Showing posts with label Pasangan. Show all posts
Showing posts with label Pasangan. Show all posts

Friday, 3 May 2019

Catatan Seorang Perekrut - Cerita Mantan. #15

Spoiler: di luar konteks, tapi relate.

Cerita mantan yang dimaksudkan di sini, ga semua mantan diceritain, cuma beberapa orang pilihan aja, ada juga mantan yang baru disuka aja, baru gue deketin. Dibilang gebetan juga bukan, soalnya yang suka cuma gue doang, dia engga.

Pertama kali gue tertarik sama lawan jenis itu waktu kelas 2 SD. Iya, di usia yang masih polos gitu, gue udah belajar jadi budak cinta alias bucin. Ya cuma suka-sukaan gitu. Kelas 5 SD di sekolah gue dulu lagi masanya banyak temen-temen yang udah pacaran. Bahkan sempet ada gosip anak kelas 6 ciuman sama pacarnya yang juga sesama kelas 6. Lalu, yang dipikirkan gue sama teman-teman waktu itu,

"Ih, kalau si cewenya hamil gimana?"

Iya, namanya juga anak kelas 5 SD, masih sepolos itu mikirnya. Sampai akhirnya di kelas 6 SD, malah gue yang ikutan pacaran, akhirnya gue jadian sama cewe yang gue suka, walaupun cuma dua minggu. Diputusinnya pun pas gue main kelereng, gue dipanggil sama dia.

"Seto, aku mau ngomong. Ke sini dulu, dong."

"Iya, apa?"

"Aku mau kita putus. Aku udah ga sayang lagi sama kamu."

Jailah, baru jadian beberapa hari aja bilangnya udah ga sayangnya, sayangnya aja ga tau kapan.

"Oh. Yaudah. Itu aja?" Lalu gue lanjut main kelereng, dan dia langsung ditembak sama temen gue. Mereka langsung pacaran. Dasar bucin. 

--cerita cinta SMP dan SMA skip, siapa tau kelak gue bikin buku, baru akan diceritain detilnya-- ada Aamiin?

Gue lulus SMA dalam keadaan single, iya jomblo. Rasanya aneh karena biasanya gue ga bisa kalau ga punya pacar, dasar emang mental bucin. Itu kenapa, kuliah gue bertekad dari semester awal harus punya pacar. Biar kurang tampannya gue ini tersamarkan.

Tekad ini berhasil mempertemukan gue dengan Annisa Widya (ig: cha_nissa), perempuan yang manis, good looking. Gue ngerasa deg-degan sewaktu liat dia di kelas, tapi gue nyali gue ciut pas gue bercermin. Apa dia mau sama gue yang rambutnya botak karena efek ospek? Ya, semuanya juga botak, sih, pas awal masuk.

Di semester 3, akhirnya gue memberanikan diri menyatakan perasaan gue ke dia. Terpaksa, karena temen nongkrong gue ngirim sms (waktu itu BBM dan WhatsApp belum begitu tenar) ke Annisa ini, sewaktu handphone gue dipinjem sama dia. Kurang lebih isi smsnya gini:

"Ca, sebenernya gue udah lama suka sama lo." Fak, emang.

Hasil dari penembakan gue, jelas. Ditolak. Setelah itu, gue malah keterusan masih ngejar-ngejar si Annisa ini padahal ya udah ditolak,  pikir gue waktu itu, ya usaha dulu, masa udah nyerah?

Karena gue terlalu jumawa ga pernah ditolak selama PDKT sama seseorang. Gue terlalu pede, sampai gue lupa, kalau udah mengusahakan yang terbaik, segala cara gue lakuin walaupun ga semuanya maksimal, dan gue belum mendapatkan hasil, saatnya gue ubah haluan.

Perjuangan terakhir gue deketin Anissa ini, buatin video sewaktu dia ulang tahun, sampai pada akhirnya gue nyerah di semester 6. Gue memutuskan untuk menghentikan rasa penasaran dan hasrat dapetin hatinya Annisa. Ya, udah tiga tahun, rasanya cukup dan sadar diri. Hehe. -biar terkesan patriotik, gue memakai kata perjuangan-

Gue sadar, falling in love with the people we can not have itu sakit. Sebab, gue berpedoman, dalam hubungan timbal balik, cinta itu saling memiliki. Setelahnya, gue tetap berteman baik.

Semester 6 semasa kuliah, gue jadi asisten lab psikologi di kampus untuk meningkatkan ketamvanan di mata para adik kelas. Mindset ini ada hasilnya. Ada satu adik kelas yang memukau mata gue, pas banget dia adik kelas sewaktu SMA. Heni, namanya. Saat itu yang gue pikirkan adalah,

"Yak! Ada bahan obrolan!"

Gue ajak dia ngobrol, basa-basa soal SMA. Akhirnya minta pin BBM-nya. Iya, biar bisa liat mukanya terus. Setelah di-add, ada inisial nama di status BBM-nya, yang gue tau, itu nama cowo. Pasti pacarnya, dong? Ga mungkin nama abang yang jualan kentang-cimol di kampus dia save inisialnya sampai dijadikan status BBM. Cowonya kuliah di luar kota.

Sedih. Alamat bertahan jomblo. Entah kenapa gue sempet mau ngejauh gitu, tapi berasa ditahan sama obrolan yang seru dan "bersambut". Padahal, ya dia udah punya pacar. Makin lama kenal dan bosan memendam, akhirnya gue beranikan diri bilang via BBM,

"Aku itu suka sama kamu, tapi aku ga bisa ngelakuin apa-apa, kamu tau kenapa."

"Iya, maaf, ya. Saat ini aku ga bisa." Respon dia.

Komunikasi terus berlanjut. Bahkan makin deket. Macem HTS-an, mungkin? Akhirnya, gue nyatain perasaan secara langsung, waktu itu ga pernah ngobrolin banyak soal cowonya, yang gue tau dia nerima gue jadi pacarnya. Pernah satu waktu setelah kami pacaran dia bilang,

"dia (cowonya) pulang. Aku main sama dia dulu, boleh? Maaf, ya."

Jadi yang kedua itu ga enak, bgst. Wqwqwq.

Setelah itu, dia janji mau mutusin cowonya dan lebih milih gue. Di sini, momen di mana gue merasa makin ganteng dengan tampang yang minimalis. Akhirnya mereka putus. Gue naik peringkat jadi pilihan utama.

Marahan sama dia yang paling gue inget adalah sewaktu dia bete, gue coba menghibur, dia malah bilang,

"GA USAH NGELUCU, DEH. KAMU BUKAN PELAWAK." Sakit hatiku menahan pilu, gaes. Wqwqwq.

Eh, setelah itu, pacarannya malah ga bertahan lama. Terhitung, sekitar enam minggu. Putusnya pun di kereta, kurang lebih dia bilang gini,

"Maaf, kayaknya kita ga bisa lanjut. Kamu terlalu baik buat aku. Aku ga bisa jalanin hubungan yang begini."

Dengan sok tegar, gue cuma bisa jawab,

"Oh, yaudah. Tenang aja, aku ga apa-apa, kok." -hati teriris bagai bawa dibelah pisau, adinda. Kau tau itu- SELAIN DI KERETA TIDAK MUNGKIN DONG GUE TIBA-TIBA NANGIS MERAUNG-RAUNG KARENA BAU DIPUTUSIN.

Seperti biasa, gue langsung anter dia ke luar stasiun. Lalu gue bilang ke dia,

"kamu hati-hati, ya."

Percakapan baik sebelum betul-betul mengakhiri suatu hubungan. Sampai di rumah, gue langsung laporan ke Mama, gue putus sama si Heni ini. Mama cuma nanya,

"Perasaan kemaren baik-baik aja, ada apa?"

Gue  jawab, "ga tau, tuh, aneh."

Lalu Mama balas menghibur,

"Yaudah, nanti juga balik lagi kalau emang masih butuh. Seto ga usah ngejar-ngejar."

Gue cuma jawab, "iya."

Baru aja Mama ngasih wejangan, eh, ini anak langsung BBM, tuh,

"Kamu di mana? Udah di rumah? Kok ga ngabarin aku?"

Hasgagajsjsuqiqjrowpqnsbdgwyqiwpandbgwoam. GIMANA SIH, KAN UDAH PUTUS. KALAU MAU DIKABARIN TERUS, NGAPAIN MINTA PUTUS?!1!1!1!!

Ya, mungkin kami emang harus pisah, karena beda kenyamanan, beda visi. Walaupun masih semester tujuh, waktu itu gue pikir ketika nemu pacar, harapannya ya bisa lama, syukur kalau memang sampai pernikahan, berjodoh. Capek kali putus-nyambung, kayak anak labil. Apa mau dikata, takdir berkata lain keputusan sudah dibuat.

Selama kami pacaran, foto kami berdua pun cuma pernah dipasang sekali aja, itu pun cuma beberapa detik. Awalnya gue bingung, kok kayanya enggan banget pasang foto berdua sama gue, selain memang gue kurang ganteng, buat dia yang lumayan cantik. Setelah dipikir, itu bukan alasan yang bisa masuk dalam perasaan karena cinta ini kadang tak ada logika, ternyata lebih kepada,
Ada perasaan orang lain yang dijaga.
Setelah putus dengan Heni, gue kembali menjomblo. Memang dasar ga betah sendiri, gue berniat mencari dan segera menemukan kembali seorang pacar yang hilang dan belum ditemukan untuk menemani kegiatan sehari-hari.


Setelah diputusin ini, karena gue udah mendekati pengerjaan skripsi, gue bertekad untuk segera dapet pacar lagi, biar jadi mtoivasi segera lulus kuliah. Perempuan yang mau gue miliki selanjutnya, kriterianya cantik, cerdas, bisa main musik, pakai softlens atau kacamata, keren dan modis.

Targetnya berat banget, ya? Lebih berat dari target waktu lulus.

Inget banget, 28 Februari 2013 gue ada acara outing lab jurusan. Semua asisten lab ikut. Di sini gue ketemu sama satu senior, satu angkatan di atas gue yang menarik perhatian dan pandangan, Cantik. Ya, ga bohong, dong, pertama kali liat orang, penilaiannya secara fisik terlebih dulu. Dia satu kelompok sama gue pula selama outing. Ga karuan perasaan gue, tapi, seakan feeling gue bilang,

"orangnya ini, deketin aja, percaya sama gue."

*** Bersambung di bagian selanjutnya ***

Monday, 7 January 2019

Pengorbanan Seorang Istri

7 Mei 2016, tepat setelah tiga tahun gue pacaran dengan Nazliah Gusmuharti, kami menikah. Akhirnya harapan kami tercapai, bisa tinggal bersama, seumur hidup. Dengan segala kekurangan, gue mengucap ijab kabul di depan penghulu, para wali, juga saksi. Lebih dari itu, dengan gue mengucap ijab-kabul, tandanya gue juga sudah melakukan perjanjian dengan Tuhan, gue akan menafkahi, menemani, menjaga, membahagiakan dia seumur hidup. Nazliah itu pasangan hidup, partner, di dalam atau di luar rumah, kami tim. Laiknya tim pada umumnya, kami harus saling menopang satu sama lain, dalam cakupan yang luas. Teorinya seperti itu. Aplikasi, mari jalani bersama.

Sebelum menikah, kami bersepakat segera mengusahakan memiliki momongan. Ya, mengusahakan. Bulan Juni 2016, gue request ke Nazliah, untuk kado ulang tahun, gue pengen si jabang bayi sudah ada di perutnya. Harapan dan keinginan gue dikabulkan Tuhan, Nazliah hamil di bulan Juli, bulan kelahiran gue. Singkat cerita, Tobio Gusto Abqary -nama anak gue- lahir pada tanggal 7 Maret 2017. Ya, lagi-lagi ada hubungannya dengan angka 7. Kesepakatan lain terbentuk sebelum kami menikah, dengan mengusahakan kehadiran momongan di awal pernikahan, tandanya Nazliah harus mengorbankan karirnya, pekerjaannya, waktunya, kecerdasannya, kemampuannya dalam bekerja. Buat gue, itu salah satu bentuk pengorbanan Nazliah. Gimana engga, Nazliah yang gue kenal sebagai wanita yang cerdas, punya banyak kemampuan, tegas, dan nalar yang baik, amat sangat layak berkarir sesuai dengan jurusan perkuliahannya -Psikologi- (atau di bidang yang dia sukai). Namun, Nazliah sepakat untuk di rumah, mengurus rumah tangga, termasuk menjaga anak. Hal itu ga terlepas dari permintaan gue, agar anak dijaga oleh Mamanya langsung. Terlepas dari kami ga mungkin menitipkan anak ke orang tua kami (orang tua gue masih bekerja, mertua sudah tidak mungkin menjaga cucu, kami pun ga tega kalau orang tuaa harus bersusah payah merawat cucu fulltime), gue memang punya keinginan Tobio dijaga dan dirawat oleh Mamanya.

Merawat dan menjaga anak itu ga semudah dan semenyenangkan yang dibayangkan, bukan berarti selalu menyebalkan. Sebaliknya, justru membahagiakan. Yang gue pelajari, hal itu termasuk ke dalam stress yang positif, maksudnya, walaupun bikin stress, tapi bikin bahagia, apalagi kalau anak tumbuh dan berkembang dengan baik. Ketika gue libur panjang, gue pernah jaga Tobio, ga fulltime, tapi bikin capek banget, menguras tenaga, emosi dan pikiran. Bikin penat, jenuh. Bahkan secara jujur gue bilang ke Nazliah, mending capek kerja di kantor kayaknya dibanding di rumah -dengan nada bercanda tentunya-, lalu Nazliah menimpali, "tuh, kan, makanya rasain ada di rumah sehari penuh aja, ngurusin Tobio". Kami ketawa. Gue langsung paham gimana pengorbanannya dia selama ini. Jelas, itu bukan gambaran penyesalan kami dalam merawat anak, itu salah satu bentuk candaan kami di rumah. Kami bahagia memiliki Tobio, kami sayang buah hati kami, dan kami sadar betul tanggung jawab yang diemban dalam merawat dan mendidik anak.

Ada kadalanya gue berpikir, kalau Nazliah bekerja di posisi gue sekarang, kayaknya kinerjanya akan lebih baik dibanding gue, ga perlu banyak penjelasan, soal cerdas dan nalar harus gue akui, Nazliah lebih baik dibanding gue. Nazliah selalu dipersilakan untuk bekerja, entah freelance atau kantoran, namun saat ini, waktunya belum tepat karena Tobio masih butuh ada di dekat dan dalam asuhan Nazliah. Gue memahami ini sebagai salah satu pengorbanannya Nazliah sebagai wanita yang menjadi pasangan hidup sekaligus ibu dari anak-anak kami. Ada di rumah seharian itu tantangannya berat, sulit, dan gampang jenuh. Bukan cuma seharian, bahkan berminggu-minggu, bulan, tahunan. Jika diakumulasi, akan banyak waktunya yang dihabiskan di rumah, mengurus rumah tangga, merawat anak. Oleh karena itu, setiap temen-temen gue ngajak kumpul di weekend, bisa dikatakan gue ga bisa gabung, alasannya itu tadi, menemani Nazliah dan Tobio di rumah atau gue gantian jagain, ngajak main Tobio. Bukannya gue ga mau kumpul, tapi untuk saat ini, cuma itu reward yang bisa gue kasih ke Nazliah. Sekaligus tanggung jawab, jangan mau enaknya aja. Hehe. Seringkali belum maksimal karena di rumah masih suka ngeluh capek atau ngantuk.

Itu pengorbanan Nazliah dari sudut pandang gue sebagai suami. Gue berharap bisa memenuhi rasa nyaman dan bahagianya Nazliah seumur hidup, dengan segala tindakan baik dan kemampuan afirmasi yang gue miliki.

Catatan Seorang Perekrut #17 Recruiter yang Insecure dengan Perjalanan Karirnya

Jumat, 14 Juli 2017. Hari yang nggak akan pernah saya lupakan dalam perjalanan karir yang, usianya masih seumur jagung ini. Hari di mana akh...