Showing posts with label resign. Show all posts
Showing posts with label resign. Show all posts

Monday, 18 February 2019

Catatan Seorang Perekrut - Masa Peralihan. #4

01 Juli 2017, gue resmi jobless alias jadi pengangguran setelah 2 tahun 10 bulan bekerja. Campur aduk rasanya ketika harus menganggur, padahal udah ada tanggungan. Banyak yang nanya, kenapa ga dapetin kerja dulu baru resign? Dapetin belum, tapi sebelumnya gue udah coba beberapa kali interview, hasilnya masih nihil. Jadi, atas dasar obrolan bareng istri, gue akhirnya resign dulu, sebelum dapet kerja kantoran rencananya gue mau jadi ojek online.

Kenapa gue resign padahal belum dapet kerjaan baru? Singkat cerita, gue resign karena alasan prinsip. Sedikit ceritanya gue ceritakan di tulisan ini: Resign Dari Perbankan dan ini: Farewel, Comrades. Mungkin, kalian harus baca juga dua artikel itu, biar bisa tau alasan gue resign. Hehe. Gue ga minta dipahami, itu alasan gue pribadi, kok. Setelah gue resign, syukur, gue dan istri dengan tabungan seadanya, kurang lebih dua juta ketika itu, ngerasa tenang dan aman aja deg-degan lah pastinya apalagi gue udah diamanati satu orang anak, yang mana dia perlu popok dan kelengkapan lainnya. Dua juta dan harus menghidupi dua orang. Cuma ya gue lanjut berdoa sambil apply banyak posisi.

Dua juta tanpa ada pemasukan tambahan pastinya berkurang juga, dong. Nah, pada prosesnya, dari segi keuangan gue diback-up sama orang tua gue dan mertua. Syukur, pada waktu itu gue didukung secara moril dan materi, jadi gue ga drop banget mentalnya. Paling, ya, Bokap gue aja yg agak cemas, seringkali nanya, udah ada panggilan (kerja) belum. Antara cemas dan perhatian. Dari tatapan Bokap ketika itu dia juga mungkin ngerasa kasian sama gue yang belum dapet kerja, sedangkan gue ada tanggungan. Gue ga menyesali sama sekali, karena ini semua pilihan yang udah didiskusikan bareng istri.

Ketika nganggur, gue pernah coba lamar jadi ojek online, entah memang karena belum rezeki, dalam prosesnya gue ngerasa dipersulit. Waktu lamar ke ojek online buatan anak bangsa, antriannya rame banget dan lagi gue ternyata dapet notifikasi palsu, jadi ga bisa diproses sampai ada notifikasi resmi. Daftar ke ojek online buatan negeri tetangga, karena diharuskan buat rekening salah satu bank terlebih dahulu, mau ga mau gue urus ke bank dulu, tapi di awal gue udah digalakin satpamnya, dia bilang, "kalau buat urus rekening jadi driver ojek online, pendaftaran udah tutup, besok lagi aja!". "Ya ampun, lagi usaha cari kerja gini amat", dumel gue. Gue sempat pasrah, down juga, kepikiran gimana nasibnya Nazliah dan Tobio, makan apa, bayar kebutuhan di rumah gimana. Ya, gue terus berdoa.

Sewaktu gue nganggur, Nyokap gue yang berprofesi sebagai guru SD kebetulan lagi libur semester, selama Nyokap libur, beliau selalu ngajak gue, Nazliah, dan Tobio jalan-jalan. Suatu waktu, kami jalan bareng ke salah satu mall ternama di kota Tangerang, niatnya memang jalan-jalan biasa, pastinya sih, kami ditraktir Nyokap. Hehe. Kami jalan-jalan di awal bulan Juli 2018, gue inget banget, di hari Selasa. Di jalan berangkat menuju Tangerang, di grup temen-temen kampus Nazliah ada info, di salah satu kantor temannya lagi butuh posisi untuk Rekruter, posisi yang memang gue mau banget, gue impikan dalam bekerja. Nazliah nanya ke temennya di chat personal, "boleh, nih, lowongannya, suami gue lagi butuh kerja dan bisa gabung secepatnya, boleh coba? Alamat kantornya di mana?" selama main di mall itu, chatnya belum berbalas, gue hopeless juga, sih, gue sempet mikir, "ya udah, kalau belum ada info lagi, mungkin belum rezeki". Akhirnya kami pulang menuju Bogor, tiba di rumah sekitar jam 21.30, gue langsung cuci piring dan leyeh-leyeh, istirahat. Ga lama kemudian, Nazliah dapet balesan dari temennya, "boleh, kalau mau coba, langsung datang aja besok, alamatnya di ..............", gue langsung ditantang sama Nazliah, "itu, kamu bisa langsung datang aja besok, gimana?" respon gue saat itu, "yakin besok banget? Aku capek, mau istirahat dulu besok, lagian kita belum nyiapin dokumen apa pun, loh, aku juga rasanya belum siap", Nazliah langsung negur gue, "ya udah, coba dulu aja, kesempatan belum tentu datang dua kali, nothing to lose aja sambil bismillah". Jujur aja, nyali gue tiba-tiba ciut, turun drastis, gue langsung ga yakin bisa atau engga. Akhirnya gue meng-iya-kan, Nazliah bantu gue beres-beres dokumen dan kemeja apa yang akan dipakai besoknya untuk interview. Gue langsung mandi, ke kamar, lalu making love  diskusi soal apa yang harus gue persiapkan besok, kira-kira pertanyaan apa aja yang gue dapat. Kami beres diskusi sekitar jam 12 malam, sebelum tidur gue genggam tangannya Nazliah, liat dia sekaligus Tobio, berharap emang rezeki gue.

Gue bangun jam 5 subuh, bersiap, akhirnya naik kereta keberangkatan 6.20 dari stasiun bogor, tiba di alamat perusahaan yang dituju tepat jam 08.30, gue langsung isi form aplikasi dan bersiap interview kerja pertama setelah resign..

Gue mau mengutip salah satu quote yang gue suka ketika gue lagi ngerasa ragu, takut, atau down secara mental, "What are you afraid of?" -Rukawa Kaeda.

Wednesday, 13 February 2019

Catatan Seorang Perekrut - Bertolak Belakang. #3

Dari pengalaman kerja di bank selama 34 bulan, gue jadi paham soal hiruk-pikuknya bekerja. Mulai dari karakter nasabah, pekerjaan yang numpuk, awal dan akhir bulan yang selalu ramai, belum lagi jaringan/sistem offline. Berikut beberapa rangkuman pengalaman gue dari awal-akhirnya resign.

Pertama, adaptasi gue kerja di bank cukup lama, butuh waktu tiga bulan, sampai akhirnya gue tau alurnya, kalau ada case harus lapor ke mana, cek ke mana, kendalanya di mana. Kalau ada retur transaksi harus gimana. Soal kliring warkat debet, ini gue harus belajar sekitar dua minggu dan terus didampingi. Prosesnya sederhana sebetulnya, tapi ada batas waktu untuk submit ke kantor pusat. Itu yang bikin deg-degan. Apalagi kalau udah ketemu Letter of Credit atau SKBDN, muka gue udah ga ngenakin, pikiran juga ke mana-mana. Ribet buat gue.

Kedua, soal nasabah. Namanya interaksi sama banyak orang, khususnya di dunia pelayanan, kita dituntut untuk bisa menyesuaikan ketika berkomunikasi dengan mereka. Entah melalui telfon atau tatap muka. Di dunia pelayanan, ada yang beranggapan sebenar apa pun kita sebagai "pelayan" mereka, kalau nasabah lagi kesal, ya kita kena marah juga. Hehe. Satu yang pasti, -maaf sebelumnya, mungkin gue salah- gue tidak pernah menganggap nasabah/pelanggan itu adalah raja, buat gue pribadi, ga semua raja itu baik dan bijaksana. Gue tetap melayani dengan baik, tapi tidak sampai berlebihan menganggap mereka raja.

Ketiga, soal rekan kerja. Pertama kali gue datang ke ruangan kerja, pastinya gue deg-degan. Lingkungan kerja baru, suasana baru, teman baru, tanggung jawab baru. Bunda (supervisor yang gue ceritakan di bagian sebelumnya) yang "membuka tangannya" untuk gue pertama kali. Gue nanya ke beliau, apa aja yang akan jadi tanggung jawab gue. Gue inget di minggu pertama gue kerja, gue salah input transaksi transferan dalam negeri, gue yang belum ngerti apa-apa ngerasa bersalah banget ketika itu, tapi kesalahan memang harus terjadi biar gue bisa berbenah diri dari kesalahan yang dibuat. Mas Iweng sebagai senior yang pemahamannya luas banget soal perbankan, banyak tahu soal transaksi, gue belajar banyak dari beliau. Ada satu kalimat dari Mas Iweng yang gue inget banget dan nempel di kepala sampai dengan saat ini (no offense, Mas Iweng, hanya sekadar mengingat kejadian. Hehe), "lu ga akan ada di sini bareng kita, kalau Sinta (rekan kerja terdahulu) ga pindah posisi". Waktu itu gue bingung dan mikir, "Loh? Ya mau gimana, ini kan rezeki gue, gue pun masuk ke sini usaha sendiri, ga pakai orang dalem". Kejadian itu membekas hingga sekarang. Bu Tini, senior yang biasa handle transaksi luar negeri dan penggajian instansi pemerintah pun swasta. Bu Tini ini kalau awal dan akhir bulan ga boleh diganggu, karena lagi sibuk-sibuknya ngurusin gajiannya orang lain. Mas Iweng biasanya selalu ngingetin sambil berbisik, "jangan ganggu lu, tar dimarahin". Kalau inget itu, lucu aja, kami jadi ga banyak tingkah di ruangan. Hehe. Ada juga si kliring man, Deri. Dia tiap habis proses kliring, balik dari lembaga kliring, keluhannya hampir selalu sama, "ih, cemilan di kantor abis mulu kalau gue udah balik, ga disisain apa". Kocak, dia selalu keabisan cemilan dan biasanya kami ga inget buat nyisain.

Bagian ketiga sub A, mengenai pergantian rekan kerja. Deri yang pertama kali meninggalkan kursinya, karena pindah bagian menjadi marketing mikro. Masuk Juliano menggantikan Deri. Keliatan banget di awal Ano ga menguasai kliring, wajar, namanya juga pengalaman pertama. Dia sering dicengin karena cukup lama proses untuk mengerti apa yang dikerjakan, sampai akhirnya dia bilang, "awas lu semua, ya, gue buktiin setahun ke depan gue udah lebih jago dari kalian", bener aja, dia menguasai betul proses kliring warkat debet. Bunda di mutasi ke unit kerja lain, digantikan oleh Mba Apriyani. Orangnya banyak bercanda, sedikit serius. Sebagai supervisor, menurut gue kharismanya ga ada, mungkin karena kebanyakan bercanda (haha, peace, Mba!), yang pasti pintar. Kalau gue palak buat jajan, selalu ngasih, sama kayak Bunda yang selalu kasih tambahan kalau kami mau jajan. Hehe. Terakhir, Mas Iweng akhirnya resign karena prinsip. Sedih rasanya, kehilangan Bunda dan Mas Iweng dalam waktu yang berdekatan, Bu Tini sampai nangis, tapi itu harus terjadi. Lalu masuk Mba Lely yang tanpa disangka sangat gemar jajan, sehingga kalau dia jajan, otomatis kami kebagian. Salah satu orang yang mudah "dipalak" untuk tambahan jajan. Hehe.

Keempat, bagian gue yang resign. Sebetulnya gue sudah merencanakan ini dari awal bekerja, dalam dua sampai tiga tahun, gue harus kembali ke "area" yang memang gue senangi, jadi rekrutmen atau staff HRD. Gue mengajukan resign di bulan Mei 2017, notice satu bulan, efektif tidak bekerja 1 Juli 2017. Setelahnya gue menganggur selama kurang lebih dua minggu. Dalam keadaan sisa uang di rekening dua juta, sudah memiliki seorang anak dan seorang istri (lah, iya, istri satu aja, dong), ditambah belum bekerja kembali. Pusing? Pasti, dong! Tapi tetap harus dijalani dan dihadapi.

Setelah gue resign, kehidupan dan lembar baru dimulai. Mulai pusing, mulai deg-degan belum dapet kerja, mulai panik istri dan anak makan apa. Haha.

Kejadian ini menjadi tolak balik gue sampai akhirnya mendapatkan pekerjaan yang gue inginkan. Ini akhir dari pengalaman kerja pertama, namun awal dari sebuah perjalanan karir yang baru. Terakhir, sekaligus akan berhadapan kembali dengan pengalaman kerja yang pertama. Bertolak belakang.

Perlu diingat, kantor itu bukan tempat yang tepat untuk mencari kenangan, mungkin ada beberapa kejadian yang bisa dikenang, namun akan lebih tepat jika kantor dijadikan tempat menemukan pengalaman.

Lalu, tiba-tiba gue inget quote dari Steven Gerrard sebelum dia meninggalkan Liverpool, klub yg dia bela selama kurang lebih 17 tahun, "it's hard to move on, but you do, you have to".

Catatan Seorang Perekrut #17 Recruiter yang Insecure dengan Perjalanan Karirnya

Jumat, 14 Juli 2017. Hari yang nggak akan pernah saya lupakan dalam perjalanan karir yang, usianya masih seumur jagung ini. Hari di mana akh...