di perbankan gue mau ga mau menganggap nasabah adalah raja dan perlakukan mereka dengan baik, tapi menurut sudut pandang gue, ga semua raja itu bijaksana. Ada raja yang baik nan bijaksana, ada raja yang semena-mena. Selama di perbankan, rasanya gue udah biasa loh, dikatain "bajingan", "bangsat", "dasar kau pembantu perusahaan aja belagu". Sakit hati? Awalnya iya, tapi yang kali kedua dan seterusnya, biasa aja. Malah jadi bahan guyonan. Hal ini ga gue temukan ketika gue jadi bagian dari HRD (Perekrut), mau ku emut kupingnya kalau pas wawancara ada kandidat yang berani bilang gitu? Hehe.

Hari itu, setelah selesai proses wawancara, siang hari kami langsung melakukan psikotes, ada 24 kandidat yang mengikuti proses ini. Belajar dari rasa grogi gue di hari sabtu ketika proses psikotes, sekarang gue akan didampingi oleh Citra dan Eva, walaupun mereka magang, tapi sudah dibekali dan belajar administrasi psikotes sebelumnya. Jadi, gue akan belajar dan lihat cara mereka dalam melakukan proses administrasi psikotes. Loh, kok, staff malah belajar sama anak magang? Buat gue belajar bisa dari siapa aja, gue ga malu, kok, belajar sama yang lebih muda atau yang kalian sebut cuma magang, selama bisa dan berkompeten, kenapa engga? Mereka memang terbukti bisa menguasai administrasi psikotes dengan baik. Selama pengerjaannya, kami bertiga berbincang ringan semacam biar bisa kenal lebih jauh. Dari cara Eva dan Citra bicara, mereka ini perempuan yang pintar juga cantik. Hehe. Mau kepoin akun instagramnya? Nih: @evageulistiaa dan @rclestari27 (gue udah izin ke mereka buat share akun instagram mereka di tulisan ini, hehe). Psikotes pun selesai, beberapa diantara kandidat yang sesuai dengan kualifikasi dijadwalkan wawancara lanjutan dengan User, info diterima atau tidak pun dilaksanakan di hari yang sama. Gue masih bingung gimana alurnya, yang jelas gue sambi melihat senior gue dalam bekerja.

Proses hari ini menyenangkan, ada satu kejadian yang lucu sekaligus iba juga. Satu kandidat yang baru saja diterima dan ikut training hari pertama telat datang, dia dijadwalkan masuk jam 08:00 WIB, namun baru datang sekitar jam 09:00, dia minta maaf sambil nangis, sampai sekarang gue masih inget apa yang dia bilang ke receptionist, "Maaf saya telat, Mba, saya keder (pusing) sama jalanan Jakarta, saya turun metromininya kecepetan, malah turun di deket Semanggi, masih jauh dari gedung Patra Jasa, jadinya saya keder terus jalan kaki, masih capek ini, Mba". Setelah diusut dia ini memang lulusan baru dari suatu SMK di kota Depok. Analisa cetek gue, mungkin dia belum bisa estimasi waktu keberangkatan, masih bingung sama kondisi jalanan di sekitaran Jakarta, dan masih polos karena baru lulus sekolah juga, kan. Dia masih bingung ketika telat harus gimana resiko yang harus diterima apa.

17:30 WIB, akhirnya jam pulang tiba, gue pamit ke orang di ruangan. Gue pulang dengan memesan ojek online terlebih dulu, terpaksa, karena gue masih belum tau segimana macetnya jalanan Jakarta di jam pulang kantor. Mitosnya, sih, macet banget. Setelah driver tiba di lokasi penjemputan, gue bergegas pulang, biar besok ada tenaga buat ngobrol dan genitin Eva dan Citra fit kondisi badannya. Pada akhirnya, gue amat sangat bersyukur di pekerjaan sebelumnya, gue sudah dihadapkan dengan hiruk-pikuk dalam bekerja, diasah mentalnya dari mulai harus cepat dalam melayani nasabah juga harus siap ketika dapat ucapan yang kurang berkenan. Untuk semua yang sudah dilewati pada periode pertama gue bekerja, gue selalu ingin menyampaikan, "terima kasih, pengalaman".

You can never make the same mistake twice, because the second time you make it, it's not a mistake, it's a choice. -Steven Denn

Monday, 18 March 2019

Catatan Seorang Perekrut - Debut Seorang Perekrut. #8

Pagi itu ketika gue berangkat kerja di hari kedua setelah tanda tangan kontrak, rasanya dingin banget. Gue berpakaian rapi, kemeja krem, celana cokelat, juga sweater biar hangat. Setelahnya gue sadari, kayaknya badan gue drop, belum terbiasa harus bangun subuh dan langsung beraktivitas, sepertinya. Pukul 05.30, tidak ramai laiknya hari kerja, perlu diingat, gue langsung diminta untuk lembur di hari Sabtu. Selama di kereta, gue mengingat lagi apa aja yang dikerjakan selama menganggur alias jobless. Bantu istri di rumah, cuci piring, nyapu, ngajak ngobrol Tobio yang ketika itu usianya kurang lebih empat bulan, pokoknya apa yang bisa dikerjakan, gue lakukan. Terharu setelahnya, malah ada rasa kangen ada di rumah bareng Nazliah dan Tobio -mungkin karena kebiasaan tersebut sudah terbentuk selama 14 hari-. Selain itu, gue pun masih ga menyangka akan bekerja di kantor baru, dengan ruang lingkup pekerjaan yang baru, kebiasaan baru, dan rekan kerja baru. Meninggalkan kebiasaan lama berikut juga rekan kerjanya. Adaptasi.

Awal lulus kuliah, gue memang ingin kerja di Bogor dulu, biar dekat dengan domisili, setelah merasakan kerja di Bogor, eh, malah pengen kerja di kawasan Jakarta, naik kereta dan transjakarta biar seperti pekerja kebanyakan. Hehe. Lumayan ada konten baru yang bisa diposting di instastory dengan segala keunikan cerita kemacetan di Jakarta. Untuk menuju Gatot Subroto, awalnya gue turun di Stasiun Sudirman, dilanjutkan dengan naik metromini 640 untuk menghindari kemacetan. Namanya anak baru, belum tau rute efektif lewat mana karena belum banyak tanya dan ga nanya ke teman. Singkat cerita, tiba di kantor sekitar jam 08.00, kepagian. Ruangan masih kosong. Baru bengong sebentar, akhirnya mulai pada berdatangan, ada satu supervisor dan dua rekan kerja gue, mereka gue anggap senior karena memang lebih dulu dan lebih lama masa kerjanya dibanding gue yang baru satu hari. Selain ada mereka ini, di ruangan nanti ada dua anak magang, sebab Sabtu, jadi mereka ga perlu masuk.

Diinfokan, pada hari itu udah banyak kandidat yang dihubungi untuk mengikuti proses walau pun hari Sabtu karena sedang ada kebutuhan atau projek baru. Mulai 08.30, akhirnya kandidat mulai berdatangan satu per satu. Cukup banyak, sekitar 20 orang. Awal mula wawancara kandidat, gue liat bagaimana para senior gue "beraksi", apa aja yg sekiranya wajib ditanya, selebihnya probing aja. Jujur aja, awal mula wawancara itu gue belum dapet feelnya, kandidat yang bagus itu yang seperti apa dari mulai cara menjawab, jawaban yang dilontarkan, dan sikap ketika wawancara. Seadanya aja di hari pertama itu, yang penting ngerasain dulu hiruk pikuk sebagai perekrut.

Dalam satu hari yang sama, jika ada kandidat yang hasil wawancara awal paling tidak dipertimbangkan bisa langsung mengikuti psikotes. Lagi-lagi, gue harus belajar lagi soal psikotes, bagaimana administrasinya (instruksi, dlsb), skoring, dan lain-lain. Kali ini, gue langsung "dicemplungin" sama senior gue untuk psikotes sendirian secara langsung. Ga ngerti apa motivasinya, apa dia lagi sibuk atau emang mau challenge gue aja. Sempet panik juga gue, walau pun dulu sempat jadi asisten laboratorium psikologi di kampus yang tugasnya jadi tutor buat para mahasiswa untuk administrasi alat tes psikologi, ya namanya pengalaman pertama, apalagi baru "pegang" alat tes lagi. Alhasil, untuk instruksi gue langsung cari tau sendiri di internet. Begitu dapet, gue baca instruksinya langsung dari handphone. Gugup, tapi gue harus tetep keliatan profesional dan pede.

Sekitar jam 12.00, semua kandidat diistirahatkan terlebih dulu. Kami pun butuh istirahat. Selama istirahat gue ditanya dan diajak ngobrol soal proses tadi, ya gue langsung jujur aja agak grogi waktu psikotes. Setelah itu, baru lah senior gue ini ngasih instruksi alat tes yang ada di kantor dan minta dipelajari. "YA KENAPA GA DARITADI, DONG?", dumel gue.

Di debut gue ini, ada satu kandidat yang cukup menarik, sampai sekarang gue masih inget dia lulusan SMA yang melamar jadi telemarketing. Baru lulus banget dan kalau diterima akan jadi pengalaman kerja pertama banget. Waktu diwawancara gue, entah karena masih polos juga, dia cuma "iya, iya" aja dan "siap", beruntung dia ga sampai bilang "ASHIAAAAAAP" karena memang belum trendnya ketika itu. Selama wawancara kandidat ini cuma cengengesan, gue ga liat potensi dalam diri dia, dia cuma menyampaikan kalau dia niat sekali bekerja. Di hari yang sama gue ajukan dia ke senior gue, mengejutkan, dia diterima. Oke, paling engga dia akan training terlebih dulu dan akan diliat kinerjanya.

Waktu makin sore, kandidat satu per satu mulai pulang, kerjaan hari pertama selesai. Debut gue sebagai perekrut biasa aja, dilalui dengan gugup, grogi, tapi gue cukup puas karena paling engga gue on the track, kembali lagi ke jalur gue. Jadi, gue tetep positif, pede, dan optimis. Kami pulang sekitar jam 16.00, gue pesan ojek online sampai Stasiun Cawang. Sampai di rumah sekitar jam 18.30, langsung disambut Nazliah dan ditanya, "capek, ya?" juga langsung menanyakan gimana pengalaman pertama gue sebagai perekrut. Gue berbagi cerita dan dia tetap kasih support buat gue.

Setelah gue akhirnya bisa kembali ke ruang lingkup psikologi ini, gue ingin melakukan yang terbaik dari awal, karena ini yang gue suka, area ini yang menjadikan apa yang gue kerjakan seperti bermain, perjalanan kerja serasa rekreasi. For closing, "be the best version of yourself in anything you do. You don't have to live anybody else's story." -Stephen Curry.

Monday, 11 March 2019

Catatan Seorang Perekrut - Let's Do This. #7

Akhirnya, dengan seizin Allah, gue kembali bekerja sebelum gue bertambah usia, artinya dengan diterimanya gue di suatu perusahaan, itu bisa menjadi salah satu kado terindah, terbaik selama hidup gue. Kado indah sebelumnya, gue diberi amanat satu orang sahabat kecil melalui perantara Nazliah, Tobio. Intermezzo sedikit, Nazliah positif hamil setelah kurang lebih tiga bulan kami menikah. Setelah menikah dan mendekati tanggal ulang tahun gue, dia nanya, "kamu mau kado apa dari aku?", gue jawab, "aku ga mau apa-apa, semoga aja di hari ulang tahun aku, kamu udah positif hamil, ya". Nazliah sempet agak sewot dengan menimpali, "kok gitu? Positif hamil atau engganya kan tergantung pemberian Allah, terus kalau aku belum hamil, kamu kecewa, gitu?". Waduh, kayaknya gue salah dalam menyampaikan. Haha. Gue jelasin lagi, itu harapan gue, kok, kalau belum kesampaian, ya usaha terus. Yuk, matiin lampu kamar, kita berproses. Di awal Juli 2017, Nazliah mulai mual dan ngerasa aneh sama badannya, gue ga ngerti aneh di sini gambarannya gimana. Kami beli alat pendeteksi kehamilan, dan syukur, ternyata harapan, kepengennya gue terkabul sebelum gue ulang tahun, ketika itu. Flashback lagi sedikit, di tahun 2013, klub sepak bola idola gue, Liverpool FC, datang ke Indonesia dalam sebuah tour. Mereka bertanding dengan Garuda Selection ketika itu, ada yang masih ingat mereka bertanding di tanggal berapa? Yak, betul, 20 Juli. Tepat di tanggal ulang tahun gue. Pastinya, gue nonton mereka di SUGBK (Stadion Utama Gelora Bung Karno) di 2013 lalu. Itu intermezzo yg cukup banyak, ya.

Gue efektif bekerja kembali di 14 Juli 2017, tepatnya hari Jumat. Akhirnya, gue merasakan pagi hari ada di stasiun dan naik kereta untuk bekerja, berdempetan dengan penumpang lain sambil nahan ngantuk. Belum lagi dipaksa menghirup aroma bau mulut orang lain yang biasanya udah gosok gigi, tapi belum ada makanan yang masuk ke mulut. Nah, biasanya bau, tuh! Bau ketek sih belum ada, harusnya. Masih pagi, aman, dong. Liat orang yang kebagian duduk lalu tidur dengan mulut menganga sambil menghadap ke atas? Udah biasa. Rasanya selalu gue pengen bantu tutup mulutnya, tapi takut digigit. Atau pengen banget gue masukin biji jeruk, siapa tau seturunnya dia dari kereta, dimulutnya langsung tersedia kebon jeruk. Soalnya turun di Jakarta Barat. Receh banget, guys. Dulu sewaktu kuliah gue naik kereta juga, sih, tapi kan itu bukan kerja. Hehe. Kembali ke cerita, naik kereta 6.20, kurang lebih nyampe di jam 08.30. Gue tanda tangan kontrak terlebih dahulu sebelum mengikuti training sekitar jam 09.00. Ga perlu banyak mikir dan nanya ketika baca klausal, intinya cocok, langsung gue teken kontraknya. Training dilakukan satu hari full, pengenalan soal perusahaan, pre-test juga post-test pastinya ada. Beres training sekitar jam 17.30. Menyenangkan, antara deg-degan sama excited, ga sabar pengen memulai sesuatu yang baru juga sudah diidam-idamkan cukup lama.

Selepas training, gue langsung diantar menuju ruangan kerja yang akan gue tempati nantinya. Gue langsung disambut supervisor dan dua senior gue. Masih canggung rasanya, tiba-tiba kepikiran dan berprasangka, "gue bakal diterima dengan baik ga, ya? Kalau mereka udah nyaman sama staff yang lama -yang sudah resign-, kinerja gue pasti akan dibanding-bandingkan. Semoga gue bisa bekerja dengan baik dan sesuai harapan, bahkan melebihi harapan", dumel gue dalam pikiran saat itu. Ada perkenalan singkat waktu itu, lalu supervisor gue langsung bilang, "besok bisa masuk, ya? Soalnya kita lagi ada target, urgent, kebutuhan 50 orang untuk posisi telemarketing. Bisa, ya?" Sebagai anak baru, tentu gue ga bisa nolak, dong. Cuma gue juga pekerja biasa yang masih ada rasa malasnya, gue sempet mikir, "aduh, padahal besok pengen istirahat dulu, ngabisin waktu bareng Nazliah sebelum betul-betul kembali bekerja". Agak ragu gue akhirnya jawab, "iya, Pak, besok saya datang".

Akhirnya, sekitar jam 17.30 gue pulang, pulang dengan rasa senang, excited, sekaligus malas. Ya, gue pikir sabtu bisa leha-leha dulu, ga taunya harus langsung kerja. Haha. Sesampainya di rumah, gue cerita ke Nazliah besok harus masuk karena lagi ada kebutuhan banyak. Dia ga mempermasalahkan, ya mau gimana, gue kan anak baru juga, masa mau langsung ngebangkang, nunggu beberapa bulan dulu, lah, baru ngebangkang. Hehe. Gak, deng.

Kebesokannya, gue berangkat abis subuh, biar ga kesiangan. Agak berat gue berangkatnya, karena belum terbiasa ninggalin istri dan anak buat kerja, sebelumnya gue kan selalu bareng mereka selama dua minggu nganggur. Hehe. Cuma ya mau gimana lagi, ini kebiasaan yang akan gue jalani kembali dalam waktu yang sangat panjang. Pencari nafkah untuk keluarga, penerus rezeki yang sudah disediakan Allah. I don't know what it is, but I love it! -LFC Fans.

So, let's do this.

Monday, 4 March 2019

Catatan Seorang Perekrut - Kabar Baik. #6

Setelah melakukan proses wawancara pertama setelah resmi menjadi pengangguran, gue langsung pulang ke rumah, untuk menemui istri dan Tobio -anak gue- yang ketika itu masih berusia tiga bulan. Gue pulang tanpa beban walaupun dalam kondisi pasrah, lebih tepatnya memasrahkan diri. Seperti biasa, setelah dari luar, apalagi terkena asap/polusi, gue pasti langsung mandi, karena gue ga mau Tobio terjangkit virus atau penyakit apa pun yang berasal dari luar, yang menempel di badan gue. Selesai mandi, gue ngobrol banyak sama Nazliah soal gimana proses wawancara yang udah dilakukan, sambil buka situs pencari kerja, ya mau gimana pun gue masih pengangguran dan gue harus segera memasukan lamaran pekerjaan lagi, kan, biar peluang dapat panggilan wawancara lebih besar.

Selama gue liburan menganggur, gue selalu bantu istri gue beres-beres di rumah, nyapu, cuci baju, cuci piring, dan lain sebagainya. Paling engga, walaupun belum bisa memberi kembali nafkah, gue bisa berguna di rumah, meringankan pekerjaan di rumah. Kondisi dan suasana di rumah bisa dibilang baik, karena kami sama-sama menciptakan itu, kami masih bisa bercanda sama seperti sewaktu pacaran dulu, perlu diingat, tabungan kami terakhir gue resign itu sekitar dua juta, makin dihadapkan dengan pergantian waktu, pastinya makin berkurang sisa tabungannya. Sesekali kami kepikiran juga, sih, popok dan uang makan gimana. Haha.

Yang gue pikirkan dari awal gue jadi pengangguran pada 1 Juli 2017, harapannya adalah sebelum tanggal ulang tahun gue -20 Juli- udah kembali bekerja. Paling engga, hal itu bisa jadi kado buat diri gue sendiri. Udah hampir seminggu ga ada kabar perihal proses wawancara yang gue ikuti, sampai akhirnya tanggal 13 Juli 2017, istri gue diberi info oleh tempat gue melakukan proses wawancara terakhir, gue lolos semua tahapan dan diundang tanda tangan kontrak besoknya, 14 Juli 2017. Gue antara bingung dan ga percaya, "loh? Ini gue yang diterima? Senior gue gimana ceritanya itu? Kan mereka punya pengalaman, gue hitungannya masih lulusan baru untuk posisi ini", Dasar emang gue lupa bersyukur, bukannya ucap Alhamdulillah lebih dulu baru bertanya-tanya, ini malah sebaliknya. Lalu kenapa kantor ngasih infonya malah ke istri gue? Karena nomor telfon gue sulit dikontak dan gue mencantumkan nomor istri gue sebagai emergency contact.

Rezeki memang ga pernah tertukar apalagi salah alamat, ada porsinya masing-masing. Tanpa rasa jumawa, gue justru masih keheranan, kenapa bisa gue yang diterima, sampai istri gue negur, "kamu bukannya bersyukur malah nanya terus, kalau memang ternyata kamu lebih baik, mau gimana lagi?". Setelah dengar kabar baik itu, gue langsung kasih info ke orang tua juga mertua. Kami semua ucap "Alhamdulillah" di grup keluarga. "Tuh, kesempatan belum tentu datang dua kali, kan? Coba kamu kemaren ga dengerin aku (coba ikut wawancara walaupun infonya dadakan) entah deh mungkin kita masih pusing sekarang. Mulut istri tuh 'asin' (apa yang dibilang bisa jadi kenyataan)", ucap Nazliah saat itu. Denger hal itu, gue malah keingetan tahu bulat soal kata dadakan.

Gue tanda tangan kontrak di 14 Juli 2017 dan akan langsung efektif training di tanggal yang sama. Siap ga siap, percaya atau engga, gue akan memulai perjalanan karir yang baru di posisi HRD, lebih spesifik lagi, bagian Rekrutmen. Mungkin ini yang dibilang mimpi dan target yang jadi kenyataan. Akhirnya, gue bisa kembali ke ruang lingkup psikologi setelah hampir tiga tahun bekerja di luar area disiplin ilmu yang gue pelajari. Setelah dipikir-pikir, kalau di awal gue buat mindset gue harus balik ke area psikologi setelah dua tahun bekerja di perbankan, mungkin gue akan kembali ke area psikologi lebih cepat. Bisa jadi, ga ada yang tahu. Perlu disyukuri, gue comeback di waktu yang tepat.

Gue amat sangat excited menyambut pengalaman baru gue ini, di profesi yang amat sangat gue idamkan dalam bekerja. Let's do this.

Everything is possible for those who believe. -Liverpool fans.

Catatan Seorang Perekrut #17 Recruiter yang Insecure dengan Perjalanan Karirnya

Jumat, 14 Juli 2017. Hari yang nggak akan pernah saya lupakan dalam perjalanan karir yang, usianya masih seumur jagung ini. Hari di mana akh...