Showing posts with label Rekruter. Show all posts
Showing posts with label Rekruter. Show all posts

Monday, 1 April 2019

Catatan Seorang Perekrut - Rupa Kandidat. #10

Semakin lama, gue makin terbiasa dengan deskripsi pekerjaan sebagai perekrut, tanpa maksud menyepelekan pastinya karena gue masih harus dan terus belajar. Selain itu, akhirnya gue bisa membaur dengan yang lain di ruangan. Dua senior gue yang belum disebutkan namanya, diantaranya adalah Mas Taqim lalu Irma (kadang dipanggil Ocha), dengan adanya Eva dan Citra di ruangan, kebayang dong betahnya gue? Hehe. Engga, maksudnya jadi rame aja gitu. Ga lama setelah gue masuk, kabarnya akan ada beberapa anak magang tambahan yang memang masuk dalam salah satu program pemerintah. Gue sempet mikir dan bingung juga, ada Citra dan Eva aja cukup banget, ini lagi ada tambahan anak magang, harusnya lebih dari cukup, dong? Atau bisa jadi gue sebagai staff kerjanya akan males-malesan karena banyak yang bantu. Ga bisa dihindari soal ini. Hehe

Akhirnya anak magang yang gue maksud mulai efektif berada di ruangan. Program ini mengirimkan total 10 anak magang dan rencananya akan dibagi ke beberapa divisi, IT dan Learning & Development salah duanya, di HR Rekrutmen sendiri kedapatan empat kuota, nama mereka antara lain, Jejen, Fajar, Siti, dan Ria. Mereka masih aktif kuliah dan ada pula yang baru lulus juga berasal dari kampus yang sama. Ga heran kalau mereka bisa gampang akrab satu sama lain meski beda angkatan. Cerita soal mereka akan diselipkan di beberapa bagian setelah ini, mereka berempat ini lucu dengan segala keragaman karakteristiknya. Ya, laiknya seseorang yang sedang dalam periode dewasa awal, mereka labil dan ada aja tingkah lakunya.

Dalam keseharian proses yang gue lakukan, gue selalu dibantu Citra dan Eva. Biasanya Eva bantu dalam pelaksanaan psikotes, sedangkan Citra bantu gue ketika proses wawancara berlangsung. Ya, ketika kandidat yang walk in interview menumpuk, gue sering mengajak Citra untuk wawancara bareng gue. Selama proses wawancara -dari awal datang, wawancara, sampai akhir- ada beberapa kandidat yang memang unik. "Nyeleneh", tepatnya. Koreksi gue kalau salah, dari gue lulus kuliah dan dapet panggilan wawancara kerja pertama gue selalu mengenakan pakaian rapi formal ketika interview (sampai sekarang bahkan), nah ini ada kandidat yang mau wawancara datang gitu aja pake legging, kaos, lalu sendal main, bro. Asli, ini nyata. Kaget gue. Lain dari itu ya berpakaian rapi dan sopan. Ketika wawancara, ada kandidat yang memang cuma jawab "iya", "aku siap, Pak" dan manggut aja, mereka apa ga sadar ya komunikasi itu salah satu hal yang mau diperhatikan. Kalau cuma jawab "aku siap", yha SpongeBob juga bisa, tiap hari dia bilang kayak gitu selama main di Bikini Bottom.

Ada kandidat yang dengan rajin melampirkan banyak sertifikat (seminar,  kursus, dll.), kalau lagi iseng gue pasti nanya ke kandidat soal sertifikat ini satu per satu. "Mas/Mba, sertifikat ini dulu didapat dalam acara apa? Ilmu atau pengetahuan apa aja yang di dapat? Ada info soal potongan harga di alfamerit, ga?", tanya gue. Dari mereka cuma keluar jawaban template, "Hmm (ala Nissa Sabiyan), lupa, Pak. Soalnya udah lama ikut seminarnya. Hehe". Ya kalau lupa ngapain dicantumkan. Sebagai "pemanis CV", iya, gue paham. Kalau gue, biasanya ga melampitkan sertifikat yang memang gue lupa itu gue ikutin dalam rangka apa, relate ga sama posisi yang gue lamar. Ada juga kandidat yang mencantumkan banyak ijazah entah pendidikan terakhirnya sarjana atau diploma. Padahal, ketika kita sudah dapat gelar sarjana secara otomatis udah lulus SMA/SMK (atau sederajat), dong? Ngapain pula dilampirkan ijazah SMA, transkrip nilai ujian SMA, sertifikat les sewaktu SMA, dll..

Panggilan buat gue pun beragam. Gue inget betul, kali pertama selama proses wawancara dipanggil "kakak" sama kandidat, waktu itu bareng Citra. Kami nanya pertanyaan biasa, lalu tiba-tiba dijawab, "iya, Kak, saya siap dengan target". Sontak gue dan Citra langsung tatap-tatapan dan senyum nahan tawa. Setelah wawancara selesai, gue kaget lah dan bilang ke Citra, "ini serius gue dipanggil Kakak? Selama gue wawancara, gue selalu manggil interviewer pake sapaan Mas/Pak atau Mba/Ibu, deh", dumel gue. "Ga tau tuh, Kak, kocak", balas Citra. "Apa jangan-jangan dia adek-adekan gue waktu SMA ya, Cit. Terus kami dipertemukan lagi sekarang?" Sahut gue menimpali jawaban Citra.

Dipanggil Abang? Pernah juga! Makin bingung gue, kandidat ini kok banyak yang manggil interviewer dengan kata sapaan yang ga lazim, ya. Begini percakapan gue dengan kandidat tersebut:

😊 Gue | 😶 Kandidat

😊: "Mba, bisa diceritakan apa motivasimu melamar sebagai Call Center?"
😶 : "Ga tau, Bang. Saya ke sini karena info dari teman saya aja, Bang."
😊 : "Boleh disebutkan apa aja kemampuan yang Mba miliki?"
😶 : "Ga tau, Bang, saya belum tau kemampuan saya apa aja, tapi saya mau belajar, Bang. Jangan marahi saya, Bang."

Gue bingung karena gue ga berniat dan ga akan marahin juga, nada bicara gue pun biasa, sampai akhirnya gue mengajukan pertanyaan terakhir.

😊 : "Mba, kasih saya alasan kenapa saya harus menerima dirimu?"
😶 : "Yang menilai biar Abang aja, tapi saya mau belajar, Bang. Jangan marahin saya, karena saya takut dimarahin, Bang".

Makin bingung aja gue, udahlah dipanggil Abang, jawaban dia selalu diawali dengan kata "Ga tau", lalu dia bilang jangan marahin. Sumpah, dari awal gue wawancara biasa aja dan ga mau marahin juga. 

Sewaktu gue ikut wawancara sebagai pencari kerja, gue pasti panggil HRD itu dengan sapaan "Ibu/Mba" atau "Pak/Mas". Bahkan kadang gue suka minta persetujuan, "saya bisa panggil dengan sapaan Bapak atau Mas, ya, maaf?".

Gue bukan tipe pewawancara yang galak, lebih ke santai dan ngobrol biasa aja gitu. Sesekali ketawa kalau memang ada yang dianggap lucu atau nunjukin rasa penasaran, amaze ke kandidat yang punya cerita menarik. Suatu waktu, gue dan Citra dapet kesempatan wawancara kandidat yang punya pekerjaan sampingan sebagai stand up comedian/komika, Ferdiansyah namanya. Selama proses wawancara gue dan Citra ketawa mulu karena celetukannya dia. Ferdi diterima dan bisa bergabung di kantor. Sampai sekarang kami masih berteman dengan baik, walaupun menjelang satu tahun masa kerjanya, dia resign.

Wawancara kandidat yang luar biasa? Pasti pernah, lah. Sampai sekarang, ada satu kandidat perempuan melamar untuk posisi Call Center yang menurut gue luar biasa kemampuannya dalam berkomunikasi, cheerful juga orangnya. Dari pertama berkenalan dalam proses wawancara, gue yakin dia akan diterima oleh User. Setelah gue ajukan, betul aja, dia dapat penilaian yang sangat baik dan bisa segera join. Kandidat pertama di awal masa kerja gue mengajukan ke User dan akhirnya bisa "tembus". Gue seneng karena kali pertama mengajukan kandidat ketika ada kebutuhan pemenuhan (deadline), disaat itu juga gue dapat kandidat yang cocok.

Setelah beberapa bulan magang, akhirnya Eva dapat tawaran untuk mengisi HR Representative untuk satu  klien di kantor. Ga lama dari Eva dapat tanggung jawab baru, kontrak magang Citra pun akan segera berakhir, sudah ditawarkan kontrak baru hanya saja untuk magang, Citra bimbang karena posisi dia sudah lulus kuliah. Betah, tapi sebagai fresh graduate dia butuh pengalaman kerja agar benefit dari segi ilmu, kemampuan, dan pendapatan meningkat. Citra sampai sempat menangis curhat soal kebimbangannya dia. Gue cuma bisa menenangkan dan mengingatkan, pikirkan baik-baik dan minta atau dengar saran dari orang tua. Berat, tapi, Citra harus tetap menentukan pilihan.

It's hard to move on, but you do, you have to (,Citra). -Steven Gerrard.

Monday, 11 March 2019

Catatan Seorang Perekrut - Let's Do This. #7

Akhirnya, dengan seizin Allah, gue kembali bekerja sebelum gue bertambah usia, artinya dengan diterimanya gue di suatu perusahaan, itu bisa menjadi salah satu kado terindah, terbaik selama hidup gue. Kado indah sebelumnya, gue diberi amanat satu orang sahabat kecil melalui perantara Nazliah, Tobio. Intermezzo sedikit, Nazliah positif hamil setelah kurang lebih tiga bulan kami menikah. Setelah menikah dan mendekati tanggal ulang tahun gue, dia nanya, "kamu mau kado apa dari aku?", gue jawab, "aku ga mau apa-apa, semoga aja di hari ulang tahun aku, kamu udah positif hamil, ya". Nazliah sempet agak sewot dengan menimpali, "kok gitu? Positif hamil atau engganya kan tergantung pemberian Allah, terus kalau aku belum hamil, kamu kecewa, gitu?". Waduh, kayaknya gue salah dalam menyampaikan. Haha. Gue jelasin lagi, itu harapan gue, kok, kalau belum kesampaian, ya usaha terus. Yuk, matiin lampu kamar, kita berproses. Di awal Juli 2017, Nazliah mulai mual dan ngerasa aneh sama badannya, gue ga ngerti aneh di sini gambarannya gimana. Kami beli alat pendeteksi kehamilan, dan syukur, ternyata harapan, kepengennya gue terkabul sebelum gue ulang tahun, ketika itu. Flashback lagi sedikit, di tahun 2013, klub sepak bola idola gue, Liverpool FC, datang ke Indonesia dalam sebuah tour. Mereka bertanding dengan Garuda Selection ketika itu, ada yang masih ingat mereka bertanding di tanggal berapa? Yak, betul, 20 Juli. Tepat di tanggal ulang tahun gue. Pastinya, gue nonton mereka di SUGBK (Stadion Utama Gelora Bung Karno) di 2013 lalu. Itu intermezzo yg cukup banyak, ya.

Gue efektif bekerja kembali di 14 Juli 2017, tepatnya hari Jumat. Akhirnya, gue merasakan pagi hari ada di stasiun dan naik kereta untuk bekerja, berdempetan dengan penumpang lain sambil nahan ngantuk. Belum lagi dipaksa menghirup aroma bau mulut orang lain yang biasanya udah gosok gigi, tapi belum ada makanan yang masuk ke mulut. Nah, biasanya bau, tuh! Bau ketek sih belum ada, harusnya. Masih pagi, aman, dong. Liat orang yang kebagian duduk lalu tidur dengan mulut menganga sambil menghadap ke atas? Udah biasa. Rasanya selalu gue pengen bantu tutup mulutnya, tapi takut digigit. Atau pengen banget gue masukin biji jeruk, siapa tau seturunnya dia dari kereta, dimulutnya langsung tersedia kebon jeruk. Soalnya turun di Jakarta Barat. Receh banget, guys. Dulu sewaktu kuliah gue naik kereta juga, sih, tapi kan itu bukan kerja. Hehe. Kembali ke cerita, naik kereta 6.20, kurang lebih nyampe di jam 08.30. Gue tanda tangan kontrak terlebih dahulu sebelum mengikuti training sekitar jam 09.00. Ga perlu banyak mikir dan nanya ketika baca klausal, intinya cocok, langsung gue teken kontraknya. Training dilakukan satu hari full, pengenalan soal perusahaan, pre-test juga post-test pastinya ada. Beres training sekitar jam 17.30. Menyenangkan, antara deg-degan sama excited, ga sabar pengen memulai sesuatu yang baru juga sudah diidam-idamkan cukup lama.

Selepas training, gue langsung diantar menuju ruangan kerja yang akan gue tempati nantinya. Gue langsung disambut supervisor dan dua senior gue. Masih canggung rasanya, tiba-tiba kepikiran dan berprasangka, "gue bakal diterima dengan baik ga, ya? Kalau mereka udah nyaman sama staff yang lama -yang sudah resign-, kinerja gue pasti akan dibanding-bandingkan. Semoga gue bisa bekerja dengan baik dan sesuai harapan, bahkan melebihi harapan", dumel gue dalam pikiran saat itu. Ada perkenalan singkat waktu itu, lalu supervisor gue langsung bilang, "besok bisa masuk, ya? Soalnya kita lagi ada target, urgent, kebutuhan 50 orang untuk posisi telemarketing. Bisa, ya?" Sebagai anak baru, tentu gue ga bisa nolak, dong. Cuma gue juga pekerja biasa yang masih ada rasa malasnya, gue sempet mikir, "aduh, padahal besok pengen istirahat dulu, ngabisin waktu bareng Nazliah sebelum betul-betul kembali bekerja". Agak ragu gue akhirnya jawab, "iya, Pak, besok saya datang".

Akhirnya, sekitar jam 17.30 gue pulang, pulang dengan rasa senang, excited, sekaligus malas. Ya, gue pikir sabtu bisa leha-leha dulu, ga taunya harus langsung kerja. Haha. Sesampainya di rumah, gue cerita ke Nazliah besok harus masuk karena lagi ada kebutuhan banyak. Dia ga mempermasalahkan, ya mau gimana, gue kan anak baru juga, masa mau langsung ngebangkang, nunggu beberapa bulan dulu, lah, baru ngebangkang. Hehe. Gak, deng.

Kebesokannya, gue berangkat abis subuh, biar ga kesiangan. Agak berat gue berangkatnya, karena belum terbiasa ninggalin istri dan anak buat kerja, sebelumnya gue kan selalu bareng mereka selama dua minggu nganggur. Hehe. Cuma ya mau gimana lagi, ini kebiasaan yang akan gue jalani kembali dalam waktu yang sangat panjang. Pencari nafkah untuk keluarga, penerus rezeki yang sudah disediakan Allah. I don't know what it is, but I love it! -LFC Fans.

So, let's do this.

Monday, 25 February 2019

Catatan Seorang Perekrut - Do The Impossible. #5

Akhirnya gue tiba di lokasi interview di kawasan Gatot Subroto, Jakarta Selatan, untuk keperluan interview sebagai Rekruter. Gue diminta untuk mengisi form aplikasi (pendaftaran), lalu menunggu nama gue dipanggil oleh pewawancara. Kala itu hari kamis, tepatnya tanggal 6 Juli 2017. Gue memakai kemeja garis putih biru, celana bahan krem, pantofel boots warna cokelat. Ya, gue ingat betul outfit yang gue kenakan waktu itu.

Sama seperti proses pada umumnya, jelas, gue engga sendiri, ada orang lain dengan latar belakang pendidikan sama yang melamar untuk posisi ini, sebagai Rekruter. Di luar dugaan gue, ternyata dua senior gue di kampus ikut proses ini, total sama gue jadi empat orang, plus satu orang dari kampus lain. Tau akan hal itu, gue yang tadinya siap "menjual kemampuan" gue ke perusahaan langsung turun mental juangnya, bukan tanpa sebab, dua senior gue ini sudah berpengalaman di bidang HR plus rekrutmen. Lalu, apalah gue ini yang pengalaman kerja pertama justru di perbankan? Bukan maksud tidak menghargai orang-orang di kantor sebelumnya, apalagi menyepelekan ilmu yang didapat di sana, tapi, kebayangkan? Gue yang dianggap "lulusan baru" harus berhadapan dengan senior, berpengalaman. Pasrah dan lesu gue saat itu, nothing to lose. Do not go down without a fight, pikir gue. Gue mencoba menenangkan diri dengan cara mengobrol dengan dua senior gue itu, sambil cari celah dan "mengamankan" komunikasi gue biar ga terbata-bata dan kaku, juga kembali optimis. Bersiap Do the Impossible.

Dua senior gue dipanggil lebih awal untuk interview, mereka tampak tenang dan percaya diri selepas interview. Tibalah saatnya gue yang diinterview. Awal mula pastinya gue memperkenalkan diri, soal latar belakang pendidikan, pengalaman sewaktu di kampus, pengalaman kerja. Gue cerita banyak hal soal gue dulu pernah jadi asisten lab psikologi untuk menjual kemampuan gue di bidang alat tes psikologi, kemudian gue cerita semua yang gue kerjakan sewaktu gue kerja di bidang perbankan. Terakhir, gue dapet pertanyaan, "kenapa mau kerja sebagai rekruter?", Gue mengela nafas, diam sejenak. Gue senyum, lalu gue jawab dengan antusias, "saya suka sekali ruang lingkup ini, saya menyukai apa yang saya lakukan selama kuliah, saya ingin menambah kemampuan saya di bidang ini". Wawancara tahap pertama selesai, sekitar jam 10 gue psikotes bersama dengan senior gue. Beres sekitar jam 12, lalu istirahat. Diinfokan bahwa akan interview lanjutan dengan Manager HR jam 14.00.

Lega, akhirnya gue bisa lanjut menunjukan antusiasme gue ke Manager nanti di jam 14.00, sambil menunggu momen itu, gue makan dulu, mau gimana pun, gue lapar. Hehe. Singkat cerita, gue selesai makan siang, lalu langsung kembali ke lantai atas lokasi wawancara.

Gue urutan pertama kandidat yang dipanggil oleh Manager. Deg-degan bukan main, tapi gue coba menetralisir situasi. Gue memasuki ruangan dengan menyapa Pak Manager, "siang, Pak". Lalu dibalas dengan sapaan, "siang, Mas. Silakan duduk, dengan Mas Seto, ya". Dilanjut dengan perkenalan diri gue, pengalaman kerja gue sebelumnya di mana, apa aja yang dikerjakan. Sampai pada pertanyaan terakhir gue ditanya, "Mas, terakhir aja dari saya, kasih saya alasan, kenapa saya harus memilih Mas Seto?". Waduh, sempet blank gue ditanya soal ini, karena gue harus bisa "menjual" diri gue melalui jawaban yang keluar dari mulut gue yang mulai grogi dan agak pasrah. Entah dapet kekuatan dari mana, mulut gue spontan menjawab, "saya punya integritas dan komunikasi yang baik, saya rasa hal itu dibutuhkan oleh perusahaan". Setelah jawab itu, gue langsung mikir, "loh? Itu spontan banget gue jawabnya? Seakan ga mikir dulu". Selesai sesi wawancara gue yang berjalan sekitar 7 menitan.

Dilanjut dengan senior gue yang wawancara dengan Manager. Dia lama banget di dalam ruangan, sekitar 20 menit. Setelah beres gue langsung ngobrol sama dia, yang ditanya apa aja, kok bisa lama. Dia menjelaskan apa aja yang ditanya, salah satunya soal benefit. Gue down saat itu, karena gue ga ditanya soal benefit. Makin pesimis gue, gue ga ditanya apa pun soal benefit beserta negosiasi lainnya. Gue juga langsung ngabarin istri gue, "kayaknya aku ga diterima, deh. Soalnya yang lain ditanya benefit dan udah pengalaman, aku ga ditanya soal itu sama sekali". Istri gue jawab, "ga apa-apa, yang penting kamu udah coba. Kita liat aja nanti". Setelah itu gue langsung pulang dengan pasrah dan pemikiran, "ikhlasin aja lah kalau belum rezeki". 

Mau gimana pun, gue udah mencoba, berusaha, berjuang juga buat posisi yang gue mau. Gue udah memberikan proses yang terbaik yang gue bisa sewaktu wawancara, psikotes, dan lain-lain. Selebihnya, gue tinggal berusaha lagi biar bisa kembali bekerja, memberi nafkah untuk istri dan anak.

Do the impossible.

Wednesday, 6 February 2019

Catatan Seorang Perekrut - Pengalaman Pertama. #2

Gue inget, pertama kali bekerja setelah lulus kuliah itu di tanggal 25 September 2014, hari di mana teman kantor yang lain gajian. Kebanyakan dari mereka cek gaji dari pagi, gue sebagai orang baru, cuma bisa melongo aja.

Mana ada yang tau soal rezeki, karena pengalaman kerja pertama gue di perbankan sebagai staff admin, back office. Dari jurusan Psikologi ke perbankan, gue harus belajar neraca, debet, kredit, dan lain sebagainya. Sewaktu SMA gue anak IPS, belajar ekonomi juga akuntansi. Ekonomi masih oke, soal teori gue masih bisa menghafal. Akuntansi? Nah, loh, gue harus belajar soal neraca aja udah pusing gue, ga ngerti-ngerti. Ga masuk sama sekali di gue pelajaran ekonomi dan/atau akuntansi, nah ini akhirnya gue masuk perbankan. Hari pertama masuk kerja, sebagaimana kebanyakan orang menjalani proses pertama kali, gue deg-degan, kira-kita apa yang akan dikerjakan, tugas gue ngapain aja, ga kebayang sebelumnya. Mendadak berpikir berlebihan dan berasa cemas berlebih, gue yang biasanya pede, jadi pendiam dan jaga image seketika.

Supervisor pertama gue bernama lengkap Hanraswati Takarina (biasa dipanggil Bunda). Beliau supervisor yang baik dan bijaksana, bersifat keibuan, mau merangkul dan sharing ilmu ke gue sebagai anak baru di kantor. Beberapa kali beliau "pasang badan" ketika gue ga ngerti sama sekali dengan suatu permasalahan (transaksi). Kemudian digantikan oleh Apriyani Arsita. Sama baiknya, sama soal back-up bawahannya.

Untuk rekan satu tim yang lain, ada Mas Irwan Irawan (biasa dipanggil Mas Iweng, digantikan oleh Mba Lely Maryani), lalu ada juga Bu Sri Wartini (biasa dipanggil Bu Tini), mereka senior gue, satu tim. Gue belajar banyak dari mereka soal bagian Dana dan Jasa, yang kerjaannya meliputi transaksi pensiunan, penggajian instansi pemerintah atau swasta, transaksi dalam dan luar negeri, surat menyurat, dan lain-lain. Terpenting, bagaimana cara melayani nasabah ketika kerjaan sedang dalam antrian berlebih. Hehe. Rekan satu tim yang lain, Deri Septiana namanya, dia petugas kliring, suka membanggakan diri sebagai "kliring man". Pada prosesnya, akhirnya Deri menjadi seorang marketing mikro. Lalu digantikan oleh Juliano Muharam (biasa dipanggil Ano) sebelumnya dia bekerja sebagai call center. Di awal masuk, dia pernah curhat, kerja di call center perbankan itu ga enak, selalu dimarahin.  Terakhir, ada Pak Baehaki sebagai petugas pajak. Segala permasalahan mengenai pajak, biasanya akan ditangani oleh beliau. Ga ketinggalan, Bu Anissa Gayatri (Bu Anis), sebagai manager operasional kala itu.

Untuk rekan yang lain di luar dari bagian Dana dan Jasa, gue berteman baik dengan Yusdian Frizi (SDM), Mulyawandi, Ragil, dan Bu Susilawati (IT), Reza Afnan (teller, lalu jadi administrasi kredit), dan teman-teman lain yang tentunya ga bisa gue sebut satu per satu. Mereka yang mengisi keseharian gue selama 34 bulan, yang menemani menjalani kebiasaan gue selama jadi pekerja di sana. Tempat curhat, bercanda, minjem duit, dan lain-lain.

Gue baru bisa beradaptasi kurang lebih selama tiga bulan. Belajar soal transaksi, melayani nasabah, juga banyak hal. Susah banget rasanya, walaupun akhirnya terbiasa dan akhirnya bisa. Transaksi yang paling gue ga suka adalah Letter of Credit dan SKBDN (anak ekonomi biasanya ga asing dengan istilah ini, minimal pernah dengar). Susah banget, men! Prosesnya rumit, belum lagi input di sistem harus dengan benar. Untungnya, orang dari kantor pusat siap membantu. Kalau diomelin nasabah udah biasa, sampai dikatain bajingan pun pernah. Gue malah bingung, "ini orang sebegininya banget marah, dia yang salah, dia yang marah". Nasabah adalah raja, tapi buat gue, ga semua raja bijaksana.
Pada akhirnya dan dari awal, gue memang hanya punya target bekerja di perbankan paling lama tiga tahun, karena gue ingin bekerja sesuai dengan disiplin ilmu yang dipelajari selama kuliah.

Quote favorit gue selama bekerja di perbankan adalah, "do not go down without a fight, fight for your right" -Gamila Arief-

Monday, 28 January 2019

Catatan Seorang Perekrut - Perkenalan. #1

Bagian pertama, perkenalan.

Sebetulnya agak bingung mau mulai basa-basi dari mana, biar keliatan seperti perkenalan, gue akan berkenalan dari mulai nama dulu, ya. Hehe. Gue Seto Wicaksono, kelahiran 1991. Dari tahun kelahiran, sebetulnya gue ini termasuk ke dalam generasi millenial, ya, walaupun ga millenial-millenial banget. Gue ga merasa se-millenial seperti yang diperbincangkan banyak orang. Gue sudah menikah dengan wanita yang cantik dan pintar, dia senior gue di kampus, kami berasal dari jurusan yang sama, Nazliah Gusmuharti. Sudah diamanati satu orang anak, Tobio Gusto Abqary.

Pengalaman kerja pertama gue setelah lulus kuliah itu di perbankan selama 34 bulan. Gue kerja di perbankan karena sebagai lulusan baru ketika itu, gue ga mau milih-milih, yang penting punya pengalaman dan kesiapan mental sebelum gue bekerja di posisi dan bidang pekerjaan yang gue mau -gue sukai, lebih tepatnya-. Betul aja, di perbankan mental gue cukup terasah, dari banyaknya pekerjaan, berhadapan dengan nasabah, berdebat dengan nasabah, sampai dibilang "bajingan" sama nasabah pun pernah. Hehe. Resiko bekerja di ruang lingkup pelayanan pelanggan.

Setelah kerja di perbankan, gue sempat menganggur dua minggu, setelahnya gue diberi rezeki -kesempatan- bekerja di posisi yang gue mau, sebagai staff HRD/Rekruter. Di tulisan ini yang gue harapkan bisa ditulis secara berkelanjutan, akan gue ceritakan pengalaman selama menjadi Rekruter, awal mulanya, suka-duka, sampai cerita mengenai kandidat yang gue interview. Gue belum lama jadi seorang Rekruter memang, masih learning by doing, tapi ga ada salahnya kan berbagi cerita apa yang gue alami di posisi ini. Hehe.

Pada dasarnya, gue suka menulis -bikin suatu postingan-. Walaupun tulisan gue belum bagus, belum teratur, acak-acakan, tapi gue akan terus menulis. Awalnya gue bingung apa yang mau dtulis, hampir selalu bingung. Sekarang, paling tidak gue tau apa yang akan gue tulis, fokus dan arahannya ke mana. Gue berharap bisa lebih rajin dan konsisten menulis dari sini.

Oh, iya, belum lama ini gue menyukai kalimat "whatever it take, keep going, keep believing".

Terima kasih dan Bismillah.

Catatan Seorang Perekrut #17 Recruiter yang Insecure dengan Perjalanan Karirnya

Jumat, 14 Juli 2017. Hari yang nggak akan pernah saya lupakan dalam perjalanan karir yang, usianya masih seumur jagung ini. Hari di mana akh...