Showing posts with label Pencari Kerja. Show all posts
Showing posts with label Pencari Kerja. Show all posts

Monday, 22 April 2019

Catatan Seorang Perekrut - Kepeleset Lidah. #13

Di bagian sebelumnya, gue sedikit bercerita tentang kandidat Reporting Analyst, Inuar Zahrawati. Perkenalannya bisa cek di link ini Ekspresi dan Respon Kandidat. Gue akan melanjutkan cerita tentang Inuar sekaligus kelanjutan ekspresi dan respon para kandidat, khususnya ketika kandidat ini slip tongue, kepeleset lidah, atau bahasa seharinya-harinya salah ngomong. Entah sadar atau engga.

Tanpa menyepelekan atau menganggap mudah pekerjaan sendiri, sampai dengan saat ini, masih ada beberapa posisi yang buat gue pribadi susah banget buat dapetin kandidatnya, khususnya dari kemampuan yang memang sesuai dengan kualifikasi. Bisa dikatakan memang ga semua orang punya kemampuan ini, hanya orang terpilih. Salah satunya posisi Reporting Analyst. Gimana engga, posisi ini harus punya daya analisa di atas rata-rata, ditambah skill dalam Ms. Office, Ms. Excel khususnya.

Dalam mencari kandidat, gue biasa cari melalui portal pencari kerja, job fair, atau mengandalkan informasi dari teman. Setelah gue cek, awalnya memang terlihat banyak yang memenuhi kualifikasi, khususnya dari kemampuan Ms. Excel, paling engga itu dulu yang gue lihat. Setelah gue undang wawancara, banyak dari kandidat mengaku "BISA" sewaktu ditanya kemampuan excel-nya. Ya, bilang bisa aja dulu, pas diminta coba kerjain beberapa soal excel, ga bisa sama sekali. Deadline makin dekat.

For your information, bagian rekrutmen juga jelas punya deadline atau target, ya. Kerja tanpa target? Rasanya engga ada. Hehe.

Kendalanya bukan cuma di excel, karena ada juga kandidat yang niatnya cuma coba-coba, diterima syukur, engga juga yaudah lah, seengganya udah nyoba. Ada juga yang gerogi saat wawancara, sampai mengalami slip tongue.

Gue mulai bertanya,

"Oh, Mba terbiasa menggunakan microsoft office. Biasanya apa aja yang digunakan?"

"Saya biasa menggunakan mikroskop eksel, Pak." -- ((MIKROSKOP))-- jawab dia.

Gue lanjut bertanya sambil nahan ketawa,

"Oh, rumusan apa aja yang biasa digunakan sewaktu pakai excel, Mba?"

"avenger, sum, min, max.." --(AVENGER)-- jawab dia tetap tidak sadar dengan slip tongue-nya, sedangkan gue langsung menunduk nahan tawa.

Mencoba profesional, gue tetap lanjut bertanya,

"selain itu, apa yang bisa ditawarkan untuk perusahaan mengenai kemampuan Mba?"

"Saya punya kemampuan kontraksi yang baik, Pak, karena saya biasa kontraksi dengan orang lain."
((KONTRAKSI)), guys! KONTRAKSI.

PECAH PARAH, PECAH! INI KALAU GUE IKUT DI BENTENG TAKESHI, UDAH DITERIAKIN SAMA YANG NONTON,

"AH, PAYAH, PAYAH! BEGITU SAJA TIDAK BISA!" Karena gue susah nahan tawa.

*******

Sampai akhirnya di portal pencari kerja, gue nemuin satu kandidat, punya pengalaman sesuai dengan posisi yang dibutuhkan. Sempat hopeless, karena dia masih aktif kerja, kurang lebih sudah dua tahun bekerja di tempat kerjanya. Sebagaimana diketahui, kalau masih aktif kerja, biasanya perlu notice satu bulan untuk pengajuan resign kalau memang cocok alias diterima.

Inuar Zahrawati, namanya. Akun instagramnya @inuarzahra (boleh dicek, khususnya untuk kalian para individu dengan rasa ingin tahu yang tinggi. Gue udah minta izin sama Inuar buat share akun instagramnya juga di blog. Hehe).

Pertama kali ketemu, kesan pertama yang didapat itu anaknya sopan, murah senyum, walaupun sewaktu wawancara kurang antusias keliatannya, cuma ya udah keliatan dia ini pinter dari cara menjawab pertanyaan. Ditanya soal deskripsi kerja, memang cocok banget, sesuai kebutuhan. Akhirnya Inuar tes excel dan hasilnya memang bagus banget, sih, diantara kandidat yang lain.

Proses lanjutannya tentu ada psikotes dan wawancara dengan User, dalam hal ini calon managernya Inuar. Singkat cerita, selesai wawancara, gue coba komunikasi dengan User tentang prosesnya Inuar. Beliau menyampaikan,

"Mas Seto, please keep Inuar for us. She is smart, I like her."

Lalu gue jawab,

"but, is it ok if Inuar join next month? Cause she should notice one month."

"It's ok, Mas Seto. We will waiting for her."

Duh, mohon maaf kalau bahasa inggris gue di bawah rata-rata. Kurang lebih seperti itu. Bisanya begitu. Iya, User berbicara dengan bahasa inggris, karena memang itu bahasa sehari-harinya dan beliau bukan orang Indonesia.

Sampai di sini udah kebayang gimana spesialnya Inuar?

Lalu, karena kemampuan Inuar ini di atas rata-rata, jadilah dia training sebagai WFM (Work Force Management).

Sampai pada akhirnya, Inuar join.

Monday, 15 April 2019

Catatan Seorang Perekrut - Ekspresi dan Respon Kandidat. #12

Sebagai rekruter, sudah sewajarnya selalu berkomunikasi secara langsung atau tidak langsung dengan para kandidat, pencari kerja. Banyak orang di sekitar gue -khususnya kandidat- yang bilang, komunikasi itu lebih enak secara langsung, karena bisa liat emosi orang yang berbicara, jadi tau mana yang lagi marah atau engga, bisa menyesuaikan. Ada betulnya. Bukan berarti bicara secara ga langsung (via telfon, chat, dan lain sebagainya) itu ga enak, tergantung kita mulai percakapannya gimana, nada suaranya gimana. Cukup banyak kandidat yang berpengalaman di Call Center yang gue wawancara, mereka menyampaikan, salah satu kebahagiaan mereka adalah ketika bisa meredam amarah pelanggan yang dari awal nelfon udah bernada tinggi.

Gue pun punya tugas yang sama, menyampaikan informasi ke kandidat, mulai dari mengundang untuk proses wawancara via telfon, via email, atau sms dan chat kalau memang diperlukan. Kesulitannya adalah ketika ga ada respon dari mereka, ya mau gimana, paling engga gue udah coba komunikasikan dengan menggunakan beberapa media.

Ekspresi dan respon mereka pun beragam dalam menanggapi info dari perusahaan, apa pun prosesnya, wawancara tahap awal, psikotes dan/atau wawancara lanjutan dengan User, sampai info perihal lolos semua tahapan atau tidaknya.

Ada kandidat yang sudah apply posisi untuk lowongan Call Center di salah satu akun portal pencari kerja, ketika gue telfon dan gue undang wawancara, responnya,

"maaf, Mas, saya ga minat dan ga tertarik sama posisinya." Kesel, loh, YANG APPLY KAN ELU, MAMAT! KALAU GA MINAT YA KENAPA APPLY.

Melanjutkan cerita ini, gue pun pernah nelfon kandidat yang apply dari salah satu job fair, pas ditelfon, masa kandidatnya bilang sambil ngegas,

"OH DAPET DATA SAYA DARI JOB FAIR, YA? SAYA GA PERCAYA LAGI SAMA ACARA JOB FAIR, PENIPU!"

Lah, Malih, kalau job fair penipuan, kegiatan ini udah dianggap ilegal dan akan diberentikan sama pemerintah. Lagian kan kandidat ini yang nulis data diri dan kumpulin CV, kalau memang ga percaya, ngapain lakuin itu? Datang ke job fair dan tulis data diri. Cuma biar dapet duit jajan ke orang tua, ya? Iya? Lagian perusahaan yang ikut job fair biasanya akan dipantau kredibilitasnya, ga sembarang kalau memang yang mengadakan job fair orang atau instansi yang berkompeten. Kalau lo bilang job fair penipuan, sama aja kayak lo bilang, "semua cowo sama aja." Menyama-ratakan adalah suatu kesalahan. Kenapa jadi serius gue. Wqwqwq.

Itu kenapa, pesan gue, dan dari pengalaman pribadi, apply posisi yang memang diminati atau yang kira-kira kita akan tetap jalani walaupun dirasa berat, sederhananya disanggupi. Coba posisi lain yang bikin penasaran boleh, tapi coba diliat atau dicari tau dulu, deskripsi kerjanya apa aja, tanggung jawabnya apa aja. Jadi, ga ada alasan ketika menjalani kerjaannya, "saya ga kuat, Mas." Udah tau ga akan kuat, malah dicobain. Bukan apa, sayang banget sama waktu dan karirnya. Prinsip gue, apply posisi yang memang sekiranya diminati atau sanggup jalaninnya. Jadi, minimal satu tahun ada di posisi itu, dapat paklaring/surat referensi kerja, biar ada bukti bahwa kita udah berpengalaman atau bekerja sebelumnya.

Soal ekspresi dan respon kandidat ketika diinfokan bahwa dia lolos semua tahapan pun berbeda-beda, ada yang flat, ada yang antusias, yang nangis terharu di depan gue pun ada,

"Makasi infonya ya, Mas."

Dengan nada yang datar dan percaya diri, setidaknya penilaian sok tau gue sih gitu, salah satu tipe yang kayak gini, itu si Inuar Zahrawati, kandidat yang pertama di posisikan buat Reporting Analyst, tapi karena kemampuan dan analisanya di atas rata-rata, dipindah jadi WFM (Work Force Management). -cerita soal Inuar akan berlanjut di bagian selanjutnya-

Ada juga kandidat yang ekspresif,

"Hah?! Serius, Mas?" Lalu dia nangis terharu di depan gue, ketika gue tanya kenapa nangis, dia terharu dan seneng, dia langsung ngabarin orang tuanya, dia diterima.

Ada kandidat yang engga fokus ketika wawancara. Sewaktu gue persilakan untuk perkenalan diri, DIA MALAH KELUAR RUANGAN. Gue kaget dan langsung nanya,

Gue: "Loh? Mba mau ke mana?"

Kandidat: "Saya diminta tunggu di luar, kan, Mas?"

Gue: "Perkenalkan diri, Mba, bukan keluar. Hehe."

Kandidat: "Oh, hehe. Maaf, Mas. Hehe"

Gue: "Hehe.."

Kandidat: "Heuu."

Ingin rasanya ku keluar dari ruangan wawancara dan cari alfamerit, terus emut kuping tukang parkir yang ketika kita datang ga ada, begitu kita selesai belanja, dia muncul sembari menagih uang parkir. 

--cerita ini bersambung di chapter berikutnya, ya--

Monday, 1 April 2019

Catatan Seorang Perekrut - Rupa Kandidat. #10

Semakin lama, gue makin terbiasa dengan deskripsi pekerjaan sebagai perekrut, tanpa maksud menyepelekan pastinya karena gue masih harus dan terus belajar. Selain itu, akhirnya gue bisa membaur dengan yang lain di ruangan. Dua senior gue yang belum disebutkan namanya, diantaranya adalah Mas Taqim lalu Irma (kadang dipanggil Ocha), dengan adanya Eva dan Citra di ruangan, kebayang dong betahnya gue? Hehe. Engga, maksudnya jadi rame aja gitu. Ga lama setelah gue masuk, kabarnya akan ada beberapa anak magang tambahan yang memang masuk dalam salah satu program pemerintah. Gue sempet mikir dan bingung juga, ada Citra dan Eva aja cukup banget, ini lagi ada tambahan anak magang, harusnya lebih dari cukup, dong? Atau bisa jadi gue sebagai staff kerjanya akan males-malesan karena banyak yang bantu. Ga bisa dihindari soal ini. Hehe

Akhirnya anak magang yang gue maksud mulai efektif berada di ruangan. Program ini mengirimkan total 10 anak magang dan rencananya akan dibagi ke beberapa divisi, IT dan Learning & Development salah duanya, di HR Rekrutmen sendiri kedapatan empat kuota, nama mereka antara lain, Jejen, Fajar, Siti, dan Ria. Mereka masih aktif kuliah dan ada pula yang baru lulus juga berasal dari kampus yang sama. Ga heran kalau mereka bisa gampang akrab satu sama lain meski beda angkatan. Cerita soal mereka akan diselipkan di beberapa bagian setelah ini, mereka berempat ini lucu dengan segala keragaman karakteristiknya. Ya, laiknya seseorang yang sedang dalam periode dewasa awal, mereka labil dan ada aja tingkah lakunya.

Dalam keseharian proses yang gue lakukan, gue selalu dibantu Citra dan Eva. Biasanya Eva bantu dalam pelaksanaan psikotes, sedangkan Citra bantu gue ketika proses wawancara berlangsung. Ya, ketika kandidat yang walk in interview menumpuk, gue sering mengajak Citra untuk wawancara bareng gue. Selama proses wawancara -dari awal datang, wawancara, sampai akhir- ada beberapa kandidat yang memang unik. "Nyeleneh", tepatnya. Koreksi gue kalau salah, dari gue lulus kuliah dan dapet panggilan wawancara kerja pertama gue selalu mengenakan pakaian rapi formal ketika interview (sampai sekarang bahkan), nah ini ada kandidat yang mau wawancara datang gitu aja pake legging, kaos, lalu sendal main, bro. Asli, ini nyata. Kaget gue. Lain dari itu ya berpakaian rapi dan sopan. Ketika wawancara, ada kandidat yang memang cuma jawab "iya", "aku siap, Pak" dan manggut aja, mereka apa ga sadar ya komunikasi itu salah satu hal yang mau diperhatikan. Kalau cuma jawab "aku siap", yha SpongeBob juga bisa, tiap hari dia bilang kayak gitu selama main di Bikini Bottom.

Ada kandidat yang dengan rajin melampirkan banyak sertifikat (seminar,  kursus, dll.), kalau lagi iseng gue pasti nanya ke kandidat soal sertifikat ini satu per satu. "Mas/Mba, sertifikat ini dulu didapat dalam acara apa? Ilmu atau pengetahuan apa aja yang di dapat? Ada info soal potongan harga di alfamerit, ga?", tanya gue. Dari mereka cuma keluar jawaban template, "Hmm (ala Nissa Sabiyan), lupa, Pak. Soalnya udah lama ikut seminarnya. Hehe". Ya kalau lupa ngapain dicantumkan. Sebagai "pemanis CV", iya, gue paham. Kalau gue, biasanya ga melampitkan sertifikat yang memang gue lupa itu gue ikutin dalam rangka apa, relate ga sama posisi yang gue lamar. Ada juga kandidat yang mencantumkan banyak ijazah entah pendidikan terakhirnya sarjana atau diploma. Padahal, ketika kita sudah dapat gelar sarjana secara otomatis udah lulus SMA/SMK (atau sederajat), dong? Ngapain pula dilampirkan ijazah SMA, transkrip nilai ujian SMA, sertifikat les sewaktu SMA, dll..

Panggilan buat gue pun beragam. Gue inget betul, kali pertama selama proses wawancara dipanggil "kakak" sama kandidat, waktu itu bareng Citra. Kami nanya pertanyaan biasa, lalu tiba-tiba dijawab, "iya, Kak, saya siap dengan target". Sontak gue dan Citra langsung tatap-tatapan dan senyum nahan tawa. Setelah wawancara selesai, gue kaget lah dan bilang ke Citra, "ini serius gue dipanggil Kakak? Selama gue wawancara, gue selalu manggil interviewer pake sapaan Mas/Pak atau Mba/Ibu, deh", dumel gue. "Ga tau tuh, Kak, kocak", balas Citra. "Apa jangan-jangan dia adek-adekan gue waktu SMA ya, Cit. Terus kami dipertemukan lagi sekarang?" Sahut gue menimpali jawaban Citra.

Dipanggil Abang? Pernah juga! Makin bingung gue, kandidat ini kok banyak yang manggil interviewer dengan kata sapaan yang ga lazim, ya. Begini percakapan gue dengan kandidat tersebut:

😊 Gue | 😶 Kandidat

😊: "Mba, bisa diceritakan apa motivasimu melamar sebagai Call Center?"
😶 : "Ga tau, Bang. Saya ke sini karena info dari teman saya aja, Bang."
😊 : "Boleh disebutkan apa aja kemampuan yang Mba miliki?"
😶 : "Ga tau, Bang, saya belum tau kemampuan saya apa aja, tapi saya mau belajar, Bang. Jangan marahi saya, Bang."

Gue bingung karena gue ga berniat dan ga akan marahin juga, nada bicara gue pun biasa, sampai akhirnya gue mengajukan pertanyaan terakhir.

😊 : "Mba, kasih saya alasan kenapa saya harus menerima dirimu?"
😶 : "Yang menilai biar Abang aja, tapi saya mau belajar, Bang. Jangan marahin saya, karena saya takut dimarahin, Bang".

Makin bingung aja gue, udahlah dipanggil Abang, jawaban dia selalu diawali dengan kata "Ga tau", lalu dia bilang jangan marahin. Sumpah, dari awal gue wawancara biasa aja dan ga mau marahin juga. 

Sewaktu gue ikut wawancara sebagai pencari kerja, gue pasti panggil HRD itu dengan sapaan "Ibu/Mba" atau "Pak/Mas". Bahkan kadang gue suka minta persetujuan, "saya bisa panggil dengan sapaan Bapak atau Mas, ya, maaf?".

Gue bukan tipe pewawancara yang galak, lebih ke santai dan ngobrol biasa aja gitu. Sesekali ketawa kalau memang ada yang dianggap lucu atau nunjukin rasa penasaran, amaze ke kandidat yang punya cerita menarik. Suatu waktu, gue dan Citra dapet kesempatan wawancara kandidat yang punya pekerjaan sampingan sebagai stand up comedian/komika, Ferdiansyah namanya. Selama proses wawancara gue dan Citra ketawa mulu karena celetukannya dia. Ferdi diterima dan bisa bergabung di kantor. Sampai sekarang kami masih berteman dengan baik, walaupun menjelang satu tahun masa kerjanya, dia resign.

Wawancara kandidat yang luar biasa? Pasti pernah, lah. Sampai sekarang, ada satu kandidat perempuan melamar untuk posisi Call Center yang menurut gue luar biasa kemampuannya dalam berkomunikasi, cheerful juga orangnya. Dari pertama berkenalan dalam proses wawancara, gue yakin dia akan diterima oleh User. Setelah gue ajukan, betul aja, dia dapat penilaian yang sangat baik dan bisa segera join. Kandidat pertama di awal masa kerja gue mengajukan ke User dan akhirnya bisa "tembus". Gue seneng karena kali pertama mengajukan kandidat ketika ada kebutuhan pemenuhan (deadline), disaat itu juga gue dapat kandidat yang cocok.

Setelah beberapa bulan magang, akhirnya Eva dapat tawaran untuk mengisi HR Representative untuk satu  klien di kantor. Ga lama dari Eva dapat tanggung jawab baru, kontrak magang Citra pun akan segera berakhir, sudah ditawarkan kontrak baru hanya saja untuk magang, Citra bimbang karena posisi dia sudah lulus kuliah. Betah, tapi sebagai fresh graduate dia butuh pengalaman kerja agar benefit dari segi ilmu, kemampuan, dan pendapatan meningkat. Citra sampai sempat menangis curhat soal kebimbangannya dia. Gue cuma bisa menenangkan dan mengingatkan, pikirkan baik-baik dan minta atau dengar saran dari orang tua. Berat, tapi, Citra harus tetap menentukan pilihan.

It's hard to move on, but you do, you have to (,Citra). -Steven Gerrard.

Monday, 18 February 2019

Catatan Seorang Perekrut - Masa Peralihan. #4

01 Juli 2017, gue resmi jobless alias jadi pengangguran setelah 2 tahun 10 bulan bekerja. Campur aduk rasanya ketika harus menganggur, padahal udah ada tanggungan. Banyak yang nanya, kenapa ga dapetin kerja dulu baru resign? Dapetin belum, tapi sebelumnya gue udah coba beberapa kali interview, hasilnya masih nihil. Jadi, atas dasar obrolan bareng istri, gue akhirnya resign dulu, sebelum dapet kerja kantoran rencananya gue mau jadi ojek online.

Kenapa gue resign padahal belum dapet kerjaan baru? Singkat cerita, gue resign karena alasan prinsip. Sedikit ceritanya gue ceritakan di tulisan ini: Resign Dari Perbankan dan ini: Farewel, Comrades. Mungkin, kalian harus baca juga dua artikel itu, biar bisa tau alasan gue resign. Hehe. Gue ga minta dipahami, itu alasan gue pribadi, kok. Setelah gue resign, syukur, gue dan istri dengan tabungan seadanya, kurang lebih dua juta ketika itu, ngerasa tenang dan aman aja deg-degan lah pastinya apalagi gue udah diamanati satu orang anak, yang mana dia perlu popok dan kelengkapan lainnya. Dua juta dan harus menghidupi dua orang. Cuma ya gue lanjut berdoa sambil apply banyak posisi.

Dua juta tanpa ada pemasukan tambahan pastinya berkurang juga, dong. Nah, pada prosesnya, dari segi keuangan gue diback-up sama orang tua gue dan mertua. Syukur, pada waktu itu gue didukung secara moril dan materi, jadi gue ga drop banget mentalnya. Paling, ya, Bokap gue aja yg agak cemas, seringkali nanya, udah ada panggilan (kerja) belum. Antara cemas dan perhatian. Dari tatapan Bokap ketika itu dia juga mungkin ngerasa kasian sama gue yang belum dapet kerja, sedangkan gue ada tanggungan. Gue ga menyesali sama sekali, karena ini semua pilihan yang udah didiskusikan bareng istri.

Ketika nganggur, gue pernah coba lamar jadi ojek online, entah memang karena belum rezeki, dalam prosesnya gue ngerasa dipersulit. Waktu lamar ke ojek online buatan anak bangsa, antriannya rame banget dan lagi gue ternyata dapet notifikasi palsu, jadi ga bisa diproses sampai ada notifikasi resmi. Daftar ke ojek online buatan negeri tetangga, karena diharuskan buat rekening salah satu bank terlebih dahulu, mau ga mau gue urus ke bank dulu, tapi di awal gue udah digalakin satpamnya, dia bilang, "kalau buat urus rekening jadi driver ojek online, pendaftaran udah tutup, besok lagi aja!". "Ya ampun, lagi usaha cari kerja gini amat", dumel gue. Gue sempat pasrah, down juga, kepikiran gimana nasibnya Nazliah dan Tobio, makan apa, bayar kebutuhan di rumah gimana. Ya, gue terus berdoa.

Sewaktu gue nganggur, Nyokap gue yang berprofesi sebagai guru SD kebetulan lagi libur semester, selama Nyokap libur, beliau selalu ngajak gue, Nazliah, dan Tobio jalan-jalan. Suatu waktu, kami jalan bareng ke salah satu mall ternama di kota Tangerang, niatnya memang jalan-jalan biasa, pastinya sih, kami ditraktir Nyokap. Hehe. Kami jalan-jalan di awal bulan Juli 2018, gue inget banget, di hari Selasa. Di jalan berangkat menuju Tangerang, di grup temen-temen kampus Nazliah ada info, di salah satu kantor temannya lagi butuh posisi untuk Rekruter, posisi yang memang gue mau banget, gue impikan dalam bekerja. Nazliah nanya ke temennya di chat personal, "boleh, nih, lowongannya, suami gue lagi butuh kerja dan bisa gabung secepatnya, boleh coba? Alamat kantornya di mana?" selama main di mall itu, chatnya belum berbalas, gue hopeless juga, sih, gue sempet mikir, "ya udah, kalau belum ada info lagi, mungkin belum rezeki". Akhirnya kami pulang menuju Bogor, tiba di rumah sekitar jam 21.30, gue langsung cuci piring dan leyeh-leyeh, istirahat. Ga lama kemudian, Nazliah dapet balesan dari temennya, "boleh, kalau mau coba, langsung datang aja besok, alamatnya di ..............", gue langsung ditantang sama Nazliah, "itu, kamu bisa langsung datang aja besok, gimana?" respon gue saat itu, "yakin besok banget? Aku capek, mau istirahat dulu besok, lagian kita belum nyiapin dokumen apa pun, loh, aku juga rasanya belum siap", Nazliah langsung negur gue, "ya udah, coba dulu aja, kesempatan belum tentu datang dua kali, nothing to lose aja sambil bismillah". Jujur aja, nyali gue tiba-tiba ciut, turun drastis, gue langsung ga yakin bisa atau engga. Akhirnya gue meng-iya-kan, Nazliah bantu gue beres-beres dokumen dan kemeja apa yang akan dipakai besoknya untuk interview. Gue langsung mandi, ke kamar, lalu making love  diskusi soal apa yang harus gue persiapkan besok, kira-kira pertanyaan apa aja yang gue dapat. Kami beres diskusi sekitar jam 12 malam, sebelum tidur gue genggam tangannya Nazliah, liat dia sekaligus Tobio, berharap emang rezeki gue.

Gue bangun jam 5 subuh, bersiap, akhirnya naik kereta keberangkatan 6.20 dari stasiun bogor, tiba di alamat perusahaan yang dituju tepat jam 08.30, gue langsung isi form aplikasi dan bersiap interview kerja pertama setelah resign..

Gue mau mengutip salah satu quote yang gue suka ketika gue lagi ngerasa ragu, takut, atau down secara mental, "What are you afraid of?" -Rukawa Kaeda.

Catatan Seorang Perekrut #17 Recruiter yang Insecure dengan Perjalanan Karirnya

Jumat, 14 Juli 2017. Hari yang nggak akan pernah saya lupakan dalam perjalanan karir yang, usianya masih seumur jagung ini. Hari di mana akh...