Showing posts with label Pengangguran. Show all posts
Showing posts with label Pengangguran. Show all posts

Monday, 4 March 2019

Catatan Seorang Perekrut - Kabar Baik. #6

Setelah melakukan proses wawancara pertama setelah resmi menjadi pengangguran, gue langsung pulang ke rumah, untuk menemui istri dan Tobio -anak gue- yang ketika itu masih berusia tiga bulan. Gue pulang tanpa beban walaupun dalam kondisi pasrah, lebih tepatnya memasrahkan diri. Seperti biasa, setelah dari luar, apalagi terkena asap/polusi, gue pasti langsung mandi, karena gue ga mau Tobio terjangkit virus atau penyakit apa pun yang berasal dari luar, yang menempel di badan gue. Selesai mandi, gue ngobrol banyak sama Nazliah soal gimana proses wawancara yang udah dilakukan, sambil buka situs pencari kerja, ya mau gimana pun gue masih pengangguran dan gue harus segera memasukan lamaran pekerjaan lagi, kan, biar peluang dapat panggilan wawancara lebih besar.

Selama gue liburan menganggur, gue selalu bantu istri gue beres-beres di rumah, nyapu, cuci baju, cuci piring, dan lain sebagainya. Paling engga, walaupun belum bisa memberi kembali nafkah, gue bisa berguna di rumah, meringankan pekerjaan di rumah. Kondisi dan suasana di rumah bisa dibilang baik, karena kami sama-sama menciptakan itu, kami masih bisa bercanda sama seperti sewaktu pacaran dulu, perlu diingat, tabungan kami terakhir gue resign itu sekitar dua juta, makin dihadapkan dengan pergantian waktu, pastinya makin berkurang sisa tabungannya. Sesekali kami kepikiran juga, sih, popok dan uang makan gimana. Haha.

Yang gue pikirkan dari awal gue jadi pengangguran pada 1 Juli 2017, harapannya adalah sebelum tanggal ulang tahun gue -20 Juli- udah kembali bekerja. Paling engga, hal itu bisa jadi kado buat diri gue sendiri. Udah hampir seminggu ga ada kabar perihal proses wawancara yang gue ikuti, sampai akhirnya tanggal 13 Juli 2017, istri gue diberi info oleh tempat gue melakukan proses wawancara terakhir, gue lolos semua tahapan dan diundang tanda tangan kontrak besoknya, 14 Juli 2017. Gue antara bingung dan ga percaya, "loh? Ini gue yang diterima? Senior gue gimana ceritanya itu? Kan mereka punya pengalaman, gue hitungannya masih lulusan baru untuk posisi ini", Dasar emang gue lupa bersyukur, bukannya ucap Alhamdulillah lebih dulu baru bertanya-tanya, ini malah sebaliknya. Lalu kenapa kantor ngasih infonya malah ke istri gue? Karena nomor telfon gue sulit dikontak dan gue mencantumkan nomor istri gue sebagai emergency contact.

Rezeki memang ga pernah tertukar apalagi salah alamat, ada porsinya masing-masing. Tanpa rasa jumawa, gue justru masih keheranan, kenapa bisa gue yang diterima, sampai istri gue negur, "kamu bukannya bersyukur malah nanya terus, kalau memang ternyata kamu lebih baik, mau gimana lagi?". Setelah dengar kabar baik itu, gue langsung kasih info ke orang tua juga mertua. Kami semua ucap "Alhamdulillah" di grup keluarga. "Tuh, kesempatan belum tentu datang dua kali, kan? Coba kamu kemaren ga dengerin aku (coba ikut wawancara walaupun infonya dadakan) entah deh mungkin kita masih pusing sekarang. Mulut istri tuh 'asin' (apa yang dibilang bisa jadi kenyataan)", ucap Nazliah saat itu. Denger hal itu, gue malah keingetan tahu bulat soal kata dadakan.

Gue tanda tangan kontrak di 14 Juli 2017 dan akan langsung efektif training di tanggal yang sama. Siap ga siap, percaya atau engga, gue akan memulai perjalanan karir yang baru di posisi HRD, lebih spesifik lagi, bagian Rekrutmen. Mungkin ini yang dibilang mimpi dan target yang jadi kenyataan. Akhirnya, gue bisa kembali ke ruang lingkup psikologi setelah hampir tiga tahun bekerja di luar area disiplin ilmu yang gue pelajari. Setelah dipikir-pikir, kalau di awal gue buat mindset gue harus balik ke area psikologi setelah dua tahun bekerja di perbankan, mungkin gue akan kembali ke area psikologi lebih cepat. Bisa jadi, ga ada yang tahu. Perlu disyukuri, gue comeback di waktu yang tepat.

Gue amat sangat excited menyambut pengalaman baru gue ini, di profesi yang amat sangat gue idamkan dalam bekerja. Let's do this.

Everything is possible for those who believe. -Liverpool fans.

Monday, 18 February 2019

Catatan Seorang Perekrut - Masa Peralihan. #4

01 Juli 2017, gue resmi jobless alias jadi pengangguran setelah 2 tahun 10 bulan bekerja. Campur aduk rasanya ketika harus menganggur, padahal udah ada tanggungan. Banyak yang nanya, kenapa ga dapetin kerja dulu baru resign? Dapetin belum, tapi sebelumnya gue udah coba beberapa kali interview, hasilnya masih nihil. Jadi, atas dasar obrolan bareng istri, gue akhirnya resign dulu, sebelum dapet kerja kantoran rencananya gue mau jadi ojek online.

Kenapa gue resign padahal belum dapet kerjaan baru? Singkat cerita, gue resign karena alasan prinsip. Sedikit ceritanya gue ceritakan di tulisan ini: Resign Dari Perbankan dan ini: Farewel, Comrades. Mungkin, kalian harus baca juga dua artikel itu, biar bisa tau alasan gue resign. Hehe. Gue ga minta dipahami, itu alasan gue pribadi, kok. Setelah gue resign, syukur, gue dan istri dengan tabungan seadanya, kurang lebih dua juta ketika itu, ngerasa tenang dan aman aja deg-degan lah pastinya apalagi gue udah diamanati satu orang anak, yang mana dia perlu popok dan kelengkapan lainnya. Dua juta dan harus menghidupi dua orang. Cuma ya gue lanjut berdoa sambil apply banyak posisi.

Dua juta tanpa ada pemasukan tambahan pastinya berkurang juga, dong. Nah, pada prosesnya, dari segi keuangan gue diback-up sama orang tua gue dan mertua. Syukur, pada waktu itu gue didukung secara moril dan materi, jadi gue ga drop banget mentalnya. Paling, ya, Bokap gue aja yg agak cemas, seringkali nanya, udah ada panggilan (kerja) belum. Antara cemas dan perhatian. Dari tatapan Bokap ketika itu dia juga mungkin ngerasa kasian sama gue yang belum dapet kerja, sedangkan gue ada tanggungan. Gue ga menyesali sama sekali, karena ini semua pilihan yang udah didiskusikan bareng istri.

Ketika nganggur, gue pernah coba lamar jadi ojek online, entah memang karena belum rezeki, dalam prosesnya gue ngerasa dipersulit. Waktu lamar ke ojek online buatan anak bangsa, antriannya rame banget dan lagi gue ternyata dapet notifikasi palsu, jadi ga bisa diproses sampai ada notifikasi resmi. Daftar ke ojek online buatan negeri tetangga, karena diharuskan buat rekening salah satu bank terlebih dahulu, mau ga mau gue urus ke bank dulu, tapi di awal gue udah digalakin satpamnya, dia bilang, "kalau buat urus rekening jadi driver ojek online, pendaftaran udah tutup, besok lagi aja!". "Ya ampun, lagi usaha cari kerja gini amat", dumel gue. Gue sempat pasrah, down juga, kepikiran gimana nasibnya Nazliah dan Tobio, makan apa, bayar kebutuhan di rumah gimana. Ya, gue terus berdoa.

Sewaktu gue nganggur, Nyokap gue yang berprofesi sebagai guru SD kebetulan lagi libur semester, selama Nyokap libur, beliau selalu ngajak gue, Nazliah, dan Tobio jalan-jalan. Suatu waktu, kami jalan bareng ke salah satu mall ternama di kota Tangerang, niatnya memang jalan-jalan biasa, pastinya sih, kami ditraktir Nyokap. Hehe. Kami jalan-jalan di awal bulan Juli 2018, gue inget banget, di hari Selasa. Di jalan berangkat menuju Tangerang, di grup temen-temen kampus Nazliah ada info, di salah satu kantor temannya lagi butuh posisi untuk Rekruter, posisi yang memang gue mau banget, gue impikan dalam bekerja. Nazliah nanya ke temennya di chat personal, "boleh, nih, lowongannya, suami gue lagi butuh kerja dan bisa gabung secepatnya, boleh coba? Alamat kantornya di mana?" selama main di mall itu, chatnya belum berbalas, gue hopeless juga, sih, gue sempet mikir, "ya udah, kalau belum ada info lagi, mungkin belum rezeki". Akhirnya kami pulang menuju Bogor, tiba di rumah sekitar jam 21.30, gue langsung cuci piring dan leyeh-leyeh, istirahat. Ga lama kemudian, Nazliah dapet balesan dari temennya, "boleh, kalau mau coba, langsung datang aja besok, alamatnya di ..............", gue langsung ditantang sama Nazliah, "itu, kamu bisa langsung datang aja besok, gimana?" respon gue saat itu, "yakin besok banget? Aku capek, mau istirahat dulu besok, lagian kita belum nyiapin dokumen apa pun, loh, aku juga rasanya belum siap", Nazliah langsung negur gue, "ya udah, coba dulu aja, kesempatan belum tentu datang dua kali, nothing to lose aja sambil bismillah". Jujur aja, nyali gue tiba-tiba ciut, turun drastis, gue langsung ga yakin bisa atau engga. Akhirnya gue meng-iya-kan, Nazliah bantu gue beres-beres dokumen dan kemeja apa yang akan dipakai besoknya untuk interview. Gue langsung mandi, ke kamar, lalu making love  diskusi soal apa yang harus gue persiapkan besok, kira-kira pertanyaan apa aja yang gue dapat. Kami beres diskusi sekitar jam 12 malam, sebelum tidur gue genggam tangannya Nazliah, liat dia sekaligus Tobio, berharap emang rezeki gue.

Gue bangun jam 5 subuh, bersiap, akhirnya naik kereta keberangkatan 6.20 dari stasiun bogor, tiba di alamat perusahaan yang dituju tepat jam 08.30, gue langsung isi form aplikasi dan bersiap interview kerja pertama setelah resign..

Gue mau mengutip salah satu quote yang gue suka ketika gue lagi ngerasa ragu, takut, atau down secara mental, "What are you afraid of?" -Rukawa Kaeda.

Catatan Seorang Perekrut #17 Recruiter yang Insecure dengan Perjalanan Karirnya

Jumat, 14 Juli 2017. Hari yang nggak akan pernah saya lupakan dalam perjalanan karir yang, usianya masih seumur jagung ini. Hari di mana akh...