Showing posts with label Psikologi. Show all posts
Showing posts with label Psikologi. Show all posts

Monday, 6 May 2019

Catatan Seorang Perekrut - Bertemu Nazliah. #16

Selama outing gue pepet perempuan ini, gue liat terus, mumpung satu kelompok. Makin akrab sampai outing selesai. Di satu waktu, Heni masih beberapa kali ngechat via BBM selama outing, sekadar nanya kabar, tapi ya jadi terkesan posesif. Duh. Walaupun IPK gue dulu cuma 3.49, Gue bisa pikir kali,

"ini dia kenapa, sih, udah putus masih aja ngechat. Katanya ga bisa jalanin hubungan sama gue, tapi masih aja nanya kabar."

Biar ga berkepanjangan, akhirnya gue dan Heni sepakat ketemu, biar bisa segera kelir (baca: clear) masalahnya. Setelah ketemu, dia cerita panjang lebar, yang disampaikan:

"Kamu sekarang lebih cuek, ya"

Sambil nangis dia bilang,
"Aku ga bisa tanpa kamu~" uwuwuwu, kenapa ga bilang hal ini selama pacaran, BAMBANG.

Walaupun sama perempuan yang gue temui di outing belum sampai pacaran, tapi kami udah makin deket, dia merespon perhatian yang gue kasih, pun dengan dia. Setelah gue menimbang dan sepertinya Heni butuh jawaban gue segera, gue langsung jawab ke dia secara langsung saat ketemuan,

"maaf, aku ga bisa."

"kenapa? Udah ada cewe lain yang kamu suka, ya?" --yaiyalah, MAHMUDI, ke mana aja lo selama ini. Lagi pun, kalau gue suka sama perempuan lain ya ga salah, kan udah menjomblo--

Gue cuma jawab dengan senyuman. Pada momen ini gue berasa ganteng banget. Keputusan ini gue buat bukan karena mau balas dendam, lebih kepada, gue laki-laki, harus memilih dan punya sikap. Akhirnya, gue memilih perempuan yang menarik hati gue sewaktu outing dibanding Heni.

Nazliah Gusmuharti.

Setelah kejadian ini, gue ga langsung cerita ke Nazliah, bahwa mantan gue masih kontak dan sedikit memohon untuk kembali. Gue fokus ke hubungan gue dan Nazliah. Selama PDKT, tanpa disangka dan dingana, Nazliah yang bilang suka duluan ke gue. Dia bilang, gue kelamaan "nembak"., makanya dia gemas. Wqwqwq.

Kami PDKT selama 3 bulan, gue beranikan diri untuk menyatakan perasaan pada 07 Maret 2013. Saat itu sekitar jam 16.00, Nazliah yang selama kuliah juga jadi asisten lab, nunggu gue beres keluar dari lab, tanpa sepengetahuan dia, gue udah menyiapkan rencana "penembakan". Di dalam lab udah kumpul semua temen-temen, lalu tanpa disangka gue langsung bilang,

"Kamu mau ga, jadi pacar aku?"

Nazliah mengangguk dan senyum. Terus gue langsung bilang,

"Kalau mau, peluk aku, dong." kami pelukan.

Afirmasi gue terkabul perihal tipe perempuan yang gue mau, seperti yang gue sebutkan sebelumnya. Selama pacaran, Nazliah bantu proses skripsi gue, kasih dukungan moral juga. Persis seperti kriteria yang gue ingin.

Sewaktu kuliah, beberapa sahabat dekat gue yang tau gue baru diterima oleh seorang perempuan, langsung pada heboh dan berkomentar, macam kasih testimoni. Apalagi Nazliah ini tergolong cantik, pintar, dan senior di kampus pula. Mereka adalah Aji, Maizar (biasa dipanggil Bejoong -dia bilang "o"-nya harus dua), dan Usber.

Komen dari Aji, sewaktu dia tau gue bikin jersey kembaran,

"Wah, lo udah bikin jersey samaan aja, entar kalau putus, repot lo, ga mau dipake lagi nanti."

Setelah Aji bilang gini, yang ada di pikiran gue adalah,

"yaudah, liat aja nanti, kami ga akan putus, kok."

Bejoong dan Usber engga mau kalah dalam kasih komentar,

"GILA SI SEMPAK TAU AJE YANG CAKEP. KOK BISA DITERIMA LU? HAH? HAH?" -Bejoong.

"GUA RASA SI NAZLIAH MASIH KETUTUP DAH MATA BATINNYA. SEMOGA NAZ ENGGA NYADAR, YA. KALAU DIA SADAR LU GA GANTENG, GUA RASA NYESEL DIA." -Usber.

Iya, mereka kalau "ngata-ngatain" gue memang suka serius dan bener.

Belum lagi si Yessica sama Alia, dua sahabat lain kelamin ini juga sama kasih komentar yang lumayan ga kalah pedaz,

Yessica: "gila, lu, To, Kak Naz kan cantik banget, kok bisa?" Hmm.

Alia: "gue pernah liat kalian berdua jalan, kayaknya bahagia banget gitu sambil ketawa-ketawa, padahal lagi jalan kaki di pinggir jalan."

BHAIQ.

Makin menjalani hari bareng Nazliah, gue makin sayang sama dia. Dia itu pintar dan cerdas, punya sikap, dan tegas. Gue suka semua hal yang ada pada dirinya, termasuk juga kalau ambil keputusan cepet banget, spontan. Berbanding terbalik sama gue yang tipe pemikir, kelamaan mikir dan banyak pertimbangan. Nyaman diajak diskusi, ngobrol, dan bercanda.

Nah, hal yang paling dia ga suka dari gue selama pacaran adalah posesifnya gue. Harus diakui, gue tergolong lelaki posesif dan cemburuan. Kalau kalian mau background check, mungkin kalian bisa tanya ke mantan gue. Wqwqwq. Udah sok ganteng, posesif pula. Seto oh Seto.

Selama pacaran, kami punya visi yang sama, engga mau sembarang putus apalagi putus-nyambung. Kalau putus, ya, putus. Kalau memang lagi marahan, sebesar apa pun marahnya, obrolin. Diskusikan. Walaupun gue kalau lagi marah, seringnya diem, sih. Wqwqwq. Akhirnya, visi kami itu bisa diwujudkan. Engga pernah ada yang namanya kata putus selama pacaran, karena kami sama-sama ingin hubungan ini bisa sampai menuju pelaminan.

Kami sepakat, maunya satu sama lain jadi tujuan, bukan hanya singgahan.
Pada akhirnya, kami menikah tepat pada tiga tahun kami pacaran. Resmi pacaran tanggal 7 Mei 2013, menikah tanggal 07 Mei 2016. Ya, antara menyangka sama engga akhirnya bisa betul-betul menikah dengan Nazliah. Dari mulai awal ketemu saat outing, modalnya cuma yakin dan pede aja deketin dia. Sempet ilang kontak, tapi, dengan giat gue cari tau akun media sosialnya dia, awalnya twitter.

Setelah kejadian mencari tau diri dia dari twitter, gue sempet banyak komunikasi, saling mention, nyampah di timeline. Saat itu, mungkin banyak yang menyangka, kami ini alay yang lagi kasmaran. Wqwqwq. Yang gue suka dari Nazliah adalah, dia selalu punya sudut pandang yang berbeda tiap kali diskusi, selain penyeimbang, dia memang pelengkap gue.

Dari kejadian ini, akhirnya gue bisa menjawab dengan pasti dan yakin, kalau ada orang yang nyinyir,

"MAIN MEDIA SOSIAL MULU, EMANG BISA DAPET JODOH DARI SITU?"

Bisa. Buktinya gue. Hehehe.

Saat ini, kami juga sudah diamanati satu orang sahabat, Tobio Gusto Abqary, yang lahir tepat pada tanggal 07 Maret 2017. Gue inget tanggal lahirnya Tobio soalnya barusan cek fitur memories di facebook.

Tulisan ini sengaja dibuat dalam rangka usia pernikahan kami yang ketiga tahun. Mungkin biasa aja, ga begitu spesial atau sweet, tapi berhubung gue lagi gemar menulis, jadi, apa salahnya sedikit memori tentang kami dirangkum secara betul-betul singkat di sini. Ini yang bisa gue kasih.

as I said before and always remember this.
 I love you, not for a while, 
I do love you for the rest of my life. 
-From your happy husband. 

Friday, 3 May 2019

Catatan Seorang Perekrut - Cerita Mantan. #15

Spoiler: di luar konteks, tapi relate.

Cerita mantan yang dimaksudkan di sini, ga semua mantan diceritain, cuma beberapa orang pilihan aja, ada juga mantan yang baru disuka aja, baru gue deketin. Dibilang gebetan juga bukan, soalnya yang suka cuma gue doang, dia engga.

Pertama kali gue tertarik sama lawan jenis itu waktu kelas 2 SD. Iya, di usia yang masih polos gitu, gue udah belajar jadi budak cinta alias bucin. Ya cuma suka-sukaan gitu. Kelas 5 SD di sekolah gue dulu lagi masanya banyak temen-temen yang udah pacaran. Bahkan sempet ada gosip anak kelas 6 ciuman sama pacarnya yang juga sesama kelas 6. Lalu, yang dipikirkan gue sama teman-teman waktu itu,

"Ih, kalau si cewenya hamil gimana?"

Iya, namanya juga anak kelas 5 SD, masih sepolos itu mikirnya. Sampai akhirnya di kelas 6 SD, malah gue yang ikutan pacaran, akhirnya gue jadian sama cewe yang gue suka, walaupun cuma dua minggu. Diputusinnya pun pas gue main kelereng, gue dipanggil sama dia.

"Seto, aku mau ngomong. Ke sini dulu, dong."

"Iya, apa?"

"Aku mau kita putus. Aku udah ga sayang lagi sama kamu."

Jailah, baru jadian beberapa hari aja bilangnya udah ga sayangnya, sayangnya aja ga tau kapan.

"Oh. Yaudah. Itu aja?" Lalu gue lanjut main kelereng, dan dia langsung ditembak sama temen gue. Mereka langsung pacaran. Dasar bucin. 

--cerita cinta SMP dan SMA skip, siapa tau kelak gue bikin buku, baru akan diceritain detilnya-- ada Aamiin?

Gue lulus SMA dalam keadaan single, iya jomblo. Rasanya aneh karena biasanya gue ga bisa kalau ga punya pacar, dasar emang mental bucin. Itu kenapa, kuliah gue bertekad dari semester awal harus punya pacar. Biar kurang tampannya gue ini tersamarkan.

Tekad ini berhasil mempertemukan gue dengan Annisa Widya (ig: cha_nissa), perempuan yang manis, good looking. Gue ngerasa deg-degan sewaktu liat dia di kelas, tapi gue nyali gue ciut pas gue bercermin. Apa dia mau sama gue yang rambutnya botak karena efek ospek? Ya, semuanya juga botak, sih, pas awal masuk.

Di semester 3, akhirnya gue memberanikan diri menyatakan perasaan gue ke dia. Terpaksa, karena temen nongkrong gue ngirim sms (waktu itu BBM dan WhatsApp belum begitu tenar) ke Annisa ini, sewaktu handphone gue dipinjem sama dia. Kurang lebih isi smsnya gini:

"Ca, sebenernya gue udah lama suka sama lo." Fak, emang.

Hasil dari penembakan gue, jelas. Ditolak. Setelah itu, gue malah keterusan masih ngejar-ngejar si Annisa ini padahal ya udah ditolak,  pikir gue waktu itu, ya usaha dulu, masa udah nyerah?

Karena gue terlalu jumawa ga pernah ditolak selama PDKT sama seseorang. Gue terlalu pede, sampai gue lupa, kalau udah mengusahakan yang terbaik, segala cara gue lakuin walaupun ga semuanya maksimal, dan gue belum mendapatkan hasil, saatnya gue ubah haluan.

Perjuangan terakhir gue deketin Anissa ini, buatin video sewaktu dia ulang tahun, sampai pada akhirnya gue nyerah di semester 6. Gue memutuskan untuk menghentikan rasa penasaran dan hasrat dapetin hatinya Annisa. Ya, udah tiga tahun, rasanya cukup dan sadar diri. Hehe. -biar terkesan patriotik, gue memakai kata perjuangan-

Gue sadar, falling in love with the people we can not have itu sakit. Sebab, gue berpedoman, dalam hubungan timbal balik, cinta itu saling memiliki. Setelahnya, gue tetap berteman baik.

Semester 6 semasa kuliah, gue jadi asisten lab psikologi di kampus untuk meningkatkan ketamvanan di mata para adik kelas. Mindset ini ada hasilnya. Ada satu adik kelas yang memukau mata gue, pas banget dia adik kelas sewaktu SMA. Heni, namanya. Saat itu yang gue pikirkan adalah,

"Yak! Ada bahan obrolan!"

Gue ajak dia ngobrol, basa-basa soal SMA. Akhirnya minta pin BBM-nya. Iya, biar bisa liat mukanya terus. Setelah di-add, ada inisial nama di status BBM-nya, yang gue tau, itu nama cowo. Pasti pacarnya, dong? Ga mungkin nama abang yang jualan kentang-cimol di kampus dia save inisialnya sampai dijadikan status BBM. Cowonya kuliah di luar kota.

Sedih. Alamat bertahan jomblo. Entah kenapa gue sempet mau ngejauh gitu, tapi berasa ditahan sama obrolan yang seru dan "bersambut". Padahal, ya dia udah punya pacar. Makin lama kenal dan bosan memendam, akhirnya gue beranikan diri bilang via BBM,

"Aku itu suka sama kamu, tapi aku ga bisa ngelakuin apa-apa, kamu tau kenapa."

"Iya, maaf, ya. Saat ini aku ga bisa." Respon dia.

Komunikasi terus berlanjut. Bahkan makin deket. Macem HTS-an, mungkin? Akhirnya, gue nyatain perasaan secara langsung, waktu itu ga pernah ngobrolin banyak soal cowonya, yang gue tau dia nerima gue jadi pacarnya. Pernah satu waktu setelah kami pacaran dia bilang,

"dia (cowonya) pulang. Aku main sama dia dulu, boleh? Maaf, ya."

Jadi yang kedua itu ga enak, bgst. Wqwqwq.

Setelah itu, dia janji mau mutusin cowonya dan lebih milih gue. Di sini, momen di mana gue merasa makin ganteng dengan tampang yang minimalis. Akhirnya mereka putus. Gue naik peringkat jadi pilihan utama.

Marahan sama dia yang paling gue inget adalah sewaktu dia bete, gue coba menghibur, dia malah bilang,

"GA USAH NGELUCU, DEH. KAMU BUKAN PELAWAK." Sakit hatiku menahan pilu, gaes. Wqwqwq.

Eh, setelah itu, pacarannya malah ga bertahan lama. Terhitung, sekitar enam minggu. Putusnya pun di kereta, kurang lebih dia bilang gini,

"Maaf, kayaknya kita ga bisa lanjut. Kamu terlalu baik buat aku. Aku ga bisa jalanin hubungan yang begini."

Dengan sok tegar, gue cuma bisa jawab,

"Oh, yaudah. Tenang aja, aku ga apa-apa, kok." -hati teriris bagai bawa dibelah pisau, adinda. Kau tau itu- SELAIN DI KERETA TIDAK MUNGKIN DONG GUE TIBA-TIBA NANGIS MERAUNG-RAUNG KARENA BAU DIPUTUSIN.

Seperti biasa, gue langsung anter dia ke luar stasiun. Lalu gue bilang ke dia,

"kamu hati-hati, ya."

Percakapan baik sebelum betul-betul mengakhiri suatu hubungan. Sampai di rumah, gue langsung laporan ke Mama, gue putus sama si Heni ini. Mama cuma nanya,

"Perasaan kemaren baik-baik aja, ada apa?"

Gue  jawab, "ga tau, tuh, aneh."

Lalu Mama balas menghibur,

"Yaudah, nanti juga balik lagi kalau emang masih butuh. Seto ga usah ngejar-ngejar."

Gue cuma jawab, "iya."

Baru aja Mama ngasih wejangan, eh, ini anak langsung BBM, tuh,

"Kamu di mana? Udah di rumah? Kok ga ngabarin aku?"

Hasgagajsjsuqiqjrowpqnsbdgwyqiwpandbgwoam. GIMANA SIH, KAN UDAH PUTUS. KALAU MAU DIKABARIN TERUS, NGAPAIN MINTA PUTUS?!1!1!1!!

Ya, mungkin kami emang harus pisah, karena beda kenyamanan, beda visi. Walaupun masih semester tujuh, waktu itu gue pikir ketika nemu pacar, harapannya ya bisa lama, syukur kalau memang sampai pernikahan, berjodoh. Capek kali putus-nyambung, kayak anak labil. Apa mau dikata, takdir berkata lain keputusan sudah dibuat.

Selama kami pacaran, foto kami berdua pun cuma pernah dipasang sekali aja, itu pun cuma beberapa detik. Awalnya gue bingung, kok kayanya enggan banget pasang foto berdua sama gue, selain memang gue kurang ganteng, buat dia yang lumayan cantik. Setelah dipikir, itu bukan alasan yang bisa masuk dalam perasaan karena cinta ini kadang tak ada logika, ternyata lebih kepada,
Ada perasaan orang lain yang dijaga.
Setelah putus dengan Heni, gue kembali menjomblo. Memang dasar ga betah sendiri, gue berniat mencari dan segera menemukan kembali seorang pacar yang hilang dan belum ditemukan untuk menemani kegiatan sehari-hari.


Setelah diputusin ini, karena gue udah mendekati pengerjaan skripsi, gue bertekad untuk segera dapet pacar lagi, biar jadi mtoivasi segera lulus kuliah. Perempuan yang mau gue miliki selanjutnya, kriterianya cantik, cerdas, bisa main musik, pakai softlens atau kacamata, keren dan modis.

Targetnya berat banget, ya? Lebih berat dari target waktu lulus.

Inget banget, 28 Februari 2013 gue ada acara outing lab jurusan. Semua asisten lab ikut. Di sini gue ketemu sama satu senior, satu angkatan di atas gue yang menarik perhatian dan pandangan, Cantik. Ya, ga bohong, dong, pertama kali liat orang, penilaiannya secara fisik terlebih dulu. Dia satu kelompok sama gue pula selama outing. Ga karuan perasaan gue, tapi, seakan feeling gue bilang,

"orangnya ini, deketin aja, percaya sama gue."

*** Bersambung di bagian selanjutnya ***

Monday, 25 February 2019

Catatan Seorang Perekrut - Do The Impossible. #5

Akhirnya gue tiba di lokasi interview di kawasan Gatot Subroto, Jakarta Selatan, untuk keperluan interview sebagai Rekruter. Gue diminta untuk mengisi form aplikasi (pendaftaran), lalu menunggu nama gue dipanggil oleh pewawancara. Kala itu hari kamis, tepatnya tanggal 6 Juli 2017. Gue memakai kemeja garis putih biru, celana bahan krem, pantofel boots warna cokelat. Ya, gue ingat betul outfit yang gue kenakan waktu itu.

Sama seperti proses pada umumnya, jelas, gue engga sendiri, ada orang lain dengan latar belakang pendidikan sama yang melamar untuk posisi ini, sebagai Rekruter. Di luar dugaan gue, ternyata dua senior gue di kampus ikut proses ini, total sama gue jadi empat orang, plus satu orang dari kampus lain. Tau akan hal itu, gue yang tadinya siap "menjual kemampuan" gue ke perusahaan langsung turun mental juangnya, bukan tanpa sebab, dua senior gue ini sudah berpengalaman di bidang HR plus rekrutmen. Lalu, apalah gue ini yang pengalaman kerja pertama justru di perbankan? Bukan maksud tidak menghargai orang-orang di kantor sebelumnya, apalagi menyepelekan ilmu yang didapat di sana, tapi, kebayangkan? Gue yang dianggap "lulusan baru" harus berhadapan dengan senior, berpengalaman. Pasrah dan lesu gue saat itu, nothing to lose. Do not go down without a fight, pikir gue. Gue mencoba menenangkan diri dengan cara mengobrol dengan dua senior gue itu, sambil cari celah dan "mengamankan" komunikasi gue biar ga terbata-bata dan kaku, juga kembali optimis. Bersiap Do the Impossible.

Dua senior gue dipanggil lebih awal untuk interview, mereka tampak tenang dan percaya diri selepas interview. Tibalah saatnya gue yang diinterview. Awal mula pastinya gue memperkenalkan diri, soal latar belakang pendidikan, pengalaman sewaktu di kampus, pengalaman kerja. Gue cerita banyak hal soal gue dulu pernah jadi asisten lab psikologi untuk menjual kemampuan gue di bidang alat tes psikologi, kemudian gue cerita semua yang gue kerjakan sewaktu gue kerja di bidang perbankan. Terakhir, gue dapet pertanyaan, "kenapa mau kerja sebagai rekruter?", Gue mengela nafas, diam sejenak. Gue senyum, lalu gue jawab dengan antusias, "saya suka sekali ruang lingkup ini, saya menyukai apa yang saya lakukan selama kuliah, saya ingin menambah kemampuan saya di bidang ini". Wawancara tahap pertama selesai, sekitar jam 10 gue psikotes bersama dengan senior gue. Beres sekitar jam 12, lalu istirahat. Diinfokan bahwa akan interview lanjutan dengan Manager HR jam 14.00.

Lega, akhirnya gue bisa lanjut menunjukan antusiasme gue ke Manager nanti di jam 14.00, sambil menunggu momen itu, gue makan dulu, mau gimana pun, gue lapar. Hehe. Singkat cerita, gue selesai makan siang, lalu langsung kembali ke lantai atas lokasi wawancara.

Gue urutan pertama kandidat yang dipanggil oleh Manager. Deg-degan bukan main, tapi gue coba menetralisir situasi. Gue memasuki ruangan dengan menyapa Pak Manager, "siang, Pak". Lalu dibalas dengan sapaan, "siang, Mas. Silakan duduk, dengan Mas Seto, ya". Dilanjut dengan perkenalan diri gue, pengalaman kerja gue sebelumnya di mana, apa aja yang dikerjakan. Sampai pada pertanyaan terakhir gue ditanya, "Mas, terakhir aja dari saya, kasih saya alasan, kenapa saya harus memilih Mas Seto?". Waduh, sempet blank gue ditanya soal ini, karena gue harus bisa "menjual" diri gue melalui jawaban yang keluar dari mulut gue yang mulai grogi dan agak pasrah. Entah dapet kekuatan dari mana, mulut gue spontan menjawab, "saya punya integritas dan komunikasi yang baik, saya rasa hal itu dibutuhkan oleh perusahaan". Setelah jawab itu, gue langsung mikir, "loh? Itu spontan banget gue jawabnya? Seakan ga mikir dulu". Selesai sesi wawancara gue yang berjalan sekitar 7 menitan.

Dilanjut dengan senior gue yang wawancara dengan Manager. Dia lama banget di dalam ruangan, sekitar 20 menit. Setelah beres gue langsung ngobrol sama dia, yang ditanya apa aja, kok bisa lama. Dia menjelaskan apa aja yang ditanya, salah satunya soal benefit. Gue down saat itu, karena gue ga ditanya soal benefit. Makin pesimis gue, gue ga ditanya apa pun soal benefit beserta negosiasi lainnya. Gue juga langsung ngabarin istri gue, "kayaknya aku ga diterima, deh. Soalnya yang lain ditanya benefit dan udah pengalaman, aku ga ditanya soal itu sama sekali". Istri gue jawab, "ga apa-apa, yang penting kamu udah coba. Kita liat aja nanti". Setelah itu gue langsung pulang dengan pasrah dan pemikiran, "ikhlasin aja lah kalau belum rezeki". 

Mau gimana pun, gue udah mencoba, berusaha, berjuang juga buat posisi yang gue mau. Gue udah memberikan proses yang terbaik yang gue bisa sewaktu wawancara, psikotes, dan lain-lain. Selebihnya, gue tinggal berusaha lagi biar bisa kembali bekerja, memberi nafkah untuk istri dan anak.

Do the impossible.

Thursday, 3 January 2019

Alasan Memilih Psikologi

Di tahun 2012, gue pernah bikin tulisan, kenapa gue pilih jurusan Psikologi untuk proses belajar lebih lanjut di perguruan tinggi. Pada tulisan itu, alasan kenapa gue pilih Psikologi memang belum spesifik, masih umum aja gitu. Di tulisan kali ini, gue akan cerita lebih rinci alasan gue minat belajar Psikologi.

Alasan gue yg paling utama adalah minat. Sederhana banget, kan? Karena menurut gue pribadi, proses belajar yang baik adalah diawali dengan minat, kalau sudah minat, proses belajarnya pun akan lebih menyenangkan. Bawaanya senang aja gitu, capek iya, pusing sama tugas iya, tapi menyenangkan. Capeknya aktivitas selama kuliah pun terasa menyenangkan kalau didasari dengan minat. Mau berangkat pagi, pulang malem, tetep akan menyenangkan dan terasa seperti jalan-jalan. Ketika gue kuliah, bahkan gue ga kenal capek, mama gue pun sampai mengingatkan gue untuk tetap istirahat yang cukup.

Ketika memang minat menjadi alasan, lo ga akan ragu untuk menentukan target pencapaian selama kuliah, baik dari prestasi akademik atau pun hal lain. Gue misalnya, di Gunadarma itu tiap fakultas punya laboratorium masing-masing dan pasti ada asisten lab, untuk bisa jadi asisten lab, minimal sudah menjadi mahasisws semester 6. Gue dari semester 1, langsung punya target di semester 6 harus jadi asisten lab. Pasti menyenangkan, pikir gue. Hal ini juga hue ceritakan ke Mama, gue minta support dan doa dari beliau, sampai akhirnya gue diterima jadi asisten lab, lalu setelahnya Mama bilang, "karena Mama tau Seto pengen banget jadi asisten lab, jadi Mama bantu lewat doa, ternyata Seto bisa juga jadi asisten lab". Terharu gue, bisa dapetin apa yang dimau berkat doa orang tua yg dibarengi usaha.

Untuk target lain, gue sudah memasang target, bahwa tiap semester IPK gue harus naik, ada peningkatan. Betul aja, tiap semester IPK gue naik, di semester 1 IPK gue cuma 3.12, dalam prosesnya, selalu naik sampai akhirnya IPK gue 3.49, target kedua tercapai. Lalu dilanjutkan dengan target kelulusan, gue punya target lulus 4.5 tahun dan ternyata jadi nyata. Target dikabulkan oleh semesta. Jujur aja, selama SMA, kalau ulangan kadang gue menyontek. Yaa, bandelnya anak SMA, hehe. Selama kuliah, dari awal-akhir, ketika, kuis, ujian semester dan semacamnya, gue ga pernah mencontek. Semuanya gue kerjakan sendiri (kecuali tugas kelompok, itu lain, dong). Kenapa gue ga mau mencontek? Bukan belagu atau sok tau, tapi gue merasa bertanggung jawab sama apa yang gue minati, biar bisa mengukur kemampuan diri.

Sebagai tambahan, jika kita kuliah di jurusan yang memang betul sudah diminati, secara otomatis kita akan membentuk semesta yang positif, entah dari pembawaan diri, pertemanan, bahkan pencapaian. Ini gue alami sendiri. Dalam keadaan terdesak sekalipun, gue masih bisa, bahkan bisa dibilang optimis jika memang hal itu berkaitan sama perkuliahan. Gue menemukan sahabat yang bisa gue percaya sebagai teman sharing, beberapa diantaranya meneruskan S2, bahkan ada yang S3, ada juga yang menjadi dosen. Gue? Masih S1, hehe. Paling sesekali baca atau mencari jurnal penelitian terupdate. Gue bangga sama mereka, mereka bisa fokus dan terus belajar mendalami Psikologi.
Di tulisan gue sebelumnya yang berjudul "kenapa memilih dan masuk jurusan Psikologi", di kolom komentar ada yang bertanya (dan belum sempat gue jawab, mohon maaf sebelumnya, jadi sekalian gue jawab di sini aja, ya), inti pertanyaannya, "kalau udah lulus dari Psikologi, kerjanya apa? Apa ada pekerjaan yang menjamin kita sukses?". Hmm, begini, Psikologi itu cakupannya luas banget di dunia kerja, lo bisa kerja di bidang mana pun, kembali lagi, sesuai minat, atau cari lowongan/posisi yang memang untuk semua jurusan (sekadar informasi aja, pengalaman kerja gue yang pertama itu di perbankan). Kalau mau bekerja sesuai dengan jurusan (Psikologi), lo bisa kerja sebagai HRD, rekrutmen, head hunter, atau yang sejenis. Semua bidang pekerjaan punya peluang bikin kita sukses, masalahnya, kita mau ga menjalani proses menuju kesuksesan? Karena menurut gue pribadi, sukses itu pilihan dan diliat dari sudut pandang apa? (Gaji yang didapat? Jabatan ketika bekerja? Bisa hidup mandiri tanpa minta uang orang tua? Dan lain sebagainya) Mau atau engga. Kalau mau ya jalani prosesnya, kalau engga, ya itu kan pilihan(mu?).

Sampai dengan saat ini, gue belum menemukan alasan lain kenapa gue memilih dan belajar Psikologi, selain minat yang cukup besar. Ketika belajar Psikologi juga, gue menemukan pasangan hidup gue, dia senior gue di kampus. Cukup banyak kenangan yang bisa gue ingat selama kuliah. Banyak orang yang bilang, masa-masa paling indah itu ketika SMA, buat gue, masa-masa paling indah itu ya ketika kuliah dan belajar di bidang yang memang menjadi minat gue, Psikologi. Itu alasan gue.

Catatan tambahan:
Ketika lulus SMA, sebetulnya gue sudah diterima di IPB lewat jalur PMDK (tanpa tes, melalui nilai raport kalau ga salah), dalam prosesnya, gue pernah berdebat sama Bapak, karena gue ga mau masuk IPB (padahal gue sudah diterima, tinggal urus administrasi aja), sedangkan Bapak mau liat anaknya kuliah di IPB. Akhirnya gue jujur ke Bapak, gue minat banget kuliah di Psikologi dan menjelaskan, nantinya yang menjalani itu gue, bukan Bapak, dan khawatir ketika kuliah di jurusan yang ga gue minati sama sekali, hasilnya malah ga bagus karena males-malesan. Ketika gue kuliah pun, Bapak sempat ga peduli sama nilai gue yang terus naik, sampai akhirnya gue jadi asisten lab dan lulus dengan gelar cumlaude bersama dengan beberapa sahabat yang lain di kampus, salah satu lulusan terbaik, lah. Akhirnya Bapak bangga dengan pencapaian gue itu.

Catatan Seorang Perekrut #17 Recruiter yang Insecure dengan Perjalanan Karirnya

Jumat, 14 Juli 2017. Hari yang nggak akan pernah saya lupakan dalam perjalanan karir yang, usianya masih seumur jagung ini. Hari di mana akh...